Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mendengar Cerita Danau Tolire

Cermatverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tolire Besar dengan latar Pulau Hiri, di Kota Ternate, Maluku Utara. Terbentuk menjadi danau kawah yang memiliki luas sebesar 500 x 700 meter. Foto: Faris Bobero/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Tolire Besar dengan latar Pulau Hiri, di Kota Ternate, Maluku Utara. Terbentuk menjadi danau kawah yang memiliki luas sebesar 500 x 700 meter. Foto: Faris Bobero/cermat

Minggu siang yang panas, Aira (24) berdiri tepat di tepi danau yang lebih mirip jurang terjal, tangan kanannya menggenggam sebongkah batu yang ia tempatkan di ruas dalam jari telunjuk. Sementara tangan kirinya menggenggam kumpulan batu yang siap dalam giliran. Hap! Dengan dorongan tenaga, batu tersebut melucur deras ke arah danau.

Pandangan Aira terpaku pada batu itu. Dalam seperhelaan napas, batu itu hilang dari pandangan. Wajah Aira tampak kesal bercampur kagum. Beberapa percobaan selanjutnya menemui hasil yang sama. Batu yang terlontar tak jua menyentuh permukaan danau. Setidaknya itu yang tampak oleh mata.

Danau Tolire, begitu masyarakat menyebutnya. Berada di barat laut pulau Ternate, Maluku Utara. Danau ini tak ubahnya lubang raksasa di tubuh Gamalama. Tolire adalah danau kawah yang memiliki luas sebesar 500 x 700 meter. Jaraknya sekitar 4 kilometer dari puncak Gunung Api Gamalama, dan 500 meter dari pantai. Secara administratif, Tolire berada dalam kelurahan Takome, Ternate Barat.

Salah satu wisatawan saat mencoba melempar batu ke Danau Tolire Besar. Foto: Fany

Melempar batu ke arah danau seperti yang dilakukan oleh Aira adalah tindakan wajib tatkala mengunjungi tempat ini. Ada legenda yang melekat, ada mitos yang dipercaya. Batu yang dilontarkan di danau takkan pernah berhasil menyentuh permukaan air. Saat berada di udara, batu tersebut seakan melengkung turun ke balik tepi jurang yang kita pijaki.

Hal tersebut beririsan dengan kisah rakyat yang menyertai eksistensi danau Tolire. Alkisah. Di atas danau tersebut dulu terdapat sebuah kampung yang damai. Namun berakhir setelah petaka datang menyapa. Berawal dari perbuatan tak pantas yang dilakukan oleh pemimpin kampung dengan putri kandungnya. Hubungan inces tersebut rupanya mendatangkan murka alam.

Pagi yang sunyi buyar oleh teriakan seekor ayam, “Tolire gam jaha…, Tolire gam jaha!” teriak ayam tersebut. Ini adalah peringatan bahwa bahala sedang mendekat.

Tak lama kemudian, kampung tersebut amblas ditelan bumi. Tenggelam karena perbuatan tak pantas yang dilakukan.

Danau Tolire Kecil. Tepat berada di bibir pantai. Foto: Boby Hamsyir

Sang putri yang mencari selamat ke arah pantai, tetap saja tak kuasa. Tempatnya tenggelam. Sekarang disebut sebagai danau Tolire Kecil.

Legenda di atas begitu menempel di kepala masyarakat Ternate.

“Percaya tidak percaya sih,” ucap Aira terkait legenda tersebut.

Atas kisah itu, wisatawan berbondong mendatangi Tolire. Menikmati legenda sembari mengagumi keindahan alam.

Kampung itu Bernama Soela Takomi

Danau Tolire Kecil yang berada di bibir pantai. Foto: Rizal Syam/cermat

Dalam buku “Hidup Mati di Negeri Cincin Api” kampung yang tenggelam itu bernama Solea Takomi, “Terletak 1,5 kilometer dari kelurahan Takome saat ini,” tulis Ahmad Arif dalam buku terbitan Kompas itu. 5 September 1775, terjadi gempa tektonik beruntun di Ternate. Walhasil, gempa tersebut memengaruhi gunung Gamalama. Menghasilkan erupsi yang dahsyat. Pada letusan itu, Kampung Solea Takomi telah hilang, tenggelam bersama 141 warga saat itu.

beberapa wisatawan lokal terlihat menikmati suasana pantai di Tolire Kecil. Foto: Rizal Syam/cermat

Meskipun begitu, legenda tentang Danau Tolire tetap saja melekat hingga hari ini, dan boleh dibilang, kisah inilah yang turut ‘membesarkan’ nama Danau Tolire, bahkan menarik wisatawan dari pelbagai daerah.

---

Rizal Syam