Kumparan Logo
Konten Media Partner

Rahmat ‘Poci’ Rivai, Juru Taktik Tim PON Maluku Utara

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Coach Rahmat Rivai saat memberikan arahan pada para pemain yang berlatih di Lapangan Gelora Kieraha Ternate, 17 April 2021. Mereka antusias untuk kesiapan PON di Papua. Foto: Faris Bobero/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Coach Rahmat Rivai saat memberikan arahan pada para pemain yang berlatih di Lapangan Gelora Kieraha Ternate, 17 April 2021. Mereka antusias untuk kesiapan PON di Papua. Foto: Faris Bobero/cermat

Rahmat Rivai, sosok yang sangat familiar bagi publik Maluku Utara itu kini dipercayakan menjadi sang juru taktik Tim Sepak bola PON Maluku Utara.

Bagi orang Ternate, eks pemain Persiter yang akrab dipanggil Poci ini, adalah legenda hidup sepak bola. Saat ini, ia masih tetap di lapangan hijau. Tidak sebagai pemain tentunya, tapi tengah menjalankan misinya sebagai sang pengatur tim.

Poci pada Rabu (28/4) berkesempatan berbagi cerita kepada kru cermat, ketika ia mulai merumput bersama sejumlah tim sepak bola papan atas.

Medio 1992, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Poci sebenarnya sudah merasakan atmosfer pertandingan. Kala itu, ia telah bergabung dengan Persiter Junior dan berlaga untuk Haornas. Usianya masih 15 tahun.

Namun, karirnya terbilang cepat. Dia menjadi salah satu pemain junior yang tak butuh waktu lama bisa bergabung dengan Persiter Senior. Uniknya, Poci tak tumbuh dalam sekolah bola.

Tim PON Maluku Utara antusias berlatih di Lapangan Gelora Kieraha Ternate. Foto: Faris Bobero/cermat

Di Ternate, tahun-tahun tersebut para pemain tumbuh di lapangan hijau tanpa pendidikan sepak bola modern. Diakuinya, mereka hanya bermain ketika matahari mulai condong ke barat, dan baru berhenti ketika suara azan magrib mulai menggema.

“Jadi tahun 1995 sudah bergabung di Persiter Senior. Setiap kali Persiter main di lintas devisi hingga utama, saya selalu terlibat,” ucap Poci, mengenang.

Ketika Persiter berada di devisi 1, dan berkesempatan berlaga di Pekanbaru tahun 1997, Poci tampil memukau bersama rekan setim hingga berhasil menembus babak delapan besar. Ia pun sempat didaulat sebagai salah satu pemain terbaik di delapan besar tersebut.

Rupanya penampilan bagus yang diperankan Poci tengah disorot sang pelatih PSPS Pekanbaru. Bahkan tak tanggung-tanggung, pelatih tersebut pun harus mendatangi tanah kelahiran Poci untuk bisa memboyongnya ke Pekanbaru. Ia menyutujui ajakan itu dan menandatangani kontrak bermain.

Saat akan berpindah klub, sebenarnya sikap dilematis sangat memengaruhinya. Selain restu orangtua, juga rasa pedulinya pada orang terdekat yang turut membesarkannya. Namun, impian harus dikejar, dan si anak Ternate itu pun memutuskan merumput di PSPS Pekanbaru.

Ia cukup lama bermain di Pekanbaru. Tahun 2004 baru ia bisa kembali ke Ternate. Itu pun bukan karena masa kontrak telah selesai.

“Kembali ke Ternate karena sakit kemudian saya tak kembali (ke Pekanbaru) dan diminta Persiter untuk bergabung,” ucap pria kelahiran 1977 itu.

Tahun-tahun setelah kembali dan bergabung dengan Persiter itulah, Poci dan rekan setim berhasil tampil memukau, bahkan menjadi momok bagi tim-tim besar lainnya. Gelora Kieraha Ternate, menjadi saksi bagi kejayaan Persiter, bagaimana riuhnya dukungan suporter dan kemenangan yang kian beruntun.

Coach Rahmat Rivai saat memberikan arahan pada pemain Tim PON Maluku Utara di Lapangan Gelora Kieraha Ternate. Foto: Faris Bobero/cermat

Namun, perlahan masa-masa terang klub kebanggaan orang Ternate itu perlahan redup. Pemain-pemain mulai berpindah klub, begitu juga yang dialami Poci, striker yang dikenal dengan ekor rambutnya itu. Ia pun bermain untuk klub-klub seperti Persitara Jakarta Utara, Sriwijaya FC, Persipura, Persegres Gresik, hingga Persijap Jepara.

“2014-2015 saya pensiun ketika terakhir bermain dengan Persijap Jepara,” ungkapnya.

Sebuah momen penting juga pernah dirasakannya saat berkali-kali diajak masuk Timnas Indonesia, dan bermain untuk laga Perang Bintang Timur-Barat. Laga ini pernah disiarkan secara langsung salah satu stasiun televisi.

Uniknya perang bintang ini berdasarkan poling sms, dan Poci menjadi salah satu pemain dari Timur yang meraih dukungan sms terbanyak, disusul El Loco atau Cristian Gonzales.

Karir gemilang ternyata tak berhenti kala masih aktif memainkan si kulit bundar. Poci terus mengasah naluri sepak bola dengan menjadi seorang pelatih. Berkat tangan dinginnya, tim-tim yang diasuhnya bahkan secara mengejutkan mampu bertanding di panggung sepak bola bergengsi, yakni Piala Soeratin.

Ia pernah mengasuh Persihaltim hingga dua kali mewakili Provinsi Maluku Utara menembus babak delapan besar Piala Soeratin, yakni pada tahun 2016 dan 2018. Tidak cukup sampai di situ, Poci bahkan berhasil memboyong Persiter berusia 18 tahun itu sampai ke final di turnamen yang sama pada tahun 2017.

Kini, ia tengah dipercayakan mengatur sebuah tim sepak bola Maluku Utara untuk agenda PON yang akan dilaksanakan di Papua pada Oktober mendatang. Di bawah sponsor PT NHM dan sang manajer Nuryadin Rachman, ia akan bertindak sebagai kepala pelatih.

Rahmat ‘Poci’ Rivai pun tak tanggung-tanggung terlibat menyeleksi pemain-pemain berbakat dari sejumlah kabupaten dan kota di Maluku Utara.

“Pemain-pemain kita di Maluku Utara ini punya potensi, dan potensi itu saya maksimalkan, karena dengan itu kita akan mampu bersaing,” pungkasnya.