Kumparan Logo
Konten Media Partner

Danau Bersejarah dan Sumber Pangan di Halteng Terancam Akibat Aktivitas Tambang

Cermatverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Danau Yonelo, Halmahera Tengah, yang tampak keruh kecoklatan. Foto: Yoesril/facebook
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Danau Yonelo, Halmahera Tengah, yang tampak keruh kecoklatan. Foto: Yoesril/facebook

Danau Yonelo atau Talaga Legaye Lol yang terletak di sebelah barat perkampungan Sagea, Kecamatan Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Minggu (6/6) ini tampak keruh kecoklatan. Tak seperti warna biasanya yang jernih.

Perubahan warna itu diduga akibat aktivitas perusahaan tambang yang aktif mengeruk bukit di sekitar danau.

Dilansir dari data Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara, perusahaan yang beroperasi di sekitar danau tersebut adalah PT Zhong Hai Rare Metal Mining dan PT First Pasific Mining Indonesia.

PT Zhong Hai Rare Metal Mining mengantongi dua izin pertambangan berstatus operasi produksi, dengan cakupan wilayah seluas 688 hektare dan 118 hektare, yang beroperasi hingga 2029.

Sedangkan PT Firsti Pasific Mining Indonesia mengantongi izin dengan cakupan wilayah seluas 2.080 hektare dengan masa operasi hingga 2023.

Kepala Biro Bidang Informasi dan Komunikasi AMAN Malut, Supriyadi Sudirman, mengatakan selain destinasi, Danau Yonelo juga merupakan sumber cadangan pangan bagi orang Sagea.

“Danau ini masuk wilayah perkampungan Sagea dan Kiya,” ucap Supriyadi.

Ia bilang, ketika musim selatan, warga tidak bisa melaut. Saat itu, warga lebih memilih mencari kerang, ikan dan kepiting bakau di danau tersebut.

Di tengah danau, terdapat sebuah pulau kecil bernama Yefi, yang menambah keunikan danau tersebut.

Selain itu, terdapat tumbuhan bakau yang terbentang mengelilingi danau. Termasuk pohon Sagu yang tumbuh di bibir danau.

“Biasanya, ketika pohon sagu sedang berbunga, pengunjung danau akan mendengar suara Burung Nuri yang sedang mencari makan, mencicipi bunga pohon sagu menjelang pagi dan sore,” ujarnya.

Pepohonan yang tumbuh lebat di kaki bukit Legaye Lol ini menyimpan banyak satwa burung yang dilindungi, di antaranya Paru Bengkok, Kapasan Halmahera (Lala Geaurea), Kacamata Halmahera (Zosterop Satriceps).

Kemudian Cekakak Biru – Putih (Todir Hampusdiops), Gagak Halmahera (Corvusvalidus), Rangkong atau burung taon-taon, Bidadari Halmahera serta beragam jenis burung endemik lainnya.

Selain destinasi wisata dan sumber pangan, kawasan danau juga menyimpan jejak historis.

“Menurut cerita orang Sagea, di lokasi danau ada makam keturunan Kesultanan Jailolo,” katanya.

Dalam buku Kepulauan Rempah – Rempah (Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250 – 1950) karya M. Adnan Amal, yang dimaksud keturunan Jailolo adalah Muhammad Arif Billah yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan Muhammad Taher.

“Tapi sekarang danau dalam posisi terancam,” tandas Supriyadi.

Sekretaris Komisi III DPRD Halteng, Munadi Kilkoda, meminta agar aktivitas PT First Pasific Mining Indonesia, segera dihentikan. Karena pemuatan ore nikel diduga telah mencemari danau tersebut.

“Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap pelanggaran lingkungan," kata Ketua Fraksi NasDem DPRD Halteng ini.

Munadi menjelaskan, penyebab sendimentasi karena terjadi pasang di pesisir pantai Bobane Jailolo, hingga membawa material tanah masuk ke danau.

“Itu berarti sendimentasi di pesisir pantai terjadi dalam jumlah besar. Skalanya pasti sangat luas, sampai sebagian terbawa oleh air laut ke danau,” ujarnya.

Dengan demikian, sendimentasi telah menganggu ekosistem laut dan danau. Ini akan berdampak pada aktivitas sosial-ekonomi masyarakat Sagea-Kiya.

“Terutama nelayan yang biasa melaut atau menjaring ikan di kawasan tersebut,” ucapnya.

Munadi pun meminta pemerintah daerah, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk segera mengambil langkah.

“Jangan diam. Segera ke lapangan dan cek pelanggaran yang dilakukan pihak perusahaan," jelasnya.

Terpisah, Kepala DLH Pemkab Halteng, Syamsul Bahri Ismail, mengaku pada Senin (7/9), pihaknya akan menggelar rapat pembentukan tim untuk turun ke lokasi.

Syamsul mengaku sudah berupaya mengonfirmasi pihak PT First Pasific Mining Indonesia melalui telepon.

“Tapi nomor mereka tidak aktif,” kata Syamsul Bahri.

Syamsul sendiri mengakui, bahwa ada indikasi pencemaran yang terjadi di Danau Yonelo.

“Tapi harus diukur radius dari indikasi pencemaran tersebut. Yang paling mungkin itu akibat dari aktivitas PT FPM (PT First Pasific Mining Indonesia). Tapi ini masih indikasi ya,” pungkasnya.

___

Risno Hamisi