Menyambut Ramadan di Kampung Orang Buton di Ternate

Ramadan adalah bulan mulia bagi umat Islam di seluruh dunia, oleh karena itu, bagi beberapa orang menjadi penting untuk merayakannya dengan pelbagai cara. Seperti yang dilakukan pemuda RW 001 di Toboleu, Ternate Utara, Maluku Utara ini. Mereka, para pemuda, menghias kampungnya dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.
Sabtu (4/5), belasan pemuda berkumpul di depan jalan Lumba-Lumba. Pandangan mereka sesekali mengarah pada satu titik, yakni sebuah gerbang bambu yang belum kelar dibikin. Dua orang pemuda berada di atas susunan papan, lainnya mengarahkan agar lampu berwarna biru tepat pada posisinya.
Hari sudah semakin gelap, beberapa dari mereka dengan cekatan memotong-sambung kabel. Gerbang Ramadan berjarak dua hari lagi.
Ada sekitar 30an lampu kerlip tergantung di sepanjang jalan tersebut. “Ini adalah inisiatif kami, para pemuda,” ujar Rizkal, yang merupakan sekretaris panitia kampung Ramadan.
“Kami sudah memikirkannya sejak sebulan lalu. Sederhana saja, kami ingin meramaikan kampung dalam menyambut bulan suci ini,” imbuhnya.
Dalam hal pendanaan, Rizkal menjelaskan, kegiatan ini adalah hasil kerja sama semua elemen masyarakat yang ada di kampung yang dikenal dengan nama Koloncucu itu. “Ini partisipasi masyarakat. Setiap rumah memberikan sumbangan untuk kegiatan ini,” katanya.
Matahari sudah jatuh sepenuhnya, gelap mengambil alih pandangan, namun ratusan kerlip cahaya lampu yang tergantung di sepanjang jalan itu menciptakan suasana yang cukup romantis. Rasa penasaran membawa dua perempuan menyusuri jalan itu, satu di antaranya mengambil ponsel untuk ber-swafoto.
“Nanti saat malam ela-ela kami juga bakal bikin sesuatu yang menarik,” ucap salah-seorang pemuda kampung. Malam ela-ela adalah malam di mana Ternate bakal diterangi ribuan cahaya dari obor yang terpasang di depan rumah.
Rizkal, dan para pemuda kampung yang tergabung dalam komunitas bernama Peron, tahu Ramadan tak cukup jika hanya diisi dengan hias-menghias semata.
“Ada juga kegiatan keagamaan,” katanya. Yang dimaksud Rizkal adalah kegiatan belajar mengaji sepanjang Ramadan nanti. Akan tetapi kelas mengaji ini bukan diperuntukan bagi anak-anak kecil, tapi untuk pemuda maupun orang dewasa yang merasa belum lancar dalam mengeja lafadz Alquran.
Selain itu juga rencananya bakal diadakan bagi-bagi takjil untuk para anak-anak yang hidup di kawasan pasar. Tak hanya itu, Rizkal menuturkan bahwa akan diadakan juga buka puasa bersama dengan seluruh masyarakat Koloncucu.
“Baik yang saat ini berdomosili di sini maupun yang pernah tinggal di sini, kami akan undang,” bebernya.
Koloncucu merupakan salah-satu kampung tua di Ternate, bahkan di dalam kampung ini terdapat sebuah masjid yang termasuk dalam salah-satu masjid adat kesultanan Ternate, yakni Masjid Fathilhuda, atau sebelum tahun 1967 bernama Langgar Koloncucu.
Dalam catatan milik H. Ridwan Dero, seorang tokoh masyarakat yang juga adalah perangkat adat di kesultanan Ternate mengatakan bahwa di bagian belakang Masjid tersebut terdapat tiga makam tua milik orang-tua dan anak Boki Wa Tampaidongi, istri salah-satu sultan Ternate. Siapa nama sultan tersebut, Ridwan mengaku belum berhasil mengetahuinya.
Akan tetapi Ridwan memberikan kisi-kisi terkait hal itu, “tinggal cocok-an saja, waktu itu pernikahannya sekitar tahun 1770an,” katanya saat ditemui cermat di kediamannya di lingkungan Facei, Ternate Utara, Minggu (5/5).
Putri Wa Tampaidongi menjadi penting dalam sejarah kampung Koloncucu. Dalam artikelnya, Ridwan Dero menjelaskan, Wa Tampaidongi adalah putri dari raja Buton. Sebulan setelah pernikahan itu, putri tersebut diboyong ke Ternate. Sang Putri tak sendirian, ia membawa 40 orang bersamanya, “Permaisuri Sultan ditemani oleh sebagian keluarga yang berjumlah 40 orang, terdiri dari 20 laki-laki dan 20 perempuan,” tulis Ridwan dalam catatannya berjudul Sejarah Langgar dan Marga Koloncucu.
Seiring berjalannya waktu, atas penghormatan kepada permaisuri, Sultan meminta keluarganya untuk tetap tinggal. Dengan itu Sang Sultan memberikan sebidang tanah di pesisir Ternate. Jaraknya sekitar 450 meter dari Kedaton Kesultanan.
Dari sinilah awal-mula kampung Koloncucu terbentuk. “Jadilah satu masyarakat kecil dari daerah Buton (Koloncucu Ereke),” tulis Ridwan. Menandai hubungan antara dua kesultanan di Nusantara. Namun kini Koloncucu sudah sedemikian heterogen, pelbagai etnis berkumpul di kampung ini.
---
Rizal Syam
