Pemkot Ternate Terapkan Program Belajar Lewat TV Kabel, Efektifkah?

Pemerintah Kota Ternate terus berupaya mencari solusi guna memberikan layanan pendidikan selama pandemi COVID-19. Salah satunya dengan cara menerapkan program pembelajaran melalui tv kabel. Namun, apakah program yang telah diresmikan oleh Wali Kota Ternate Burhan Abdurrahman sejak 13 Oktober 2020 lalu itu sudah berjalan maksimal?
Program pembelajaran melalui tv kabel ini awalnya dicetuskan oleh Dandim 1501/Ternate Letkol Inf R. Moch Iskandarmanto sebagai solusi bagi para murid yang tidak memiliki smartphone agar bisa mengikuti pelajaran.
Kendati begitu, dua minggu setelah peresmian, informasi mengenai program tersebut masih tergolong minim untuk sampai ke telinga masyarakat. Ona Muhammad, misalnya, ibu dua anak yang tinggal di Kelurahan Jati Perumnas, Ternate Selatan itu mengaku hanya sepintas lalu mendengar program tersebut.
“Saya pernah dengar katanya ada kebijakan anak-anak bisa belajar dari tv kabel. Tapi cuma begitu saja, tv kabel mana pun saya tra tahu,” ucapnya, Rabu (28/10).
Padahal, Ona memiliki anak yang masing-masing sedang menempuh pendidikan di bangku SD dan SMP. Ia mengaku, selama pandemi anak-anaknya mengikuti pembelajaran daring menggunakan aplikasi whatsapp. Namun kondisi tersebut bukan tanpa kendala, sebab seringkali ketika bekerja ia mesti membawa ponsel pintarnya, jika sudah begitu maka anak-anaknya akan kesulitan mengikuti pelajaran.
Jangankan Ona, guru yang ditugaskan melakukan pembelajaran lewat tv kabel pun tak tahu menahu di saluran mana pelajarannya disiarkan. Adalah Idris Abd. Kadir, guru SMP 6 Kota Ternate yang ditugaskan mengajar PPKN itu mengaku sampai saat ini tak mengetahui tv kabel apa yang digunakan untuk menyiarkan pelajaran yang dibawakannya.
“Mungkin kendalanya itu tv kabel yang mana yang ditunjuk. Di sini kan utara, selatan, tengah, beda-beda (tv kabelnya). Kalau mereka (Pemkot) buat kode khusus supaya semua tv kabel bisa bergabung itu lebih baik,” ucapnya.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskomsandi) Kota Ternate Damish Bashir mengakui, sampai saat ini baru satu perusahaan tv kabel yang diajak bekerja sama dalam penyiaran konten pendidikan tersebut.
Perusahaan itu adalah PT. Mandiri Sarana Informasi (MSI) yang beralamat di Kelurahan Tabona, Ternate Selatan. Ia juga mengakui, dengan hanya satu tv kabel, maka penyebaran konten pendidikan takkan berjalan maksimal. Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya menggandeng perusahaan lain guna bekerja sama dalam program tersebut.
“Kita tahu kan tidak semua orang berlangganan MSI. Banyak yang sudah whatsapp ke saya, katanya mereka tak dapat siaran itu. Ya kalau bisa sih semua tv kabel, jadi mungkin di minggu ini kami akan panggil yang lain,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT. MSI Ade Rahmat saat ditemui cermat membenarkan ihwal kerjasama tersebut. Selain dengan Pemkot, PT. MSI juga sudah terlebih dahulu menjalin kerjasama dengan Detasemen Perhubungan (Denhub) Korem 152/Babullah. Jika Diskomsandi bertugas membuat konten pembelajaran untuk SMP, Denhub kebagian tugas untuk konten SD. Keduanya juga sama-sama bekerjasama dengan Dinas Pendidikan.
“Kami menyediakan satu channel khusus. Jadi kami terima lewat zoom, baru nanti didistribusikan kembali ke pelanggan. Channel yang dikhususkan itu berada di channel S6 VHF,” jelas Ade.
Ade bilang, biasanya penyiaran konten pendidikan itu dimulai pada pukul 08.00 WIT hingga 12.00 WIT. PT. MSI sendiri, kata Ade, memiliki pelanggan yang tersebar dari Kelurahan Jambula hingga Kelurahan Sulamadaha. Tercatat kurang lebih 6000 pelanggan yang menikmati siaran dari PT. MSI.
Dalam kerjasama ini, Ade mengaku tak terlalu mempersoalkan masalah anggaran, ia bahkan berharap bisa membantu pemerintah dalam pelayanan pendidikan.
“Karena saya juga kan punya anak, jadi merasakan juga sulitnya sekolah di masa pandemi,” katanya.
Namun apapun itu, Ade, Ona, dan bahkan Idris menilai pembelajaran tatap muka jauh lebih efektif. Mereka pun berharap agar pandemi COVID-19 segera berakhir sehingga para murid bisa mengikuti pembelajaran di sekolahnya.
“Kalau suara hati guru, kita lebih ingin penyakit ini angkat kaki dari dunia supaya torang bisa bertatap muka dengan anak murid. Karena kita ini guru, selain mengajar juga bertindak sebagai contoh. Kita digugu,” tandas Idris.
