Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Tukang Cuci Sepatu Beromzet 11 juta di Ternate

Cermatverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kartini Hasan (Kaos Putih) bersama karyawannya, Ari saat berfoto di depan tempat usaha mereka, Ternate Shoes Cleaner di Kelurahan Soa-Sio Ternate, Maluku Utara. Foto: Rizal Syam/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Kartini Hasan (Kaos Putih) bersama karyawannya, Ari saat berfoto di depan tempat usaha mereka, Ternate Shoes Cleaner di Kelurahan Soa-Sio Ternate, Maluku Utara. Foto: Rizal Syam/cermat

Masih banyak stereotip yang melekat pada masyarakat Maluku Utara, bahwa seorang sarjana harus bekerja di instansi pemerintah. Namun tidak bagi Kartini Hasan. Meski menyandang gelar sarjana, perempuan 26 tahun ini memilih mengembangkan usaha laundry sepatu bersama temannya, Rachmiawaty Pelupessy.

Pada Selasa siang (12/3), cermat bertemu dengan Thiny dan juga Ami –panggilan akrab keduanya. Saat itu mereka berbincang santai soal bisnis laundry sepatu milik mereka yang diberi nama Ternate Shoes Cleaner, beralamat di Soa-sio, Ternate Utara, Lota Ternate, Maluku Utara.

Jika membuka sosial media milik keduanya, terlihat mereka hobi yang serupa, yakni traveling. Hal itu juga terlihat dari ruangan kerja milik mereka. Ada sebuah hammock yang tergantung di sisi kiri ruang tersebut.

Kartini Hasan (Koas Putih) bersama Rachmiawaty Pelupessy saat berbincang mengenai pengembangan bisni mereka. Foto: Rizal Syam/cermat

Saat itu, Thiny terlihat sedikit tomboi memakai celana jeans sobek di bagian lutut dan dengan kaos oblong putih yang bagian belakangnya tertulis brand miliknya,Ternate Shoes Cleaner, ketimbang Ami yang hari itu menggunakan baju hitam.

Usaha Ternate Shoes Cleaner sudah dimulai dua tahun silam. Thiny berkisah, ia memiliki hobi mengoleksi sepatu, oleh karena itu ia mesti tahu bagaimana cara merawatnya.

“Kemudian tercetus ide, kenapa tidak membuat bisnis cuci sepatu saja,” ucap Thiny.

Ia mengaku lahir dari keluarga yang memiliki jiwa bisnis. Ibunya adaah seorang penjual rempah kering. Sedangkan saudaranya juga masing-masing memiliki bisnis sendiri.

Thiny awalnya hanya membuka jasa cuci sepatu tersebut di rumah. Modal awal yang ia keluarkan waktu itu hanya Rp. 148 ribu. “Itu untuk membeli cairan pembersihnya,” bebernya.

Tak ada yang menyangka bahwa ide bisnis itu memiliki banyak peminat. Di satu bulan pertama ia memulai usaha, Thiny berhasil meraup untung sebanyak Rp2 Juta. Melihat peluang itu, ia mulai fokus menggeluti bisnis itu.

Waktu berjalan, namun yang namanya usaha tentu punya titik sulit. Bahwa pengetahuan tentang pengelolaan keuangan serta administrasi menjadi penyebabnya. Di masa sulit itulah kehadiran Ami menjadi begitu penting. Ami yang kala itu tengah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Ternate, datang dan menawarkan bantuan kerja sama.

“Jadi dia punya saham di sini,” kataThiny. Lalu Ami membenarkan.

Ari, karyawan di Ternate Shoes Cleaner saat membersihkan sepatu pelanggan. Foto: Rizal Syam/cermat

Pengalaman Ami yang bekerja sebagai akuntan itu nampaknya bermanfaat bagi kelangsungan usaha tersebut. “Dulu itu tata kelolanya masih berantakan,” ungkap perempuan lulusan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara ini.

Sejak kedatangan Ami itu, perbaikan demi perbaikan dilakukan. Mulai memerhatikan soal pembukuan serta bagaimana mengatur pendapatan. Dulu, setiap penghasilan tak melalui pembukuan. Asal masuk kantong saja.

Sampai saat ini, mereka berdua sudah memperkerjakan dua karyawan tetap dan satu pekerja paruh waktu. Sistem kerja yang mereka berlakukan adalah dengan menghitung per sepatu yang dibersihkan. Untuk satu sepatu mereka memberikan upah sebesar Rp10 ribu.

Ari, seorang pekerja di Ternate Shoes Cleaner yang terkenal lucu itu mengakui dalam sehari ia rata-rata membersihkan 6 pasang sepatu. “Paling banyak pernah 15 pasang sepatu,” katanya.

