Kisah Ulfa Zainal asal Ternate, Mengubah Sampah Menjadi Bisnis

Di saat kebanyakan orang menganggap kardus, kaleng, botol plastik air mineral, hingga biji mangga sebagai sampah, Ulfa Zainal (48) malah mengubah itu semua menjadi barang yang mendatangkan untung jutaan rupiah.
Semua berawal ketika dulu ia masih berprofesi sebagai penjual ikan. Dari situ, jiwa kreatifnya mulai tumbuh. Limbah ekor ikan yang pada umumnya dibuang, malah dibawanya pulang dan dijadikan pajangan di rumah.
Ulfa tinggal di sebuah rumah yang terletak di gang sempit di Kelurahan Tafure, Ternate Utara, Kota Ternate. Saat cermat menyambangi kediamannya, tampak apik susunan pot dari bahan bekas hasil kreativitasnya mewarnai bagian depan rumah.
“Banyak teman memprotes kenapa tidak beli pot yang bagus saja,” katanya sambil menunjuk tumpukan ember bekas yang ia pakai sebagai pot bunga.
Saat itu, Ulfa baru pulang dari kantor BKKBN guna menghadiri rapat ihwal program kemandirian keluarga. Rencananya, ia bakal mewakili Maluku Utara dalam mempromosikan kerajinan lokal. “Tahun lalu di Bandung (acaranya), tahun ini belum tahu,” Katanya.
Ruang depan rumahnya lebih mirip sebuah gallery, di mana tersusun pelbagai macam karya hasil daur ulang sampah. Tampak di atas sebuah etalase, berdiri beberapa hiasan berbentuk bunga dari daun woka bekas. Ada pula deretan asbak yang terbuat dari batok kelapa.
Di sebuah sudut ruangan terdapat wadah menaruh pena yang ia buat dari sampah plastik, dan juga tergantung tas selempang yang ia hasilkan dari modifikasi kardus. Itu adalah sedikit dari sekian banyak karya Ulfa yang terbuat dari limbah.
“Saya biasa ambil (sampah) di Makmur Utama (Salah satu toko bangunan di Ternate), saya kasih Rp 50 ribu ke petugas keamanan lalu bawa pulang tumpukan sampah,” kata Ulfa. Dari modal yang minim itu, ia kemudian berhasil meraup omzet hingga Rp 6 juta dalam sebulan.
Bakatnya tersebut memang tidak muncul dari ruang hampa. Dalam darah perempuan keturunan Ambon ini memang mengalir jiwa kreativitas. Kakeknya adalah perajin yang memanfaatkan barang-barang bekas. Dari kaleng bekas, sang kakek biasa menyulapnya menjadi kompor mainan atau membuat berbagai miniatur.
Selain dari keluarga, ia mengaku terinspirasi dari Tino Sidin, legenda pelukis Indonesia yang kerap muncul di layar TVRI. Hal itu tampak dari lukisan yang ia buat dari serbuk kelapa.
“Itu kalau dilihat sangat terinspirasi oleh karya Pak Tino Sidin,” ujar Ulfa merujuk salah-satu lukisan daur ulang yang terpajang di depan rumahnya.
Atas bakatnya itulah, sejak kecil, ia sudah menjadi pebisnis. Saat masih duduk di sekolah dasar, Ulfa sering membuat bunga atau slenger lantas untuk kemudian dijualnya. Ia bahkan menjadikan kedua orang tuanya sebagai tim promosi sekaligus tim penjualan.
Ulfa mengaku paling tak bisa melihat sampah plastik. Ia pasti akan memungut dan membawanya pulang
Kebiasaannya ini kemudian diprotes oleh kawan-kawannya. Sebab, setiap kali berpergian, selalu saja ia membawa pulang beberapa sampah plastik. “Mereka malu katanya,” tutur Ulfa sambil tertawa.
“Malu itu kalau mencuri,” sambung Ulfa. Hal inilah yang selalu ia tekankan kepada anak-anak yang sering berkumpul di rumahnya. Memang, rumahnya ini selain menjadi pabrik pembuatan kerajinan, juga ada sanggar tari dan fashion. Parada Collection adalah nama komunitas yang ia bentuk pada tahun 2007.
Menanamkan kreativitas adalah hal penting baginya, karena bisa dijadikan peluang berwirausaha. Contohnya, bagaimana mengubah botol air mineral yang dibeli dengan harga Rp 5.000 menjadi produk yang harganya bisa berkali-kali lipat ketika dijual.
Dalam waktu-waktu tertentu, ia biasa mengajak anak didiknya berjalan-jalan di pantai sambil mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang. Kebiasaan tersebut otomatis berdampak pada kebersihan pantai.
Selain itu, setiap kali berakhirnya sebuah acara besar di Ternate yang selalu menghasilkan tumpukan sampah, ia bersama tim akan turun dan mengumpulkan sampah tersebut.
“Kalau habis Legu Gam (festival adat tahunan Kesultanan Kota Ternate), sampah bakal menumpuk di sini,” ujar Ulfa. Legu Gam adalah acara tahunan yang digelar untuk memperingati hari ulang tahun mendiang Sultan Muddafar Syah.
Ia tidak hanya memanfaatkan sampah non-organik sebagai bahan dalam pembuatan produknya. Sampah-sampah organik, seperti biji buah pala hingga biji buah mangga pun diolahnya. Kedua bahan ini biasa ia sulap menjadi gantungan kunci.
Hasil karyanya saat ini ia distribusikan ke tiga tempat di Kota Ternate, yakni di pusat perbelanjaan oleh-oleh Tara No Ate, Hotel Grand Dafam, dan di lingkungan wisata Cengkeh Afo. Selain itu, ia juga menerima order suvenir pernikahan.
Ada cerita menarik, katanya, Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate sampai saat ini masih berutang padanya hingga puluhan juta rupiah. “Dari sampah ini Pemkot berutang ke saya,” ungkapnya.
Tak hanya di Ternate, produk-produknya juga sudah diperjualbelikan di luar negeri. “Sudah ke Belanda, Amerika, Jepang, dan India,” ucap Ibu dari empat anak ini.
Tahun lalu, Ulfa bekerja sama dengan seorang pengusaha asal Singapura untuk menjual karyanya di negeri tetangga tersebut.
Saat kami bertanya soal produk paling mahal yang ia jual, Ulfa menjelaskan bahwa baginya, sesuatu yang dibentuk oleh alam memiliki nilai tersendiri dan berpengaruh pada harganya. Ia menyebutnya seni murni.
Contohnya seperti sebuah potongan batang kayu yang ia temukan di pesisir. Kayu tersebut berbentuk menyerupai anjing, yang kemudian ia bawa pulang dan memberinya sedikit polesan. Dari situ, ia jual dengan harga hingga Rp 3 juta.
Dari tumpukan sampah, Ulfa bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Dari sampah pula, ia berhasil membawa nama Maluku Utara. “Jika dihitung, dibanding berjualan ikan, uang yang dihasilkan sampah lebih banyak,” jelasnya.
Namun bagi Ulfa, kerja kerasnya ini bukan sekadar soal keuntungan materi semata. Lebih dari itu, ia punya harapan bisa membantu mengurangi angka pengangguran di Maluku Utara.
Hal ini memang sudah ia lakukan. Berbagai pelatihan ia lakukan demi membagi ilmu kepada sesama. Di salah satu sudut rumahnya, tergantung berbagai penghargaan yang ia peroleh dari pemberdayaan masyarakat.
---
Rizal Syam
