kumparan
17 September 2019 22:41

Mengunjungi 'Negeri Seribu Masjid' di Maluku Utara

Kedaton Kesultanan Tidore. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Pagi itu, Minggu (15/9) matahari mulai naik, sangat cerah. Pantulan sinarnya menyelinap masuk ke celah-celah pemukiman, memantul ke seantero Ternate. Suasana akhir pekan begitu terasa.

ADVERTISEMENT
Hari itu, saya akan ke Tidore, sebuah kota di Maluku Utara, yang posisinya sangat dekat dengan Ternate. Menemani pengajar Teknologi Pertanian dari IPB, yakni Prof Dr Sedarnawati Yasni bersama suaminya, Dr Gendut Suprayitno, melihat sejumlah titik bersejarah di negeri seribu masjid.
Dikenal dengan ‘seribu masjid’ mungkin saja karena Tidore merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia.
Perjalanan ini juga ditemani Rizal, seorang pegawai dari Kanwil Kemenkumham Maluku Utara. Ia memang sejak awal sudah bersama Ibu Wati, sapaan dekat Prof Dr Sedarnawati Yasni.
Kami bertolak dari Pelabuhan Bastiong Ternate menggunakan speedboat kecil. Kendati masih pagi, gelombang tinggi sesekali menghantam badan motor cepat itu. Saya melihat keduanya sangat menikmati selat Ternate-Tidore. Berlabuh di Pelabuhan Rum Tidore, sekiranya hanya 10 menit.
ADVERTISEMENT
Ini memang kali pertama bagi Ibu Wati melihat Tidore. Tapi bagi Pak Suprayitno, ini kunjungan keduanya. Di usia muda, ia memang pernah ke sini.
Saat tiba, kami berjalan ke arah jalan, tepatnya di depan pintu utama Pelabuhan Rum. Sambil menunggu mobil yang sudah dipesan Rizal, Ibu Wati dan Pak Suprayitno sempat beberapa kali berfoto, membelakangi sebuah papan informasi jalan dan pusat perkantoran.
Sekitar 15 menit, mobil tiba. Sopir mobil keluar dan Rizal mengganti posisinya. Saya memang tidak begitu lincah menyetir mobil. Saya diminta duduk di depan, tepat di sebelah kiri Rizal. Mesin mobil lalu dinyalakan dan bergerak ke pusat kota Tidore, Soa Sio.
Perjalanan ke Soa Sio sekira 22 kilometer. Saya melihat ke belakang, Pak Suprayitno membuang pandangannya lewat jendela mobil. Jalan-jalan di Tidore memang berada tepat di tepi pantai. Laut luas dapat dilihat dengan mudah.
ADVERTISEMENT
Pulau-pulau di sekitar Tidore tampak jelas. Berbeda dengan kota-kota umumnya, jalanan Tidore tidak begitu padat. Tidak macet. Pohon-pohon tumbuh tenang, merimbun dengan teduh sepanjang pulau ini. Sangat bersih.
“Di tempat tinggal saya juga dekat laut. Jadi bisa lihat laut setiap hari seperti ini juga,” ujar Pak Suprayitno.
Kami akhirnya tiba juga di salah satu titik bersejarah. Benteng Tahula, namanya. Berada di Kelurahan Soa Sio, lokasi ini tepat di ketinggian. Untuk sampai ke benteng, kami harus naik tangga yang menanjak jauh ke bukit. Di atas itulah, benteng peninggalan Spanyol itu berada.
Kala sampai di atas, Ibu Wati dan Pak Suprayitno tidak ingin membuang kesempatan untuk berfoto. Tampak dari Benteng Tahula, hamparan rumah-rumah terlihat jelas. Laut biru terbentang luas. Terlihat juga sebuah jembatan yang biasa digunakan Kesultanan Tidore memanjang ke arah laut.
Benteng Tahula, Tidore. Foto: Rajif Duchlun/cermat
Melalui papan informasi yang ada di lokasi itu, dituliskan pada sekitar tahun 1607 Gubernur Spanyol pertama di Maluku, Juan de Esquivel, memerintahkan untuk membangun sebuah benteng di Tidore. Hanya saja pembangunannya tidak berjalan karena kurangnya tenaga kerja.
