Kumparan Logo
Konten Media Partner

Menaruh Harap Pada Makam Keramat di Ternate

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jere Kulaba, di sini tempat para peziarah berdoa meminta keberkahan. Foto: Rizal Syam/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Jere Kulaba, di sini tempat para peziarah berdoa meminta keberkahan. Foto: Rizal Syam/cermat

Rahmi –bukan nama sebenarnya— menenteng sekantong kresek berisi daun pandan. Di tangan satunya lagi, ia menggenggam sebuah botol berukuran 1,5 liter berisi air mawar.

Sore itu, Rahmi bersama keluarganya melakukan ziarah di sebuah kawasan makam keramat yang terletak di Kelurahan Kulaba, Ternate Barat. Lokasi yang didatangi Rahmi ini, oleh masyarakat Ternate, akrab disebut sebagai Jere Kulaba.

"Jere" berarti makam yang dikeramatkan. Berada di ketinggian serta dikelilingi pepohonan pala dan cengkih, membuat kawasan Jere Kulaba terasa sejuk.Kendati matahari belum lengser sepenuhnya, tetapi angin bertiup cukup kencang, menggugurkan dedaunan, membawa aroma khas rempah.

Sebagaimana umumnya masyarakat berziarah ke Jere Kulaba, Rahmi bertandang ke sini bukan tanpa alasan. Ia membawa harap. Rahmi baru saja membuka bisnis jual-beli, dan ke jere untuk meminta berkah, agar usaha yang dikelolanya berjalan lancar.

Apa yang dilakukan Rahmi memang bukan hal baru, terlebih bagi masyarakat Indonesia yang terkenal erat dengan hal-hal transendental. Setidaknya, itu yang dikatakan oleh Safrudin Abd Rahman, Kepala Program Studi Antropologi Universitas Khairun Ternate.

Di kawasan Jere Kulaba, terdapat lima makam keramat. Foto: Rizal Syam/cermat

"Yang seperti ini kan sudah ada sebelum agama Islam masuk. Artinya, manusia itu memiliki keterbatasan. Ada hal-hal yang di luar kemampuannya. Sehingga untuk memahami sebuah kasus yang terjadi di luar kemampuan, orang akan percaya dengan hal mistis seperti itu," ucap Safrudin kepada cermat di Ternate, Selasa (20/8).

Apa yang dilakukan Rahmi sedikit banyak mirip dengan yang dilakukan Husni. Hanya saja, diakui Husni, ia diminta oleh orang tuanya. Ceritanya, beberapa waktu lalu, ia tengah mengikuti tes untuk mendapatkan sebuah pekerjaan.

"Saya diminta oleh orang tua untuk ke Jere Kulaba. Sampai di sana saya berdoa semoga dimudahkan segala urusan," katanya. Entah berkaitan dengan ziarah tersebut atau tidak, beberapa waktu kemudian ia dinyatan lulus tes.

Menurut Bakar Baici, tokoh masyarakat di Kelurahan Kulaba yang juga salah satu penjaga Jere, kejadian seperti yang disebutkan di atas lumrah terjadi. Biasanya, kata pria berusia 75 tahun itu, orang yang berkunjung ke Jere memiliki kaul pada diri sendiri.

Misalnya, ketika seseorang tengah mengalami musibah, pada saat itu ia bernazar, jika selamat ia akan bertamu ke Jere Kulaba. "Saat keselamatan menyertainya, ia bakal memenuhi janji itu," ujarnya.

Bakar Baici saat bercerita tentang Jere Kulaba. Foto: Rizal Syam/cermat

Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang menderita penyakit, kemudian meminta kesembuhan dengan berziarah. Kulaba, menurut Bakar Baici, berawal dari kata Laba-laba atau lari-lari ke pantai.

Bakar bercerita, dahulunya, rombongan dari Kesultanan Jailolo tiba di pesisir pantai. Mengetahui kedatangan tersebut, seorang pemuka kampung –dalam catatan tersebut menyebut Soa Tabanga—berlarian ke arah pantai. Dari situlah kemudian dinamakan area itu sebagai Kulaba.

