Salat Idul Adha di Kesultanan Ternate
ยทwaktu baca 3 menit

Suara dentingan gamelan dan gong memecah hening, mengawali prosesi jou kolano uci sabea atau sultan turun dari kadato untuk melaksanakan salat.
Pagi tadi, Sabtu (9/7) sekira pukul 07.58 WIT, Kesultanan Ternate menunaikan ibadah Salat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1443 Hijriyah.
Pelaksanaan ini sesuai idin kolano atau semacam maklumat dari Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, secara tertulis untuk bala kusu atau masyarakat adat.
Pantauan cermat, dari atas balakun atau balkon kadato, 12 anak laki-laki berusia belasan tahun beriringan menuruni tangga.
Para bocah tersebut dipimpin oleh Morinyo Kie, Abdul Gani Mustari. Jumlah mereka berdasarkan hitungan tahun Hijriyah.
Berpakaian serba putih dengan penutup kepala yang disebut lastar, mereka membawa perangkat kabasarang kolano.
"Ada bendera Goheba Dopolo Romdidi, topi tembaga, pedang, salawaku, dan tongkat," ucap Morinyo Kie Abdul Gani Mustari.
Setelah 12 bocah, lalu diikuti para imam dari struktur bobato akhirat (dewan keagamaan kesultanan) serta perangkat adat dan bala atau rakyat.
Sang sultan ditandu oleh perangkat adat yang disebut doi-doi menuju sigi lamo atau masjid besar Kesultanan Ternate, yang berjarak sekira 500 meter.
Pemimpin doi-doi yang disebut Kiemalaha Doi, Madjid Husain menuturkan, kursi tandu yang diduduki sultan terdapat 4 lubang. "Dua di kiri dan 2 di kanan," katanya.
Ia bilang, lubang itu dimasukan kayu yang nantinya diletakkan di bahu orang yang bertugas menandu.
"Yang lain menyesuaikan dengan panjang kayu yang disebut doi," jelasnya.
Iring-iringan ini didahului 12 bocah pembawa kabasarang kolano, disusul kelompok penabuh gamelan.
Kemudian penandu sultan dan alfiris atau pengawal yang berada di sisi kiri dan kanan, serta para imam dan masyarakat di belakang.
Ketika sultan dan rombongan berada di dalam masjid, 12 bocah pembawa perangkat mengambil posisi di kiri dan kanan beranda masjid.
Mereka duduk berjejer dan tetap memegang kabasarang kolano hingga selesai salat. Sementara, di dalam masjid, sultan menempati sisi kanan shaf depan.
Ketika sultan dan seluruh jemaah melaksanakan salat, terdapat beberapa kelompok pria dengan kostum dan ikat kepala serba hitam, berdiri di depan gerbang utama masjid.
Mereka adalah kalangan Nasrani dari Soa Tabanga. Salah satu Soa atau marga tertua di Ternate selain Soa Tobona, Tubo, dan Tubuleu.
Kapita Tabanga atau pemimpin Soa Tabanga Nyong Ali menjelaskan, kehadiran Soa Tabanga hanya di 4 hari besar umat Islam.
Seperti malam qunut, lailatul qadar, idul fitri dan idul adha. "Kecuali salat Jumat," katanya.
Menurut Nyong, di mana ada kolano atau sultan, di situ ada Soa Tabanga. "Kita harus pastikan sultan tiba di masjid dengan lancar," jelasnya.
Setelah melaksanakan salat hingga khutbah, rombongan pun kembali ke kadato dalam prosesi yang sama dengan kedatangan.
Terlihat, ratusan jemaah ikut bergabung dalam iring-iringan rombongan hingga tiba di tangga kadato.
Dari atas balakun, sultan mengangkat kedua telapak tangan dan mengarahkan ke perangkat adat dan masyarakat yang ikut menyaksikan.
Lalu, secara serentak menggema kalimat "suba jo ou" dari mulut mereka, sebagai bentuk penghormatan terhadap sang sultan.
