Memotret Aktivitas Pagi Hari di Ternate

Matahari baru saja keluar. Di Samping jalan, beberapa pedagang terlihat baru mulai membuka kios sembako. Sementara di jalan, orang-orang dari berbagai usia terlihat ke sana ke mari. Ada yang setengah berlari. Ada yang menggunakan sepeda. Ada pula yang membawa kereta bayi.
Semuanya terlihat senyum damai pagi. Suasana itu, tepatnya di depan Masjid Raya Almunawar, Ternate, Maluku Utara, Minggu (13/10).
Sementara itu, di pinggir jalan Pahlawan Revolusi No 234, Gamalama, lelaki usia senja duduk di bangku, di sampingnya ada sebuah gerobak bermuatan pakaian, yang masih dibungkus terpal. Pakaian tersebut adalah dagangan isterinya, yang dijajakan setiap hari, di daerah tersebut.
Tangan kiri lelaki itu memegang sebuah kaca kecil. Sementara tangan kanannya memegang sebuah alat cukur. Perlahan ia membersihkan janggut dan kumisnya yang sudah memutih. Om Nurdin Karim namanya. Lahir di Ternate pada tahun 1945. Bulan ini, tanggal 5 kemarin, Om Nurdin berusia 74 Tahun. Usia yang sama dengan Republik ini.
Di Jalan Busoiri, Gamalama, tak jauh dari Toko Buku Selecta, tepatnya di sebuah trotoar, dua orang usia senja, juga terlihat duduk di bangku. Kali ini, bangku mereka agak pendek. Seukuran senti. Mereka adalah Om Bambang dan Om Wito. Keduanya terlihat sibuk melayani pelanggan, yang menjahit sepatu. Padahal, saat itu, matahari belum menunjukkan teriknya.
Keempat orang yang saya temui pagi itu, adalah orang-orang usia senja, yang masih terus bekerja. Saya mencoba berkenalan sambil memotret mereka. Kebetunan, saat itu, kru cermat sedang mengikuti kegiatan Fotografer Net Street Hunting 2019, bertajuk "Motret Bersama, Satukan Indonesia", yang dipandu oleh teman-teman komunitas fokusmaut. Kegiatan ini, diselenggarakan serentak di puluhan kota di Indonesia.
Om Nurdin adalah kuli Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Ia mulai bekerja di pelabuhan, sejak usianya memasuki 24 tahun. “Sudah 50 tahun saya kerja sebagai TKBM,” ungkap Om Nurdin.
Ia berkisah, saat pertama kali kerja di pelabuhan, pada tahun 1969, ia mendapat upah Rp15 ribu, hasil kerja borongan dalam seminggu. “Lumayan, uang segitu di zaman itu”.
Saat ini, sebagai buruh TKBM, dalam seminggu, Om Nurdin bisa mendapatkan upah sebesar Rp 1,5 juta, “Itu kalau ada 200 kontainer yang masuk. Kita sekira 7 kelompok bekerja borongan,” katanya.
Barang-barang dari kountainer di pelabuhan itu, kata om Nurdin, berupa sembako, ada pula semen, bahkan besi. “Setelah kita bongkar dari container, kita juga antar, menggunakan mobil ke toko-toko yang punya barang itu,” ujarnya.
Minggu adalah hari libur kerjanya di pelabuhan. Namun, Om Nurdin justeru tak memilih beristirahat di rumah. “Kalau istirahat. Saya macam karasa (badan rasanya tidak enak),” katanya. Memang, rerata, orang-orang usia Om Nurdin, di Maluku Utara, yang biasa kerja keras, selalu mengatakan, mereka merasa sakit jikalau tubuh mereka tak bergerak barang sehari.
“Anak-anak saya, bahkan ada yang marah, kalau saya terus bekerja. Mereka menyuruh saya istirahat di rumah. Saya tidak mau,”.
Isteri pertama om Nurdin, sudah meninggal dunia. Ia kini hidup dengan isteri kedua. Mereka dikaruniai 4 orang anak. Tiga anaknya berprofesi sebagai polisi. “Yang satu, tugasnya di Manokwari, Papua Barat,” ungkap Om Nurdin.
Nurdin pun memiliki 6 orang anak dari isteri pertamanya. Ada yang bekerja di sebuah tokoh dan ada yang bekerja di pasar.
Sementara Om Bambang, berasal dari Gorontalo. Ia hijrah ke Ternate pada tahun 1986 dan menjadi penjahit alas kaki. “Sejak saat itu, saya sudah bekerja di sini. Dulu, masih ada tujuh orang penjahit.” Ungkapnya.
Om Wito bahkan lebih lama. Ia bekerja sebagai penjahit sepatu sejak tahun 1974. Ia berasal dari Jember, Jawa Timur. Wito datang ke Ternate pada tahun 1971. Saat itu, ia bekerja sebagai penjual pakaian.
Awal mula Wito menjahit sepatu, berlokasi di depan Toko Gorontalo. Beberap kali ia pindah tempat. Hingga tahun 1985, barulah menetap di tempat yang sekarang. Berdekatan dengan Bambang.
Dalam sehari, kurang lebih, ada 15 sepatu pelanggan yang mereka jahit. Sepasang sepatu yang dijahit, harganya Rp 25 ribu hingga 30 ribu.
Abd Malik Salasa, warga Tidore, adalah salah satu pelanggan setia Om Wito. Saat itu, ia hendak menjahit sepatu barunya. Baginya, tak hanya sepatu yang rusak untuk dijahit. Sepatu yang baru dibeli, juga bisa dijahit agar awet.
“Saya sudah lebih dari 3 kali menjahit sepatu bahkan sandal saya di sini,” uncap Malik. Selain harga terjangkau, Malik bilang, kualitas menjahit om Wito sudah teruji. “Itu yang membuat saya tidak ke mana-mana. Kalau jahit alas kaki, ya ke om ini,” ujarnya.
***
Kegiatan Fotografer Net Street Hunting, sudah kali ke tiga dilakukan di Ternate. Awalnya dilakukan pada tahun 2013. Zulkifli Ahmad Yusuf, salah satu pengurus komunitas fokusmaut mengatakan, tahun ini ada 24 peserta yang ikut.
Tahun-tahun sebelumnya, kegiatan seperti ini sempat vakum karena, kesibukan masing-masing pengurus komunitas.
Menurutnya, rute hunting foto jalanan ini banyak yang menarik, yang bisa diabadikan lewat berbagai jenis kamera para peserta.
“Rute hunting cukup lumayan jauh, dan beberapa tempat layak dibuat tempat untuk hunting atau foto. Ternate masih ada beberapa bangunan tua yang unik dan bagus buat di foto,” katanya.
Dalam kegiatan ini, taka da yang kaku atau minder. Sebab, semua saling berbagi pengetahuan. Yang baru belajar foto sama sekali tak akan kaku untuk bergabung.
Risdan, kordinator kegiatan mengatakan, Ternate cukup kecil. Namun, beberapa spot pada rute yang dilalui dalam dalam kegiatan ini memiliki nilai sejarah. Ada benteng Oranje, Klenteng, hingga orang-orang yang beraktivitas, mengais rezeki di pagi hari.