Akan tetapi, lanjut Bakar, ia masih menyangsikan ihwal kebenaran cerita tersebut. Menurutnya, kendala paling berarti dalam mengetahui kebenaran sejarah adalah kebiasaan orangtua kampung yang terkesan menyimpan informasi semacam itu. "Selama ini saya masih belum menemukan jawaban, apakah lebih dulu Jere atau kampung ini," katanya.

Tak ada pantangan tertentu ketika berziarah ke Jere Kulaba. Pengunjung hanya diminta berpakaian secara sopan. Namun diimbau bagi perempuan agar tidak berziarah tatkala dalam masa menstruasi.

Dari Pengusaha hingga Politisi

Tidak ada waktu khusus untuk melakukan ziarah ke Jere Kulaba. Beberapa masyarakat berkunjung ke sana pada pagi hari, sekadar berdoa kemudian melanjutkan perjalanan mengelilingi pulau Ternate –dalam istilah lokal disebut Ron Gunung, sebagian lain berkunjung saat petang.

Minggu dan Kamis sore adalah saat-saat paling ramai oleh peziarah, terlebih jika bertepatan dengan momentum tertentu, misalnya bulan Ramadan.

Pengelola Jere melarang masyarakat melakukan ziarah pada malam hari. Foto: Rizal Syam/cermat

Hal ini, menurut pandangan Safrudin, berkelindan dengan kebiasaan "permisi" dalam masyarakat. Bahwa makam karamat, kata Safrudin, juga terdapat di wilayah-wilayah lain di Indonesia, sehingga ketika mereka hendak berurusan di suatu daerah --dalam hal ini adalah Ternate--, mereka bakalan 'meminta ijin' dulu.

"Jere ini dianggap sebagai penjaga," katanya. "Ini bermakna sama dengan kebiasaan orang Maluku Utara ketika sampai di suatu daerah, mereka akan mencuci muka dengan air laut di daerah tersebut sebagai tanda permisi."

Kemenyan yang terdapat di dekat makam keramat. Biasanya digunakan dalam ritual doa. Foto: Rizal Syam/cermat

"Kandidat-kandidat pilkada juga pernah datang ke sini. Bukan hanya pilwako, tapi kandidat gubernur juga pernah (datang berziarah)," beber Bakar. Namun ia enggan menyebut siapa saja sosok-sosok itu.

Para politisi ini bukan hanya berziarah di Jere Kulaba saja. Jere Busua, sebuah Jere yang terletak di Kelurahan Tanah Tinggi Barat, Ternate Selatan, juga kerapkali diziarahi oleh para politisi ketika mendekati momen politik.

Ilham, seorang warga yang tinggal di dekat Jere Busua mengakui hal tersebut. "kemarin waktu Pileg, banyak calon (legislatif) yang ke sini," katanya. Nama Jere Busua kemudian kerap disingkat menjadi Jerbus -- yang lantas menjadi nama lingkungan tersebut.

Jere Busua yang terletak di Kelurahan Tanah Tinggi Barat, Kota Ternate. Foto: Risal Syam/cermat

Ada 13 titik dalam ritual Kololi Kie Mote Ngolo yang menjadi lokasi di mana saja jere-jere tersebut berada. Tak hanya di laut, jere juga terdapat di gunung Gamalama. Hal ini bisa dilihat pada ritual Fere Kie.

"...Mereka juga melakukan kegiatan ritual adat Kololi Kie dan Fere Kie ini dengan niat menziarahi makam atau jere para sufi dan mubaligh Ternate jaman dahulu yang telah berjasa memperkokoh tegaknya syariat Islam di jazirah Moloku Kie Raha," tulis Busranto dalam artikel berjudul Ritual Kololi Kie di Ternate.

Safrudin sendiri meyakini, keberadaan Jere begitu penting dalam membentuk pola pikir masyarakat, hanya saja, menurutnya, seiring berkembangnya jaman, praktek ziarah seperti itu kian berkurang.

"Artinya, tingkat kesakralan hari ini tentu berbeda dengan beberapa puluh tahun silam. Saat ini, sebagian anak muda sudah tak melakukannya lagi, kecuali pada momen-momen tertentu saja. Sederhananya, saat ini orang-orang cenderung menggunakan logika," ucap Safrudin.

---

Reporter: Rizal Syam

Editor: Olis