Tantangan Revitalisasi Bangunan Kedaton Kesultanan Ternate

Konten Media Partner
16 Maret 2023 10:30
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Maluku Utara di Hotel Emerald, Kota Ternate. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Maluku Utara di Hotel Emerald, Kota Ternate. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat
Rencana revitalisasi bangunan Kedaton Kesultanan Ternate, Maluku Utara, akan menjadi tantangan tersendiri bagi dunia arsitektur.
Tim review desain revitalisasi Kedaton Kesultanan Ternate, Maulana Ibrahim, mengatakan pihaknya harus ekstra hati-hati.
"Karena ada nilai-nilai yang hidup di dalam," ujar Maulana, dalam FGD yang digelar Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Maluku Utara di Kota Ternate, Rabu (15/3).
Apalagi ritual keagamaan berupa baratib masih rutin dilaksanakan oleh para perangkat adat kesultanan dari struktur bobato akhirat.
"Waktu baratib itu pada malam Senin, Kamis, dan Jumat, yang dimulai pukul 16.00 WIT sampai 18.00 WIT," jelas Maulana.
Sementara, pesan dari Sultan Hidayatullah Sjah, pelaksanaan proyek tidak boleh mengganggu prosesi ritual. "Ini tantangannya," katanya.
Syiar Islam
Keberadaan bangunan di lokasi yang dikenal dengan sebutan Buku Kai Ma Ija itu, kata Maulana, memberikan sebuah stimulus.
Dengan posisi membelakangi gunung mengilustrasikan seperti orang sedang bertafakur. "Berdiam dan berzikir," katanya.
Sebagaimana prasasti yang ditulis dan terpampang di pintu masuk utama balakun, areal utama Kedaton Kesultanan Ternate.
"Bahwa kedaton ini adalah warisan kepada raja yang berkuasa, untuk menjaga negeri ini berbasis syariat Islam," jelasnya.
Itulah kenapa, sambung Maulana, Sigi Lamo atau masjid besar kesultanan berada di luar pintu gerbang besar atau Ngara Lamo.
Tim review desain revitalisasi Kedaton Kesultanan Ternate, Maulana Ibrahim (tengah), bersama Tenaga Ahli Pelestarian, Nadia Purwesti (kiri), dalam Focus Group Discussion yang dipandu oleh Sukarno M. Adam, Direktur Buku Suba Institute. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Tim review desain revitalisasi Kedaton Kesultanan Ternate, Maulana Ibrahim (tengah), bersama Tenaga Ahli Pelestarian, Nadia Purwesti (kiri), dalam Focus Group Discussion yang dipandu oleh Sukarno M. Adam, Direktur Buku Suba Institute. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat
Dalam risetnya di 2011-2016 untuk disertasi, Sigi Lamo diposisikan di luar sebagai bukti syiar bahwa Islam tidak tersembunyi.
"Mungkin di masa sekarang masih diperdepatkan. Tapi dulu tidak ada perdebatan. Islam harus ditampakkan di luar," pungkasnya.
Bagi Maulana, Kedaton Kesultanan Ternate bukan bangunan mati dalam konteks filosofis. "Haritagenya hidup," ujarnya.
Dalam mereview, tim menemukan salah satu ruangan paling menarik yang diberi kode C2. Ruangan itu terbagi dua dan baru muncul di masa sultan ke 48 hingga 49.
Selain itu, tim juga menemukan sebuah pintu di ruangan C2C pada sisi kanan arah ke utara. Dari sinilah muncul konsep pendopo baru.
"Karena sultan ingin ruangan ini dibuat lebih inklusif atau terbuka ke rakyat," ujar dosen Arsitektur Universitas Khairun Ternate ini.
Menguji Sampel
Diketahui, kedaton dibangun pada 24 November 1813 oleh Sultan Muhammad Ali, dan terakhir dipugar pada 1981 atau 41 tahun di saat ini.
Akibatnya, terdapat beberapa sisi bangunan yang mulai keropos. Tim menemukan air merembes dan membuat dinding di beberapa bagian mengelupas.
Saat ini, terdapat 5 item yang diprioritaskan. Pertama, perbaikan atap dan atap dak, mengganti bahan seng dengan sirap, serta perbaikan plafon.
Kedua, perbaikan dinding dan plesteran. Tiga, perbaikan pintu, jendela, engsel, grendel, serta ubin lantai.
Keempat, mengembalikan ruang di bawah balakun ke bentuk asli di masa lalu. Kelima, membongkar beberapa bagian yang permanen dan diganti dengan semi permanen.
