Kumparan Logo
Konten Media Partner

Melihat Proses Penurunan Bendera di Kesultanan Ternate

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proses penurunan bendera di Kesultanan Ternate. Foto: Gustam Jambu/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Proses penurunan bendera di Kesultanan Ternate. Foto: Gustam Jambu/cermat

Sore itu, Kamis (9/1), Ternate seperti hari-hari biasa. Lalu-lalang kendaraan terlihat ramai. Namun, suasana berbeda terasa di halaman Kedaton Kesultanan Ternate. Tampak lengang dan hanya ada tujuh remaja yang berdiri menghadap tiang bendera dengan khusyuk.

Tidak ada perayaan apa-apa. Hanya prosesi penurunan bendera. Tapi, pemandangan ini sungguh berbeda. Di depan kedaton, ada tiga tiang bendera yang menjulang tinggi. Pasukan penurunan pun sebagiannya masih berstatus pelajar.

Penurunan bendera ini dilakukan dengan khidmat. Foto: Faris Bobero/cermat

Sekira pukul 18.00, cermat mengikuti prosesi ini. Tujuh remaja itu berjajar rapi. Menggunakan pakaian adat, mereka berdiri menghadap ke arah tiang. Lalu secara kompak mereka mengangkat tangan, melekatkan kedua pergelangan di antara hidung dan bibir, membentuk serupa salam penghormatan.

Tiga di antara mereka melangkah maju dan berjalan secara bersamaan menuju ke arah kedaton. Mereka mengambil baki atau nampan khusus untuk bendera dan kembali ke barisan semula

Penurunan bendera di Kedaton Kesultanan Ternate. Foto: Gustam Jambu/cermat

Proses penurunan dimulai. Tali dilepas secara pelan. Bendera diturunkan secara bersamaan. Saat tiga bendera itu dilipat, mereka berjajar lagi secara rapi. Bendera kemudian dibawa ke kedaton. Hingga selesai, prosesi ini diakhiri dengan khidmat; salam penghormatan seperti sebelumnya serta mengusap wajah laiknya selesai berdoa.

Semua dilakukan tanpa suara aba-aba yang keras, begitu tertib. Pekerjaan ini memang lazim mereka lakukan.

Pasukan penurunan melipat tiga bendera. Foto: Faris Bobero/cermat

Fanyira Soangare, Muhammad Saleh, saat ditemui usai penurunan bendera, mengatakan, pemandangan seperti ini sudah berlangsung lama. Fanyira Soangare sendiri merupakan suatu jabatan Abdi Dalam atau penanggungjawab kedaton.

“Bendera tiga ini naik mulai jam enam pagi dan turun jam enam sore,” ujarnya.

Bendera Indonesia memang posisinya di tengah. Sementara di sebelah kanan adalah bendera berwarna hitam, yang merupakan bendera balakusu se kano-kano atau rakyat kesultanan. Sedangkan di sisi kiri berwarna kuning adalah bendera sultan.

“Artinya rakyat bersama raja bersama-sama melindungi negara, maka bendera merah putih kita letakkan di tengah,” ucap Saleh.

Ia bilang, pasukan yang menaikan maupun menurunkan bendera ini disebut baro-baro atau prajurit. Pasukan ini terbagi atas dua wilayah, yakni Heku dan Cim. Heku ditugaskan untuk angkatan darat, sementara Cim untuk angkatan laut.

Saat pasukan melipat tiga bendera. Foto: Faris Bobero/cermat

Heku seperti kesatuan khusus yang dipimpin oleh Kimalaha Labuha sedangkan Cim dipimpin oleh Kimalaha Tobona.

Ia menjelaskan, pada saat proses pengambilan bendera di kedaton tadi, sudah ada orang yang menunggu di sana. Petugas itu mereka sebut soseba.

Pasukan ini sendiri berasal dari beberapa kampung di Ternate. Seingatnya, prosesi ini sudah berlangsung sejak mendiang Sultan Mudaffar Sjah menetapkannya pada 2001. “Namun dari cerita semenjak dulu, tiga bendera itu sudah ada,” kata Saleh.