Pertama di Indonesia Timur, Maluku Utara Punya Suaka Paruh Bengkok

Maluku Utara (Malut) saat ini punya Suaka Paruh Bengkok, pertama di Indonesia Timur, yang terletak di Desa Koli, Oba, Tidore Kepulauan. Suaka merupakan upaya untuk konservasi dan rehabilitasi burung paruh bengkok, hingga pelestarian burung endemik dari Maluku Utara.
Ada 25 jenis burung endemik yang berasal Maluku Utara, di antaranya jenis paruh bengkok, seperti Nuri Bayan, Kakatua Putih, dan Kasturi Ternate.
Namun, jenis satwa tersebut terancam populasinya akibat perburuan yang cukup tinggi oleh para penyelundup. Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), Muhammad Wahyudi, dalam acara peresmian Suaka Paruh Bengkok, Senin (24/6), di Desa Koli, Oba Utara, Tidore Kepulauan.
Muhammad mengatakan untuk menjaga kelestarian burung-burung tersebut maka dibangunlah Suaka Paruh Bengkok sebagai pusat penyelamatan, konservasi, dan edukasi.
“Burung-burung hasil tangkapan (dari penyelundup) dimasukkan ke sini, direhabilitasi, yang bisa dirilis akan dirilis (dilepaskan), yang tidak bisa dirilis akan dijadikan edukasi di sini bagi masyarakat,” kata Muhammad.
Suaka Paruh Bengkok yang dibangun sejak tahun 2016 merupakan yang pertama di Indonesia Timur. Suaka ini memiliki luas tiga hektare yang dilengkapi fasilitas berupa kandang karantina, kandang rehabilitasi, klinik satwa, dan kandang habituasi atau kandang rilis, serta pusat informasi.
Sementara untuk tenaga pengelola, terdapat 10 pegawai yang terdiri dari dokter hewan dan animal keeper. Saat ini Suaka Paruh Bengkok tersebut sudah bisa dikunjungi oleh masyarakat. Lokasinya berada sekitar dua kilometer dari Jalan Trans Halmahera, Desa Koli, dan tak jauh dari resort Tayawi.
Kepala Seksi Wilayah 1 TNAL, Raduan, mengatakan suaka tersebut memiliki lebih dari 100 burung yang dapat dilihat masyarakat secara langsung.
“Kami juga berharap burung-burung yang ada di masyarakat dan menurut undang-undang dilindungi, agar secara sukarela diserahkan ke Suaka Paruh Bengkok untuk direhabilitasi,” ujar Raduan.
---
Adlun Fiqri
