Dinkes: Cakupan Imunisasi Rutin Menurun di Maluku Utara
·waktu baca 6 menit

Cakupan imunisasi campak rubela pada bayi di Maluku Utara tahun 2018 hingga 2021 tercatat masih di bawah 95 persen dari target program Bulan Imunisasi Anak Nasional tahun (BIAN) 2022.
Dampak dari penurunan cakupan tersebut dapat mengakibatkan terjadi peningkatan jumlah kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) dan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) PD3I seperti campak, rubella, dan difteri di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Maluku Utara (Malut).
Penurunan persentase tersebut juga dipengaruhi dengan adanya pandemi COVID-19 bahkan informasi tidak benar atau hoaks tentang imunisasi.
Hal itu dikemukakan dalam Pertemuan Koordinasi/LP Organisasi Profesi dalam rangka BIAN Maluku Utara di Hotel Savirna, Ternate, Kamis (12/5). Kegiatan ini dilangsungkan hingga Jumat (13/5).
Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara mencatat, cakupan imunisasi campak rubella pada bayi di Maluku Utara sebagai berikut:
Tahun 2018 hanya 76,1 persen
Tahun 2019 hanya 82 persen
Tahun 2020 hanya 71,6 persen
Tahun 2021 hanya 64 persen
Sementara cakupan pada balita/baduta sebagai berikut:
Tahun 2018 hanya 40,8 persen
Tahun 2019 hanya 56,3 persen
Tahun 2020 hanya 46,3 persen
Tahun 2021 hanya 43,1 persen
“Disamping itu, cakupan IDLnya 76,3 persen (tahun 2017), 77,1 persen (2018), 81,0 persen (2019), 68,0 persen (2020), 81,0 persen (2021) dimana terlihat tidak pernah mencapai target sehingga masih perlu strategi-strategi agar bisa menaikkan cakupan serta menjangkau semua sasaran termasuk di antaranya dengan melakukan imunisasi kejar dan pemberian imunisasi tambahan campak rubella. Kegiatan pemberian imunisasi tambahan campak-rubella serta imunisasi kejar bagi balita secara terintegrasi dalam kegiatan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) tahun 2022,” ungkap dr. Idhar Sidi Umar, M Kes, Kepala Dinas Kesehatan Maluku Utara, dalam sambutannya pada Pertemuan Koordinasi/LP Organisasi Profesi dalam rangka BIAN Maluku Utara di Hotel Savirna, Ternate, Kamis (12/5).
Idhar bilang, untuk itu, perlu dilaksanakan imunisasi tambahan campak rubella untuk mencapai Eliminasi tahun 2023. “Selain itu, perlu dilaksanakan imunisasi kejar satu dosis polio suntik (IPV) untuk mempertahankan Indonesia bebas polio dan mencapai eradikasi polio global tahun 2026,” ujarnya.
Memang, katanya, tujuan dari BIAN 2022 ini untuk menghentikan transmisi virus campak dan rubella setempat (indigenous) di semua kabupaten/kota di wilayah Indonesia pada tahun 2023 dan mendapatkan sertifikasi eliminasi Campak dan Rubella/CRS pada tahun 2026 dari SEARO.
Pertemuan koordinasi yang diselenggarakan mulai pada 12 Mei hingga 13 Mei, tersebut dihadiri oleh Kepala Kemenag Maluku Utara (Malut), Ketua PKK Malut, Ketua Aliansi Jurnalis Kota Ternate, Ketua MUI Malut, IDAI Malut, Ketua Gereja Masehi Injil (GMIH) Malut, IBI Malut, Ceo Cermat Partner resmi kumparan, Kepala RRI Ternate, Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota se-Malut, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kab/Kota se-Malut, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab/Kota se-Malut.
Perlu Edukasi dan Staregi Promosi
Dr, Alwia Assagaf, Mkes, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Malut mengatakan, meskipun di era digital ini dipermudah dengan fasilitas, namun perlu adanya edukasi dan strategi promosi kesehatan.
“Tantangan kita sekarang adalah informasi bohong atau hoaks tentang imuninasi," ungkapnya.
Alwia bilang, tidak sedikit di Maluku Utara, bayi yang terkena campak, jika tidak ditangani secara tepat, bisa berujung pada kematian. Jadi, imunisasi adalah langkah tepat.
