Nasib Kusir 'Bendi' Ternate, Bertahan di Tengah Kemajuan Zaman

Ingatan Abjan Ibrahim melayang ke beberapa tahun silam, ketika keberadaan delman di Ternate, Maluku Utara, masih menjadi primadona. Ya, pria berusia 45 tahun ini telah menjalani pekerjaan sebagai kusir sejak tahun 1983.
"Saya bawa bendi (sebutan untuk delman di Ternate) sejak SMP. Saya bawa saat libur sekolah," tutur pria yang bermukim di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan, itu saat berbincang bersama cermat di atas delman miliknya.
Abjan mengisahkan, saat delman masih di masa kejayaannya, jumlah kusir di Ternate bisa mencapai 30 orang. Peminatnya banyak, kata Abjan, terutama dari kalangan ibu-ibu.
"Biasa mereka minta diantar ke pasar, (untuk) belanja," tuturnya.
Saat itu, kata Abjan, kendaraan roda dua dan empat di Ternate belum seramai sekarang. Tarif delman pun, untuk di dalam kota, masih sekitar Rp 100-300 saja. Sementara untuk tarif ke luar kota, berkisar Rp 1.000-5.000.
"Waktu itu dapat Rp 1.000 saja sudah lumayan," katanya.
Namun, seiring perkembangan alat transportasi, keberadaan delman di Ternate terdegradasi. Moda transportasi tradisional itu tersingkir secara perlahan. Namun Abjan bertahan.
"Sekarang tinggal saya dan teman saya, Tempe namanya," tutur Abjan.
Hampir sepanjang hari, keduanya kerap mangkal di depan Jatiland Mall Ternate. Dalam sehari, mereka hanya mampu meraup duit sebesar Rp 100 ribu. "Tidak menentu juga, tapi paling tinggi itu Rp 150 ribu. Paling kurang Rp 100 ribu lah. Standar itu," tuturnya.
Menurut Abjan, dengan pendapatan sebesar itu sudah cukup baginya untuk menghidupi keluarga dan merawat dua ekor kudanya.
"Pulang dari sini saya kasih makan dan minum. Kalau kenyang kudanya tidur. Termasuk ganti sepatunya. Beri suntikan vitamin juga untuk stamina," tambahnya.
Abjan sendiri memiliki seorang istri yang sehari-harinya berkegiatan sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan dua anaknya baru saja menyelesaikan studi di bangku kuliah dan SMA.
Hampir semua biaya pendidikan dan kebutuhan rumah tangga adalah hasil dari menarik delman. "Dapat besar atau kecil (pendapatan) sama saja, yang penting tahu jaga uang," tuturnya.
Pada tahun 2008, Abjan mengaku, ia dan beberapa rekannya memperoleh 10 ekor kuda melalui tender di masa jabatan Syamsir Andili selaku Wali Kota Ternate. Namun, kuda-kuda tersebut tidak bisa dipakai untuk menarik delman. Alasannya, kondisi fisik kuda kurang energik.
"Jadi ada orang dari Bitung yang datang beli, saya lepas (akhirnya kuda-kuda itu). Waktu itu harganya Rp 500 ribu per ekor," ungkapnya.
Sementara, kuda yang dikendarai Abjan saat ini adalah pemberian dari Dinas Pariwisata Kota Ternate. Jumlahnya dua ekor.
"Satunya ada di rumah, warna putih. Tapi itu saya bawa bergantian saat yang ini dirawat," kata Abjan di atas kuda berbulu coklat itu.
Salah satu alasan yang membuat Abjan masih bertahan sebagai kusir, karena pekerjaan ini dinilai lebih santai. Selain itu, jauh dari risiko kecelakaan lalu lintas.
"Jadi tukang ojek (mengendarai sepeda motor) risikonya tinggi. Apalagi kalau standar setoran Rp 100 ribu per hari, mendingan saya bawa ini (delman)," ujarnya.
Saat ini, kata Abjan, peminat delman didominasi anak-anak. Mereka naik delman hanya sekadar merasakan sensasi bagaimana berada di atas kuda.
"Itu orang tuanya hanya minta berkeliling di seputaran kota ini saja. Tarifnya Rp 20 ribu. Kalau remaja sekarang sudah gengsi (naik delman)," tuturnya senyum.
---
Olis