Gambar Kedaton Kesultanan Ternate dengan berbagai sudut dari tahun ke tahun dalam dokumen review desain revitalisasi Kedaton Kesultanan Ternate. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Kedaton Kesultanan Ternate dengan berbagai sudut dari tahun ke tahun dalam dokumen review desain revitalisasi Kedaton Kesultanan Ternate. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat
Sebelumnya, tim telah mengambil tiga elemen pada dinding sebagai sampel, di antaranya acian, plesteran, dan spesi. "Tiga bagian ini yang akan diperbaiki," katanya.
Sedangkan titik pengambilan sampel ditentukan berdasarkan dugaan usia bangunan dan letak. "Penamaan sampel ditentukan berdasarkan denah bangunan," jelasnya.
Pada prinsipnya, kata Maulana, rencana revitalisasi ini untuk mempertahankan ciri budaya lokal serta nilai penting pada bangunan.
"Kemudian tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya Kesultanan Ternate maupun yang hidup di masyarakat," jelasnya.
Yang terpenting, memperhatikan konsep keaslian yang terdiri dari bentuk, warna, tata letak, tata ruang, dan keaslian fungsi.
Tenaga Ahli Pelestarian, Nadia Purwesti, menjelaskan dalam perubahan dan penambahan, ada peringkat nilai yang harus diperhatikan.
Menurutnya, ada kategori istimewa, netral, intrusif, dan sedang. Kemudian istimewa, penting, sedang, kurang, dan mengganggu.
"Peringkat nilai dengan kategori istimewa tidak boleh dibongkar sama sekali," ungkapnya. "Peringkat nilai sangat penting."
Instruksi Presiden
Kasie Pelaksana Wilayah BPPW Malut Kementerian PUPR, Muslim Saleh, menambahkan revitalisasi kedaton adalah tindak lanjut dari instruksi Presiden Jokowi.
Kasie Pelaksana Wilayah BPPW Malut Kementerian PUPR, Muslim Saleh. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kasie Pelaksana Wilayah BPPW Malut Kementerian PUPR, Muslim Saleh. Foto: Istimewa
Ia bilang, ada dua hal yang diperoleh masyarakat terkait kunjungan Jokowi pada 28 September 2022. Pertama pembangunan Pasar Jailolo.
"Kedua, instruksi merevitalisasi bangunan Kedaton Kesultanan Ternate," ujar Muslim kepada cermat, Kamis (16/3).
Karena kedaton masuk kegiatan cagar budaya, maka pihak kesultanan pun melakukan kajian pada November-Desember 2022.
Menurutnya, ini berdasarkan amanat dari Peraturan Menteri PUPR Nomor 19 Tahun 2021 tentang Pelestarian Bangunan Cagar Budaya.
"Kemudian Kementerian PUPR melalui BPPW Malut melakukan review detail engineering design (DED)," ujar Muslim.
Sebelumnya, kegiatan DED disusun oleh satuan kerja penataan bangunan dan lingkungan pada 2016. "Tapi DED saat itu belum melalui kajian," katanya.
DED pun kembali dikaji pada November-Desember 2022. Dan di 2023 ini, tim diberi waktu selama 3 bulan. Mulai dari 5 Januari hingga 4 April.
"Insya Allah pekan kedua April, proses revitalisasi sudah bisa dilelang dengan jangka waktu pelaksanaan kurang lebih 6 bulan," jelasnya.
Targetnya, pada Desember 2023, beberapa bagian struktur bangunan kedaton berubah. "Insya Allah," ucap Muslim menambahkan.
Ia mengakui, bahwa Kedaton Kesultanan Ternate bukan bangunan biasa. Tapi bangunan cagar budaya yang masuk dalam agenda nasional.
"Sehingga butuh tim yang berkompeten. Terdiri dari akademisi serta tim ahli cagar budaya yang direkomendasikan pusat," jelasnya.
Bagi Muslim, output yang dihasilkan harus benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Karena kedaton beda dengan bangunan pada umumnya.
"Kedaton Kesultanan Ternate ini berusia 210 tahun. Tepatnya 1813 silam dan revitalisasi terakhir pada 41 tahun lalu," ujarnya.
Ia berharap pasca revitalisasi, ada dukungan dari Pemerintah Provinsi Malut maupun Pemerintah Kota Ternate dalam hal pemeliharaan.
"Kami harap ada intervensi pemeliharaan, terutama pemerintah kota. Karena kedaton tidak ada biaya pemeliharaan," ujar Muslim.