ADVERTISEMENT
Pembangunan Benteng Tahula atau dikenal juga dengan Benteng Tohula ini baru dimulai pada tahun 1610 oleh Cristobal de Azcqueta Menchacha, Gubernur Spanyol saat itu. Namun, pekerjaan pembangunan juga tidak selesai.
Barulah pada masa Gubernur Don Jeronimo de Silva, sekitar tahun 1613 pekerjaan pembangunan benteng akhirnya lebih digiatkan lagi dan berhasil selesai pada 1615. Benteng ini kemudian diberi nama Santiago de los Caballeros de Tidore atau Sanctiago Caualleros de los de la de ysla Tidore.
Ketika itu, benteng ini dihuni oleh 50 tentara Spanyol lengkap dengan artileri untuk melindungi kapal-kapal mereka yang sedang ditambatkan. Spanyol menghuni benteng ini hingga tahun 1662. Setelah bangsa ini minggat, beberapa tahun setelah itu hegemoni Belanda semakin kuat di tanah ini.
ADVERTISEMENT
Belanda kemudian meminta sultan Tidore untuk menghancurkan benteng peninggalan Spanyol itu. Hanya saja, sebelum benteng ini sepenuhnya dirobohkan, Sultan Tidore Hamzah Fahroedin meminta benteng ini tetap dipertahankan sebagai tempat tinggal kerajaan.
Setelah melihat jejak Spanyol ini, kami lalu mengunjungi lokasi penting berikut, yakni Kedaton Kesultanan Tidore. Berada tidak jauh dari benteng Tahula, kedaton ini berdiri gagah menghadap ke arah laut, seolah memang sengaja dibangun demikian untuk memantau aktivitas warga serta kapal-kapal yang sedang berlabuh.
Saat tiba, kami diterima dua orang dari pihak Kesultanan Tidore. Satu di antaranya, yakni Perdana Menteri Kesultanan Tidore atau Jojau, M Amin Faaroek. Namun, Jojau belum berkesempatan menemani kami melihat area dalam kedaton. Hari itu, ia memang sedang menerima tamu dari Kementerian Pertanahan.
Ibu Wati dan Pak Suprayitno tampak berfoto di depan singgasana Sultan Tidore. Foto: Rajif Duchlun/cermat
Selanjutnya kami ke Museum. Posisinya berada di lantai bawah kedaton. Kami diajak melihat beberapa foto dan miniatur perkakas orang-orang Tidore di masa lalu. Ada juga miniatur perahu kora-kora, sebuah perahu yang pada zaman dahulu kerap dipakai para perangkat adat kesultanan untuk berperang, mengunjungi daerah-daerah, hingga untuk urusan diplomasi dagang.
ADVERTISEMENT
Foto-foto kunjungan Presiden pertama Indonesia, Soekarno, kala ke Tidore pun terpajang. Ada juga foto Presiden Joko Widodo, yang pernah mengunjungi Tidore. Pada sudut yang lain, terdapat peralatan menari, berupa parang dan salawaku.
Kami juga diajak melihat sebuah bingkai peta wilayah kesultanan Tidore. Tampak wilayah kesultanan Tidore pada zaman dahulu sebelum akhirnya bergabung dengan NKRI itu, sangat luas. Meliputi sebagian Pulau Halmahera, Seram, hingga Papua.
Tak lama, kami lalu dipersilakan duduk di ruang utama, tempat sang sultan menerima para tamu. Seorang perempuan mengantar tiga gelas kopi dabe, sebuah kopi khas Tidore yang diolah dari rempah-rempah; cengkih, pala, daun pandan, hingga kayu manis. Saya melihat Ibu Wati dan Pak Suprayitno sangat senang ketika meneguk kopi tersebut.
ADVERTISEMENT
“Kopi ini aromanya harum sekali,” ucap Ibu Wati, lalu kembali meneguk.
