Kumparan Logo
Konten Media Partner

Melawat ke Pulau dalam Lukisan Uang Seribu

Cermatverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Festival Maitara Jaga Ngara

"Maitara Island" tampak di pinggir pantai Pulau Maitara, tepatnya di lokasi wisata. Foto: Rajif Duchlun/cermat
zoom-in-whitePerbesar
"Maitara Island" tampak di pinggir pantai Pulau Maitara, tepatnya di lokasi wisata. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Pulau Maitara adalah salah satu pulau kecil di Maluku Utara yang memesona. Banyak yang menyebutnya “Pulau Uang Seribu”, karena gambar pulau ini bisa dilihat di mata uang seribu rupiah.

Sabtu (2/3) sore, cermat berkunjung ke Pulau Maitara. Bertolak dari Pelabuhan Bastiong Perikanan, Ternate, menggunakan motor tempel. Letak pulau ini berada tepat di depan Kota Ternate. Secara administratif, Pulau Maitara masuk Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.

Saat membelah selat Ternate dan Pulau Maitara tidak membutuhkan waktu lama. Hanya mengeluarkan uang Rp10 ribu, untuk sampai ke Maitara. Waktu tempuh sekiranya hanya 15 menit. Bisa lebih cepat dari itu jika menggunakan speedboat. Sekira pukul 16.30 WIT, motoris mulai menyalakan mesin.

Empat orang muda tampak memeluk bambu dalam acara Festival Maitara Jaga Ngara yang digelar pada Sabtu-Minggu Maret 2019. Bambu itu bergerak sendiri mengikuti kemauan si pawang. Ini disebut bambu gila atau baramaswen. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Hari itu, di Pulau Maitara ada event Festival Maitara Jaga Ngara, sebuah acara wisata serta kebudayaan yang digagas Popeda Project. Banyak pengunjung yang juga ke Pulau Maitara. Sebagian bahkan harus antre, menunggu bagian naik ke atas perahu.

Perahu tempel yang kami naik berlabuh di lokasi wisata Pulau Maitara. Sebelum tiba, terlihat dari jauh di tepi pantai pulau itu bertuliskan “Maitara Island”. Tak kalah indah, pelabuhan yang berada di lokasi wisata pun berarsitektur menarik.

Berlatar laut dan hamparan rumah-rumah di kaki Gunung Gamalama, Ternate, membuat beberapa pengunjung tak ingin melewatkan berfoto di atas pelabuhan tersebut. Dari Pulau Maitara, pengunjung memang dapat melihat Ternate. Beberapa wisatawan bahkan memilih bermalam agar dapat menyaksikan gemerlap kota Ternate.

Saat tiba, cermat juga melihat banyak sekali tenda-tenda kecil yang dipasang di pinggir pantai. Tenda-tenda itu milik para wisatawan. Sebagian dari pelaku komunitas yang berasal dari Ternate. “Duduk ngopi di pinggir pantai dan melihat Ternate malam hari ini dari sini itu menarik,” ujar Marwan, salah satu wisatawan.

Tenda-tenda yang dipasang di pinggir pantai. Tenda-tenda itu sebagian besar milik wisatawan asal Ternate. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Kopi Dabe, Warisan Leluhur Orang Tidore

Sementara di panggung utama terdengar suara pembawa acara asyik mengarahkan para pengunjung. Tak berselang lama, pembawa acara memanggil sekitar enam perempuan ke depan panggung.

“Kita akan menyaksikan atraksi kopi dabe dari enam perempuan hebat di Maluku Utara,” seru pembawa acara tersebut, sembari menjelaskan proses pembuatan kopi secara perlahan diikuti musik lokal yang sangat berkarakter.

Para perempuan tampak sedang melakukan atraksi kopi dabe dalam acara Festival Maitara Jaga Ngara

Tampak enam perempuan itu mulai menunjukkan atraksinya. Terlihat di atas meja, gelas yang terbuat dari batok kelapa disusun rapi, juga rempah-rempah yang menjadi bahan dasar kopi dabe. Kopi tersebut dikenal sebagai kopi khas asal Maluku Utara, lebih tepatnya di Tidore.

Orang Ternate mengenal racikan kopi itu dengan nama kopi nyiru. Ismit Alkatiri, dari Institute of Coffee, yang terlibat memfasilitasi semua perangkat atraksi kopi tersebut, menjelaskan, bahwa kopi dabe maupun kopi nyiru adalah warisan leluhur orang Maluku Utara. “Harus kita jaga, kita nikmati, inilah kopi warisan kopi leluhur,” ujarnya.

Ismit bilang, baik kopi dabe maupun kopi nyiru memiliki bahan dasar yang sama, yakni rempah-rempah. Seperti cengkeh, pala, jahe, pandan, dan kayu manis.

