Kumparan Logo
Konten Media Partner

Menilik Kawasan Kampung Papua yang Terdapat di Ternate

Cermatverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Beberapa Honai, rumah  Papua di kelurahan Gambesi Kota Ternate  yang dibangun pada 2015. Foto: Risman Rais/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Beberapa Honai, rumah Papua di kelurahan Gambesi Kota Ternate yang dibangun pada 2015. Foto: Risman Rais/cermat

Honai, rumah Suku Dani Papua itu nampak terlihat ketika memasuki salah satu lokasi wisata di Kelurahan Gambesi, Ternate, Maluku Utara. Terdiri dari enam Honai kecil dan dua Honai besar, rumah-rumah itu dibangun persis dengan Honai yang ada di Wamena, Papua.

Di Papua sendiri, rumah tersebut biasanya didiami oleh tiga suku, yakni Suku Dani di Lembah Baliem, Suku Lani, dan Suku Yali di sekelilingnya. Suasana kawasan ini yang sangat mirip dengan aslinya tentunya akan membuat pengunjung serasa tengah berada di Papua.

Kawasan ini terbentuk dari ide Mochtar Adam, seorang dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Khairun Ternate (Unkhair). Ide ini muncul karena Mochtar Adam melihat banyaknya mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di kampus tempat ia mengajar tersebut. Menurutnya, Honai menjadi identitas orang Papua yang harus dihidupkan di Ternate.

Honai kecil, Rumah Papua, di Kelurahan Gambesi, Kota Ternate Selatan. Foto: Risman Rais/cermat

Kawasan tersebut didirikan sejak 2015 dengan menggunakan lahan milik Mochtar Adam sendiri dengan luasnya kurang lebih lima hektare. Tak sendiri, dalam proses pengelolaan dan pembangunan Hanoi itu, ia juga melibatkan para mahasiswa Unkhair yang berasal dari Papua, misalnya saja seperti Elmianus, Eli, dan Alikius.

Ketiganya ikut terlibat dan pembangunan Hanoi di Kampung Papua dengan memanfaatkan bahan-bahan seperti alang-alang, rotan, kayu balok dan papan yang disediakan Mochtar Adam.

“Pembangunan untuk rumah Papua kecil durasinya empat hari sedangkan rumah besar seminggu,” kata Elmianus ketika ditemui cermat pada Sabtu (23/2).

Elmianus, mahasiswa perikanan semester II ini juga mengatakan, uang pengelolaan yang mereka terima dari pengunjung akan disimpan untuk kebutuhan kuliah. Bagi Elmianus dan mahasiswa lainnya, Mochtar Adam sudah mereka anggap sebagai ayah sendiri.

Selain Elmianus, Eli, dan Alikius ada 32 orang mahasiswa Papua yang terdiri dari 9 perempuan dan 23 laki-laki yang tersebar di Maluku Utara. Mereka merupakan mahasiswa yang mendapatkan bantuan afirmasi dari pihak pemerintah Papua. Sementara itu Kampung Papua mereka gunakan sebagai sampingan untuk biaya studi lainnya.

Elmianus, pengelola kampung Papua mengenakan topi khas Papua, sedang berada di dalam Honai kecil. Foto: Risman Rais/cermat

Elmianus mengatakan kawasan Kampung Papua sempat terlihat belum tertata rapi karena ia dan teman-temannya pulang ke Papua pada saat liburan semester kemarin. Sehingga saat kembali ke Ternate, mereka pun kembali menata dan merapikan lokasi wisata tersebut.

Lelaki yang berasal dari Wamena ini menambahkan rencana untuk menambah Honai tergantung Mochtar Adam. Hal ini melihat kondisi luas lahan di kawasan tersebut yang terlihat masih banyak tempat kosong yang.

“Dengan adanya kampung Papua ini, kami merasa nyaman. Di sisi lain, secara materil dapat membantu kami dalam studi di Ternate maka, kami berterima kasih kepada Bapak angkat Pak Muhtar Adam yang telah menyediakan lahan untuk kami,” kata Elmianus.

Rumah Papua atau Honai Besar. Ada fasilitas internet yang dimanfaatkan mahasiswa Papua untuk mengerjakan tugas kuliah. Foto: Risman Rais/cermat

Bagi pengunjung yang tertarik untuk melihat Hanoi di kawasan ini harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 10.000 per orangnya untuk membayar tiket masuk. Di dalam kawasan ini para pengunjung juga bisa berfoto dengan menyewa beragam pernak-pernik khas Papua yang telah disediakan oleh pihak pengelola.

Pernak-pernik berupa topi, koteka dan tongkat tersebut tentunya asli karena didatangkan langsung dari Papua. Harga sewa yang ditawarkan juga termasuk murah dan terjangkau seperti topi Papua besar Rp15.000, topi Papua kecil Rp10.000, koteka Rp 20.000, dan tongkat Rp10.000.

Sama seperti kawasan wisata pada umumnya, Kampung Papua juga biasanya akan ramai pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Meski begitu, hampir setiap harinya selalu ada pengunjung baik warga lokal maupun luar yang memanfaatkan waktu luang mereka untuk melihat Hanoi.

---

Risman Rais