Konten dari Pengguna

Sadar Trauma: Bukan Sekadar Istilah, Tapi Jalan Panjang Menuju Pulih

Ceycilia Carmelita Silaban

Ceycilia Carmelita Silaban

Mahasiswa Fakultas Ilmu Hukum UNIVERSITAS KATOLIK SANTO THOMAS MEDAN

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ceycilia Carmelita Silaban tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

oleh:Ceycilia
zoom-in-whitePerbesar
oleh:Ceycilia

Anak Remaja Hari Ini Bawa Luka yang Tak Terlihat, Apakah Kita Peduli?

Lihatlah anak remaja di sekitar kita. Ada yang pendiam di sudut kelas. Ada yang tertawa keras tapi matanya kosong. Ada yang pinter banget di sekolah, tapi tiba-tiba kabur tanpa alasan. Ada yang baik banget sama semua orang, tapi diam-diam menyakiti dirinya sendiri.

Kita sering berpikir mereka baik-baik saja. "Masih muda, masa punya masalah." Atau lebih parah: "Zaman sekarang anak-anak lebay, dikit-dikit trauma."

Tapi apakah benar begitu?

Sebagai orang dewasa, kita perlu jujur. Remaja saat ini tumbuh di zaman yang paling rumit dalam sejarah manusia. Mereka harus pintar akademik, aktif organisasi, punya banyak teman, eksis di media sosial, tampil sempurna di depan kamera, tapi juga tetap rendah hati. Tekanan itu datang dari orang tua, guru, teman sebaya, bahkan dari algoritma TikTok yang terus membandingkan mereka dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih bahagia.

Dan di tengah semua tekanan itu, tak sedikit dari mereka yang sebenarnya sedang membawa luka psikologis yang dalam. Luka yang tidak kelihatan. Luka yang sering kita abaikan karena terlalu sibuk menuntut nilai rapor dan prestasi.

Apa saja bentuk trauma yang umum dialami remaja?

Pertama, trauma dari pola asuh yang salah. Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa kata-kata kasar, bentakan, hinaan, atau bahkan "diam" sebagai hukuman bisa meninggalkan luka berkepanjangan. Seorang remaja yang setiap hari disebut "bodoh" atau "tidak berguna" oleh orang tuanya—mungkin bercanda, mungkin serius—akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya memang tidak layak dicintai. Itu bukan cuma sakit hati. Itu adalah fondasi rusak yang akan ia bawa sampai dewasa.

Kedua, trauma dari perundungan (bullying). Sekolah seharusnya menjadi tempat aman, tapi bagi banyak remaja, sekolah adalah medan perang. Diejek bentuk badan. Diolok-olok gaya bicara. Dikucilkan dari grup pertemanan. Bahkan sekarang, perundungan tidak berhenti di gerbang sekolah. Ia ikut pulang lewat ponsel. Komentar jahat, ancaman, dan penyebaran rahasia pribadi dilakukan dengan mudah di media sosial. Bayangkan, seorang anak berusia 14 tahun harus menghadapi seratus pesan kebencian setiap hari. Dewasa saja tidak kuat, apalagi anak yang masih mencari jati diri.

Ketiga, trauma dari tuntutan sempurna. Anak remaja masa kini tumbuh dengan tekanan luar biasa untuk menjadi yang terbaik. Nilai harus 100. Ranking harus juara. Harus masuk PTN favorit. Harus punya segudang prestasi. Tanpa sadar, orang tua dan sistem pendidikan telah menciptakan generasi yang takut gagal. Mereka hidup dalam ketakutan terus-menerus. Dan ketika mereka jatuh, mereka tidak punya keberanian untuk bangun lagi. Itu juga trauma. Trauma karena tidak pernah diizinkan menjadi manusia yang biasa-biasa saja.

Lalu, bagaimana ciri-ciri remaja yang sedang mengalami trauma?

Mereka mungkin menjadi pendiam dan menarik diri. Atau sebaliknya, menjadi sangat agresif dan mudah marah. Mereka bisa kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai. Nilai sekolah mereka mungkin turun drastis. Mereka sering mengeluh sakit padahal tidak sakit-sakitan. Mereka susah tidur atau justru tidur sepanjang hari. Yang paling mengkhawatirkan, mereka mulai berbicara tentang kematian atau menyakiti diri sendiri.

Tapi seringkali, kita melewatkan semua tanda itu. Kita bilang, "Ah, cuma lagi bad mood." Atau, "Nanti juga sembuh sendiri." Atau paling menyakitkan, "Kamu cari perhatian."

Padahal, mereka tidak sedang cari perhatian. Mereka sedang berteriak minta tolong dengan cara yang bisa mereka lakukan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, guru, atau sekadar orang dewasa di sekitar remaja?

Pertama, dengarkan tanpa menghakimi. Jangan langsung memberi nasihat. Jangan bilang "kamu harusnya bersyukur." Cukup dengar. Cukup katakan, "Aku di sini untukmu." Terkadang, yang paling dibutuhkan anak remaja bukanlah solusi, tapi ruang aman untuk meluapkan apa yang ia rasa.

Kedua, jangan remehkan perasaan mereka. Jangan pernah berkata, "Kok gitu aja trauma?" karena luka psikologis tidak pernah bisa diukur dari luar. Apa yang terlihat kecil bagi kita, bisa jadi sangat besar bagi mereka yang mengalaminya.

Ketiga, ajak mereka ke profesional jika diperlukan. Psikolog remaja bukanlah sesuatu yang menakutkan. Justru, itu adalah bentuk kasih sayang paling nyata yang bisa kita berikan. Sama seperti kita membawa anak ke dokter saat badannya sakit, kita juga perlu membawa mereka ke psikolog saat jiwanya sakit.

Keempat, ubah lingkungan sekitar. Jika sumber trauma berasal dari sekolah atau pergaulan, jangan ragu untuk berbicara dengan guru atau kepala sekolah. Jika berasal dari pola asuh, kita sebagai orang tua harus berani introspeksi dan berubah. Tidak ada yang salah dengan mengakui kesalahan dan belajar menjadi lebih baik.

Dan untuk anak remaja yang mungkin sedang membaca opini ini: kamu tidak sendiri. Apa yang kamu rasakan adalah valid. Kamu tidak lemah karena terluka. Kamu tidak aneh karena merasa berbeda. Kamu berhak untuk sembuh. Kamu layak untuk dicintai. Dan meskipun terasa berat, tolong jangan menyerah. Dunia masih butuh dirimu.

Kita semua bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi kesehatan mental anak-anak remaja. Karena hari ini mereka membawa luka yang tak terlihat, tapi kelak mereka akan menjadi orang dewasa yang ingat: apakah saat ia terluka, ada orang yang menengok atau justru berpaling.

Mari kita jadi orang yang menengok. Bukan sekadar melihat, tapi benar-benar peduli.