Konten dari Pengguna

Saat Kepintaran Lebih Diutamakan daripada Adab dan Sopan Santun

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ceycilia Carmelita Silaban tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

oleh: Josua manullang
zoom-in-whitePerbesar
oleh: Josua manullang

Saat ini masyarakat cenderung menjadikan kepintaran intelektual (IQ) sebagai tolok ukur utama kesuksesan, sementara adab dan sopan santun justru terpinggirkan. Fenomena ini tampak nyata di dunia pendidikan, media sosial, hingga kehidupan sehari-hari. Akibatnya, kita sedang membentuk generasi yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara moral dan sosial.

Data menunjukkan bahwa 85 persen kesuksesan seseorang ditentukan oleh soft skill dan karakter, bukan nilai akademik semata. Namun, sistem pendidikan kita masih didominasi budaya pengejaran peringkat, sehingga guru kehilangan otoritas moral dan relasi hormat antara murid-guru menjadi renggang. Di ruang digital, kepintaran sering disalahgunakan untuk ujaran kebencian dan merendahkan orang lain, mencerminkan degradasi etika yang mengkhawatirkan.

Indonesia sebenarnya kaya akan nilai luhur yang menjunjung adab di atas ilmu, seperti ajaran al-adabu fauqal 'ilmi dan konsep srawung dalam budaya Jawa. Namun, budaya instan dan individualisme modern telah menggerus tradisi tersebut. Akibatnya, pendidikan kehilangan esensinya sebagai proses pemanusiaan (ta'dib) dan hanya menjadi transfer pengetahuan teknis semata.

Pemulihan keseimbangan memerlukan langkah nyata: (1) evaluasi kurikulum agar karakter dinilai setara dengan akademik, (2) penguatan peran keluarga sebagai madrasah pertama, (3) literasi dan etika digital bagi generasi muda, (4) perlindungan hukum yang adil bagi guru agar berani mendidik karakter, serta (5) penghidupan kembali nilai-nilai luhur budaya lokal. Negara seperti Jepang dan Tiongkok telah membuktikan bahwa adab dan prestasi dapat berjalan beriringan.

Kepintaran dan adab bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan harus saling melengkapi. Kepintaran tanpa adab kehilangan arah, sedangkan adab tanpa kepintaran sulit berkembang. Sudah saatnya kita memulai dari hal kecil—mengucap salam, menghormati orang tua, dan berkata santun—karena pada akhirnya, kepintaran membuat kita sukses, tetapi adab-lah yang membuat kita dihormati. Demi Indonesia Emas 2045, mari kita bangun generasi yang cerdas sekaligus beradab.