Menurutnya, sesuai dengan bahan dasarnya, kopi ini menjadi bukti bahwa Maluku Utara di masa lalu mempunyai potensi rempah-rempah yang sangat besar. “Bahannya sesuai dengan potensi rempah-rempah kita, ini menunjukkan kopi kreatif ini telah ada sejak zaman dahulu,” kata Ismit.

Baramasuen, Atraksi Magis dari Sebatang Bambu

Setelah atraksi kopi dabe digelar, dua pembawa acara muda mengajak pengunjung untuk menyaksikan atraksi bambu gila atau warga tempatan menyebutnya “baramasuen”. Beberapa orang muda, sepertinya mereka dari panitia, tampak mengangkat sebatang bambu dan menaruhnya di depan panggung.

Si pawang seperti sedang membaca mantra, sambil mengarahkan batok kelapa yang berisi bara api ke arah pangkal bambu. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Empat orang muda mulai mengangkat bambu tersebut dan memeluknya. Mendekatkan bambu ke arah dada. Dua orang pria paruh bayah kemudian mendekat ke arah bambu. Salah satu dari mereka sepertinya si pawang bambu gila. Ia terlihat memegang batok kelapa yang berisi bara api.

Seperti membaca mantra, batok kalapa itu diarahkan ke pangkal bambu. Tak lama kemudian, seperti suara entakkan diikuti musik lokal, bambu itu seolah bergerak sendiri, mengikuti keinginan si pawang. Apabila batok kelapa diarahkan ke depan, bambu itu seperti menurut saja dan ikut bergerak ke depan.

Sebagaimana nama atraksi ini, bambu tersebut benar-benar “gila”, bergerak liar, mengguncang tubuh empat orang muda itu. Satu-dua dari mereka bahkan harus terjatuh beberapa kali, tak mampu menahan kegilaan bambu yang terus bergerak sendiri.

Pelabuhan lokasi wisata berarsitektur menarik di Pulau Maitara. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Permainan atau atraksi terus berlanjut. Sejumlah pengunjung seperti penarasan, ingin mencoba merasakan magisnya bambu tersebut. Namun tetap saja, sekuat apapun pegangan dan pelukan, beberapa dari mereka masih tetap terjatuh.

Atraksi ini sudah cukup familiar di Maluku Utara. Dalam setiap acara rakyat atau pagelaran festival kebudayaan, atraksi bambu gila atau barumasuen memang kerap ditampilkan.

Kampung Nelayan di Maitara

Cermat berkesempatan jalan-jalan ke tengah pemukiman warga. Menariknya, pengunjung bisa memilih mengikuti dua jalur saat hendak ke tengah pemukiman. Bisa melalui jalan utama atau setapak kecil yang dibuat tepat di pinggir pantai.

Seorang nelayan di Pulau Maitara sedang menjahit jaring. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Melalui setapak, pengunjung bisa melihat Pulau Tidore yang tepat berada di sisi Pulau Maitara. Perahu-perahu nelayan juga berderet sepanjang pesisir. Pulau ini memang sebagian besar warga berprofesi sebagai nelayan.

Imran, seorang nelayan yang ditemui cermat, membenarkan, bahwa banyak sekali warga yang bekerja sebagai nelayan. Bahkan saking banyaknya tenaga nelayan yang dibutuhkan di pulau ini, beberapa pemilik kapal mendatangakn pekerja nelayan dari Manado, Sulawesi Utara.

Imran sendiri mengaku ia berasal dari Manado. Sudah sejak 2010 ia bekerja di Pulau Maitara sebagai anak buah kapal nelayan. “Banyak teman saya juga bekerja di sini, bahkan ada yang dari Gorontalo,” ujarnya.

Panorama Pulau Maitara diambil dari Ternate. Secara administratif, Pulau Maitara masuk Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Lukisan pulai ini ada dalam uang kertas seribu rupiah. Foto: Faris Bobero/cermat

Saat ini, Imran bersama beberapa rekannya tinggal di rumah pemilik kapal. Imran bercerita, perahu atau kapal tangkap, tempat di mana ia bersama rekan-rekannya bekerja adalah milik warga Maitara. “Itu kapal-kapal semua milik orang di sini,” katanya, sambil melabuhkan telunjuknya ke arah kapal tangkap yang sedang ditambatkan.

Hasil ikan dari pulau kecil itu sendiri dijual ke Ternate. Ikan-ikan demersal seperti ikan lolosi, adalah hasil tangkapan nelayan Pulau Maitara yang paling sering dibawa ke Ternate.

Tidak banyak yang bisa dibagikan Imran, sebab kedatangan cermat bertepatan dengan waktu kerjanya. Beberapa menit lagi masuk waktu magrib. Kru cermat harus kembali ke Ternate.

Keindahan Indonesia timur memang tidak ada habisnya, saat kembali ke Ternate, pamandangan senja juga terlihat. Suara azan terdengar sayup-sayup diikuti matahari yang perlahan pulang ke kaki langit.

---

Rajif Duchlun