Kumparan Logo
Konten Media Partner

Melihat Kelenteng Berusia 4 Abad di Ternate

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Altar di dalam Kelenteng Thian Hou Kiong, Ternate. Foto: Gustam Jambu/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Altar di dalam Kelenteng Thian Hou Kiong, Ternate. Foto: Gustam Jambu/cermat

Semerbak aroma dupa memenuhi Kelenteng Thian Hou Kiong. Asap dari lilin dan hio yang terbakar menambah khidmat suasana malam itu. Dari dalam ruangan, terdengar doa-doa dipanjatkan kepada sang pemberi kehidupan, mengharapkan kemakmuran serta keselamatan bagi bangsa.

“Tahun ini torang (kami) hanya fokus berdoa saja. Karena situasi pandemi COVID-19 jadi tidak dibikin acara yang besar. Karena juga sudah diinstruksikan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) pusat bahwa hanya bikin berdoa saja supaya pandemi bisa cepat berlalu,” ucap Ketua Majelis Agama Konghucu (Matakin) Ternate, Jhon The saat ditemui cermat usai ibadah imlek, Jumat (12/2) dini hari.

Perayaan imlek kali ini hanya difokuskan untuk berdoa demi keselamatan bangsa. Foto: Gustam Jambu/cermat

Hasilnya memang demikian, seperti tahun sebelumnya, pergantian tahun di kelenteng yang sudah berusia empat abad itu hanya digelar secara sederhana. Kelenteng Thian Hou Kiong sendiri merupakan bukti bahwa Kota Ternate telah menjadi kota dunia yang terbuka sejak berabad-abad silam.

Sejarawan Universitas Khairun Ternate Irfan Ahmad mengatakan, kelenteng yang terletak di Lorong Tapikong atau Lorong Naga, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah itu dibangun pada tahun 1657 tepatnya pada masa kepemimpinan Sultan Mandar Syah. Dari sejumlah referensi, kelenteng ini juga disebut sebagai kelenteng tertua di Indonesia timur.

Saban kali menjelang hari keagamaan, Kelenteng Thian Hou Kiong selalu menjadi magnet bagi etnis Cina yang berada di sekitar Pulau Ternate, seperti Makeang, Bacan, dan Pulau Halmahera.

Ketua Majelis Agama Konghucu (Matakin) Ternate, Jhon The. Foto: Gustam Jambu/cermat

Pendeta di Kelenteng Thian Hou Kiong, J.S Martin menjelaskan, nama kelenteng tersebut memiliki arti Ibu Suri Agung. Nama itu merujuk pada Tian Shang Sheng Mu atau lebih dikenal sebagai Mak Co dan Dewi Laut.

Rujukan ini, kata dia, berdasarkan geografis Kota Ternate yang berada di pesisir sehingga berdekatan dengan laut. Tian Shang Sheng Mu merupakan pelindung para pelaut.

“Makanya di zaman dulu itu, setiap kapal-kapal milik etnis Tionghoa di dalamnya pasti ada altar Tian Shang Sheng Mu,” katanya.

Kelenteng Thian Hou Kiong dibangun pada pemerintahan Sultan Mandar Syah. Foto: Gustam Jambu/cermat

Selain Dewi Laut atau Ibu Suri Agung, di kelenteng tersebut juga terdapat empat altar lainnya, yakni altar Dewa Kwan Kong atau Dewa Kebijaksanaan, Fu De Zheng Shen (Dewa Keberkahan/rejeki), Kwan Im (Dewi Welas Asih), dan terakhir adalah altar Nabi Agung Kongcu.

Meskipun lokasinya berdekatan dengan gereja Protestan dan permukiman Arab, namun keberadaan kelenteng ini disambut baik oleh masyarakat Ternate di masa-masa awal pendiriannya.

“Sejauh ini dalam catatan sejarah tidak ada penolakan dari berbagai unsur, karena dari awal pendirian telah mendapat restu dari kesultanan,” ungkap Irfan Ahmad.

Seorang penganut Konghucu sedang beribadah di Kelenteng Thian Hou Kiong. Foto: Gustam Jambu/cermat

Sejarah perkembangan Kota Ternate memang tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran pedagang-pedagang etnis Cina. Mereka punya posisi penting dalam perdagangan rempah-rempah. Irfan bilang, kehadiran etnis Cina di Ternate tercatat sejak masa pemerintahan Sida Arif Malamo (1322-1331).

“Bahkan jauh sebelum mereka sampai di Ternate, bisa ditemukan penamaan dengan berbagai sebutan (15 nama) Tionghoa untuk menunjukkan pulau di Maluku,” katanya.

Orang Cina pertama yang diberikan jabatan oleh kesultanan adalah seorang Syahbandar di Pelabuhan Talangame pada tahun 1599. Jabatan tersebut, lanjut Irfan, diberikan oleh Sultan Saidi (1583-1606).

Pendeta J.S Martin (kanan) sedang memimpin ibadah di Kelenteng Thian Hou Kiong. Foto: Gustam Jambu/cermat.

Lebih dari itu, sejak era Sultan Hamza (1627-1648) etnis Cina juga memperoleh jabatan khusus dalam Kesultanan Ternate, yaitu Kapita Cina atau orang yang bertugas memimpin masyarakat beretnis Cina di Ternate.

“Jadi sejak dahulu orang Cina telah memainkan peran penting di Kesultanan Ternate,” tandasnya.