“Anak yang tidak diimunisasi lengkap tidak memiliki kekebalan sempurna terhadap penyakit-penyakit berbahaya sehingga mudah tertular penyakit, menderta sakit berat, serta menderita cacat, bahkan meninggal dunia. Selain itu, mereka juga dapat menjadi sumber penularan penyakit bagi orang lain,” kata Alwia.
Imunisasi yang diberikan secara lengkap dan sesuai usia memberikan perlindungan individu yang optimal dari penyakit campak, rubella, difteri, pertusis, tetanus, Hepatitis B, dan Polio.
“Apabila cakupan imunisasi lengkap mencapai 95 persen di suatu daerah dan merata hingga tingkat desa/kelurahan, maka akan timbul perlindungan kelompok (herd immunity) yang bermanfaat untuk melindungi anak-anak yang memang tidak boleh menerima imunisasi akibat kondisi kesehatannya, dan juga mengurangi penularan penyakit pada kelompok usia dewasa,” ungkapnya.
Data Global
Pada tahun 2000, lebih dari 562.000 anak per tahun meninggal di seluruh dunia karena komplikasi penyakit campak. Campak sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah dan kekebalan kelompok/herd immunity tidak terbentuk.
Laporan kasus penyakit tersebut masih banyak ditemukan di dunia. Pada tahun 2020 ada 93,913 kasus Campak dan 7.420 kasus Rubella. Pada tahun 2018 ada 33 kasus Polio pertahun, 151.000 kasus pertusis, dan diperkirakan 34.000 bayi meninggal akibat Tetanus di tahun 2015. Indonesia termasuk 10 negara yang ikut melaporkan kasus Rubella dan Difteri. Kejadian ini merupakan dampak dari pemberian imunisasi yang tidak lengkap pada anak.
Sebab itu, Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella /Congenital Rubella Syndrome (CRS) tahun 2023.
Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) adalah kegiatan pemberian imunisasi tambahan Campak-Rubella dan pemberian imunisasi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Anak yang tidak lengkap imunisasinya akan lebih rentan terkena penyakit Campak, Rubella, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, dan Polio.
Gejala Campak dan Rubella
Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk, pilek dan mata merah (konjungtivitis). Gejala penyakit Rubella tidak spesifik, bahkan bisa tanpa gejala. Gejala umum mirip gejala flu, berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah dan nyeri persendian. Sindroma Rubella kongenital dapat terjadi pada bayi bila saat ibu hamil usia triwulan pertama terinfeksi virus Rubella.
Gejalanya dapat berupa kelainan jantung, kerusakan jaringan otak, katarak kongenital, dan gangguan pendengaran.
Gejala Difteri
Gejala yang paling khas pada anak yang menderita Difteri biasanya terbentuk lapisan tipis berwarna abu-abu dan menutupi tenggorakan dan amandel penderita. Gejala ini muncul biasanya 2 – 5 hari setelah anak terinfeksi. Anak juga biasanya demam dan susah menelan akibat muncul benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening.
Gejala Tetanus
Bayi baru lahir yang terkena Tetanus, pada saat lahir akan tampak normal, namun mengalami kesulitan menyusu pada usia 3-28 hari, otot-ototnya kaku, dan kejang-kejang. Pada anak dan orang dewasa gejala rahang terkunci (trismus atau lock jaw), merupakan gejala yang umum terjadi. Diikuti oleh kaku pada otot leher, otot perut atau otot punggung, sulit menelan, kejang otot, berkeringat dan panas badan.
Gejala Hepatitis B
Infeksi Hepatitis B akut tidak selamanya bergejala. Apabila menunjukkan gejala, penderita merasa lemah, mual, muntah, nyeri perut serta kuning pada kulit dan sklera mata. Pada penderita Hepatitis B kronis apabila penyakitnya bertambah berat oleh karena terjadi gagal hati, maka gejalanya antara lain perut membesar (asites), perdarahan abnormal dan perubahan status mental.
Gejala Polio
Setelah seseorang terinfeksi virus Polio maka sekitar 25 persen dari mereka akan menunjukkan gejala penyakit ringan seperti demam, nyeri kepala, nyeri tenggorokan. Kelumpuhan terjadi pada 1 persen dari mereka yang terinfeksi. Kematian terjadi sekitar 5-10 persen dari mereka yang lumpuh.