Menurut Thiny, dalam sebulan pekerjanya bisa memperoleh penghasilan hingga Rp. 1,5 juta lebih. Ada sekitar 30 pasang sepatu yang diterima mereka setiap harinya.

Untuk harga, Thiny memasang tarif sebesar Rp30 ribu sampai Rp35 ribu untuk sepasang sepatu. Dalam hal omzet, Thiny mengatakan bahwa dalam sebulan usahanya itu bisa meraup Rp. 11 Juta.

Antara Keinginan Orang Tua dan Passion

Walau mengaku lahir dari keluarga yang punya bisnis, tetap saja, stigma tentang sarjana mesti menjadi PNS tetap melekat di dalam keluarganya. Orang tua Thiny selalu kepingin ia menjadi seorang abdi negara.

“Kakak-kakak saya itu walau punya bisnis, mereka juga pegawai. Makanya orang tua ingin saya seperti itu.” Katanya.

Sampai saat ini, meskipun dari usaha yang ia kelola ini sudah bisa dibilang stabil, akan tetapi keinginan tersebut tetap ada dari orang tuanya.

Ia bercerita bagaimana bapaknya kebingungan tatkala Thiny tiap kali memberikan uang kepadanya. “Beliau kaget. Mungkin karena berpikir saya tak bekerja, jadi sempat menanyakan asal uang yang saya berikan,” katanya. Orang tuanya baru tahu tentang bisnisnya setelah satu tahun berjalan.

Sekarang ia mengakui hanya ingin fokus pada usaha tersebut. Ia sementara sedang mencari lokasi untuk membuka cabang usaha tersebut.

Thiny sebenarnya bukan anti pada pekerjaan kantoran. Beberapa tahun lalu ia sempat mengirim lamaran di sebuah perusahaan swasta, namun karena syarat yang mewajibkan karyawan untuk berdandan yang notabene akan mengubah penampilan yang tak sesuai dengan pribadinya, maka ia mengurungkan niat bekerja di situ. Lagipula, ia mengaku bahwa ia adalah tipe orang yang tak bisa terikat.

Ia juga pernah menjadi staff di salah satu organisasi, tapi karena tak kuat dengan sistem kerja nine to five maka ia memilih mundur.

Dari Ternate Shoes Cleaner, setidaknya ia tak lagi bergantung pada kedua orang tuanya soal kebutuhan. Sebuah motor bertema retro berhasil dibelinya. Selain itu, dari hasil bisnis tersebut, ia bisa menunaikan hobi traveling sepuasnya.

Sementara Ami, memilih undur diri dari pekerjaan di perusahaan swasta. “Jadi dia iri kenapa saya bisa jalan-jalan. Sedangkan dia terikat pekerjaan,” canda Thiny yang diselingi tawa. Bahkan pernah menurut Ami, ia mesti berbohong kepada atasan demi memuaskan hasrat travelingnya.

Tapi bukan tanpa perjuangan. Menurut Thiny, kerja keras mengiringi kesuksesannya. Ia dulu mesti membangun bisnis ini seorang diri, “Saya membagikan brosur di parkiran Mall, dan mesti melakukan semuanya sendiri,”ucapnya. Namun relasi pergaulan punya manfaat bagi usahanya, dalam segi logo misalnya, Thiny mengakui itu dibuat secara sukarela oleh seorang kawannya.

“Orang selalu melihat hasilnya. Mereka tidak tahu perjuangan di belakang itu,” Katanya. Beberapa kawannya malah ingin menanam modal kepada usaha tersebut, namun Thiny menolak. Menurutnya, sudah cukup dua orang yang memiliki usaha itu.

“Kalau banyak nanti repot,”katanya. “Lagian kenapa mereka tidak bikin sendiri saja. Mereka hanya tidak berani ambil risiko. Ada yang takut nantinya kehilangan pekerjaan. Toh semuanya butuh pengorbanan,” imbuhnya.

Pernah ada seorang pengusaha yang ingin membeli Ternate Shoes Cleaner seharga Rp300 juta. Tapi dengan tegas ia menolaknya. Bukan hanya sebagai sumber penghasilan, bagi Thiny, Ternate Shoes Cleaner adalah bagian dari hidupnya.

Ia berpesan kepada teman-teman sebayanya untuk berani dalam berusaha. “Punya usaha itu keren. Apalagi memulainya dari usia muda. Tapi harus siap dengan proses yang tidak mudah. Yang penting adalah niat dan usaha, serta sabar dalam menjalaninya,”ujarnya.

---

Rizal Syam