Ibu Wati dan Pak Suprayitno mengaku, mereka bukan baru pertama merasakan kopi yang diolah dari rempah. Hampir setiap hari di rumah, keduanya selalu meracik kopi dengan bahan-bahan rempah.
Kendati begitu, sensasinya tentu berbeda ketika menikmati kopi beraroma rempah langsung dari tanahnya sendiri. Maluku Utara adalah bumi rempah. Bangsa-bangsa di dunia memang mengenal tanah ini sejak lama.
Usai dari kedaton, kami berpamitan akan mengunjungi salah satu titik bersejarah lagi. Sekitar 300 meter dari kedaton, terdapat sebuah benteng peninggalan bangsa Portugis. Posisinya sama dengan benteng sebelumnya. Berada di ketinggian, dari atas benteng ini dapat melihat dengan mudah pemukiman di bawahnya.
Benteng Torre, Tidore. Foto: Rajif Duchlun/cermat
Melalui papan informasi yang berada di lokasi ini, ditulis bahwa dalam buku Documenta Malucensia terdapat sebuah benteng Portugis ke arah utara dari Soa Sio. Dan kemungkinan besar benteng itu adalah benteng Torre. Nama yang sangat mungkin punya hubungan dengan Kapten Portugis kala itu, Hernando De La Torre.
ADVERTISEMENT
Benteng ini dibangun atas perintah Sancho de Vasconcelos yang mendapat izin dari Sultan Gapi Baguna, pada 6 Januari 1578. Izin ini keluar, setelah Portugis diusir dari Ternate oleh Sultan Baabullah.
Dari ketinggian ini juga, Benteng Tahula peninggalan bangsa Spanyol yang sebelumnya kami datangi terlihat sangat jelas. Seolah Spanyol memang sengaja membangun benteng dengan posisi yang berdekatan untuk melawan hegemoni Portugis. Jarak kedua benteng bangsa ini sekiranya hanya 500 meter saja.
Ibu Wati dan Pak Suprayitno terlihat sangat menikmati jejak sejarah ini. Beberapa kali meminta saya memotret mereka menggunakan kamera ponsel milik Pak Suprayitno. Tak tanggung-tanggung, mereka ikut naik ke bagian atas benteng dengan letak yang lebih tinggi.
Sementara di sekelilingnya batu-batu bersusun, juga pohon-pohon kamboja yang tumbuh liar. Ini seolah memberi tanda bahwa di bawah tanah area benteng ini terdapat jejak manusia di masa lalu.
Dari ketinggian Benteng Torre, rumah-rumah warga juga dapat dilihat dengan jelas. Foto: Rajif Duchlun/cermat
Setelah merasa cukup puas melihat sejumlah titik bersejarah, kami kemudian memutuskan untuk segera kembali ke Ternate, siang itu juga. Pak Suprayitno juga sedang punya agenda menyelam di perairan Ternate.
ADVERTISEMENT
Kami memilih kembali ke Pelabuhan Rum Tidore dengan rute berbeda. Seperti Ternate, Tidore adalah pulau yang dapat dikelilingi menggunakan kendaraan darat hanya dalam waktu satu jam lebih.
Namun, Ibu Wati menyarankan agar kami singgah sebentar menikmati Sup Ikan di sekitar Soa Sio. Informasi mengenai makanan ini sendiri ia dengar dari seseorang di Ternate.
Rizal sepertinya juga tahu letak rumah makan yang menjual Sup Ikan. Ia membawa kami ke salah satu rumah makan yang berdekatan dengan Polres Tidore. Ibu Wati yang memesannya langsung kepada penjualnya. Tak lama, Sup Ikan dihidangkan.
Tak disangka, pemilik rumah makan ini berasal dari daerah yang sama dengan Pak Suprayitno. Sambil menikmati hidangan itu, saya melihat mereka tampak begitu bahagia, seperti baru berjumpa kawan lama.
ADVERTISEMENT
Karena sejak pagi belum sempat sarapan, saya hanya bisa menunduk begitu saja menikmati Sup Ikan dengan lahap. Enak sekali.
---
Penulis: Rajif Duchlun
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan