Kumparan Logo
Konten Media Partner

Diterjang Arus Sungai, Jembatan di Desa Katana Halmahera Utara Ambruk

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi jembatan di Desa Takana, Tobelo Timur, Halmahera Utara, Maluku Utara, ambruk diterjang arus sungai setelah hujan deras mengguyur. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi jembatan di Desa Takana, Tobelo Timur, Halmahera Utara, Maluku Utara, ambruk diterjang arus sungai setelah hujan deras mengguyur. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat

Sebuah jembatan kayu sepanjang 70 meter yang terbentang di atas sungai seluas 5-6 meter di Desa Katana, Tobelo Timur, Halmahera Utara, Maluku Utara, ambruk.

Jembatan tersebut menjadi penghubung warga desa yang berpenduduk sekira 100 KK menuju ke Desa Mawea, Yaro, Leleoto hingga keluar menuju jalan trans Halmahera.

"Jembatan rubuh (ambruk) sekitar pukul 07.00 WIT," ujar Ner Ibuhu, warga Desa Katana kepada cermat, Senin (2/3/2020).

kumparan post embed

Ner bilang, hujan menguyur sejak Minggu malam (1/2) hingga Senin (2/3) dini hari. "Itu mulai dari gerimis hingga deras sekali," katanya.

Menurut dia, jembatan tersebut sempat dibangun oleh Dinas Perikanan Halut era kepemimpinan Hein Namotemo. Namun ambruk akibat banjir, lalu kembali dibangun oleh Basarnas Halut.

"Sekarang rubuh lagi. Memang pagi tadi arus sungai kuat sekali. Batang pohon berukuran besar juga anyor (hanyut)," katanya.

Dengan kondisi tersebut, kata Ner, warga terpaksa memanfaatkan jasa perahu. "Dulu, sebelum ada jembatan, warga menggunakan rakit," katanya.

Sedangkan untuk sekali menyeberang, kata dia, dikenakan tarif sebesar Rp 1.000 rupiah. "Tapi air sungai sudah mulai turun (surut) ini. Biasanya meluap hingga 2-3 meter," katanya.

Camat Tobelo Timur, Celis Dobiki, mengaku bakal segera membangun jembatan darurat, mengingkat banyak pelajar yang bersekolah di Desa Mawea. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat

Ditemui terpisah, Camat Tobelo Timur, Celis Dobiki, mengatakan dalam waktu dekat akan dibangun jembatan darurat.

Mengingat, di desa tersebut terdapat pelajar yang bersekolah di Desa Mawea. "Untuk sementara konstruksinya dari kayu," kata Celis kepada cermat.

Celis juga mengaku sudah menyampaikan persoalan ini ke Dinas PUPR Maluku Utara. Bahkan rekomendasi dari gubernur ke balai jalan dan jembatan.

"Mungkin eksekusinya di tahun 2021. Tapi estimasi anggarannya saya belum tahu berapa," katanya.