Kumparan Logo
Konten Media Partner

Menelusuri Jejak Toleransi di Kota Tua, Ternate

Cermatverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pintu depan Benteng Oranje yang menghadap ke laut. Sebelumnya, benteng ini bernama Benteng Malayo yang dibangun oleh Portugis. Hingga pada 1607, Laksamana VOC, Cornelis Matelieff de Jong, utusan Belanda itu, berhasil mengusir Spanyol dari Ternate. Setelah mengalahkan Spanyol, Matelieff kemudian membangun Benteng di atas lokasi Benteng Malayo. Foto: Faris Bobero/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Pintu depan Benteng Oranje yang menghadap ke laut. Sebelumnya, benteng ini bernama Benteng Malayo yang dibangun oleh Portugis. Hingga pada 1607, Laksamana VOC, Cornelis Matelieff de Jong, utusan Belanda itu, berhasil mengusir Spanyol dari Ternate. Setelah mengalahkan Spanyol, Matelieff kemudian membangun Benteng di atas lokasi Benteng Malayo. Foto: Faris Bobero/cermat

Jejak arsitektur tua di Kampung Tenga, Kota Ternate, Maluku Utara, yang dipengaruhi oleh beragam agama dan budaya menjadi bukti bahwa sejak abad ke-18 sudah terbentuk struktur sosial dan toleransi antar umat beragama.

Rosydan Arby, Peneliti Kawasan Kota Tua di Ternate, mengatakan, dari struktur bangunan di Kampung Tengah, Ternate Tengah, apabila dilihat dari peta ada garis imajiner antara rumah ibadah dari berbagai agama seperti masjid, gereja dan klenteng yang dibangun berdekatan.

Jejak ini diteliti dari sumber-sumber pasca kolonial, abad ke-18. Rumah ibadah adalah simbol terbentuknya struktur sosial sejak saat itu,” kata Rosydan pada cermat, Senin (13/5)

Penelitian Kota Tua yang dilaksanakan bersama Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Ternate ini, bertujuan untuk memetakan kembali kawasan Kota Tua yang dahulunya menjadi activity space dan membentuk dua sektor utama yakni sektor perdagangan dan sosial.

Setelah mengumpulkan data, para peneliti melakukan diskusi dan ditemukan adanya korelasi data di lapangan oleh tim peneliti dan narasumber dari pihak komunitas Arab di Ternate.

Lonceng gereja yang berada di Gereja Batu, Kota Ternate sejak 1603, yang sempat dicuri namun telah dikembalikan. Lonceng gereja tersebut menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan dari luar negeri. Lonceng ini hanya ada dua di dunia, yakni di Ternate dan di India. Foto: Rosydan Arby.

Alwi Alhadaar, salah satu anggota komunitas Arab, mengatakan, ada garis teoritis antara Benteng Oranje, Masjid Muttaqin, klenteng, dan Gereja Batu di Ternate Utara. Menurutnya, hal ini menjadi bagian tidak terpisahkan sejak abad ke-18.

“Dari penentuan garis imajiner tersebut, mungkin bisa kita temukan korelasi antara sektor perdagangan dan penyebaran antara etnis komunitas China, Arab, dan Sarani lewat pembentukan pemukiman,” ujar Alwi.

Bioskop pertama Kampung Tengah di Ternate, dimiliki oleh seorang pedagang China. Sebelum menjadi bioskop, lokasi tersebut pernah dibangun sebuah gereja di masa VOC. Foto: Adlun Fiqri/cermat

Hingga saat ini, banyak ditemukan hunian tua di kawasan Kampung Tenga dengan gaya klasik bermaterial kayu. Menurut Rosydan, gaya hunian tersebut adalah corak arsitektur lokal, tapi bisa menjadi gaya arsitektur Vernakular karena bentuk jendela dan pintu sama besarnya dan ini termasuk gaya bentukan arsitektur yang langka. “Tetapi kalau dilihat dari hasil wawancara, hunian-hunian tersebut dirancang dengan keseragaman. Dan arsiteknya itu orang Gorontalo. Karena rata-rata rumah orang Arab seperti itu, sama persis di kampung Arab di Manado dan Gorontalo, dan beberapa daerah lainnya yang adanya penamaan Kampong Arab,” kata Rosydan.

Kampung Palembang

Dalam beberapa catatan sejarah, berdirinya Kampung Tenga ini tidak lepas dari cerita pengasingan Sultan Mahmud Badaruddin II bersama keluarga dan pasukannya ke Ternate dari pemerintah Belanda.

embed from external kumparan

Beberapa sumber menyebutkan, Sultan Mahmud Badarudin II tiba di Ternate pada 1822 dan ditawan Belanda di dalam Benteng Oranje. Namun akhirnya karena kompromi dengan Kesultanan Ternate, ia bersama pengikut dan keluarga diperkenankan tinggal dan berbaur dengan komunitas lainnya.

“Dulu orang mengenal kawasan ini dengan sebutan Istana Palembang,” tutur Maulana.

----

Faris Bobero