Bahasa di Balik Iklan Skincare

Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Cezia Lintang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini, promosi produk perawatan kulit bisa dengan mudah dijumpai di berbagai platform, mulai dari saluran TV hingga jaringan sosial. Banyak merek bersaing untuk menarik perhatian publik dengan memperlihatkan produk mereka dan menjelaskan keuntungan yang ditawarkan. Namun, jika kita teliti lebih lanjut, iklan tidak sekadar berfungsi untuk memasarkan produk. Cara penyampaian informasi, pemilihan kata, dan pendekatan terhadap dialog juga berperan signifikan dalam menarik perhatian pelanggan potensial. Ini menjadi sangat menarik untuk dieksplorasi melalui analisis wacana, sebab bahasa yang dipakai dalam iklan memiliki maksud tertentu, yaitu untuk menyampaikan informasi sekaligus menciptakan minat terhadap produk.
Fenomena ini dapat diamati dalam iklan tiga merek skincare lokal, yaitu Azarine, NPURE, dan Somethinc. Ketiganya memasarkan produk perawatan kulit, namun memiliki metode penyampaian pesan yang berbeda. Berdasarkan uraian iklan yang telah diteliti, Azarine menggunakan skenario sehari-hari sebagai pembuka, NPURE mengangkat tema mengenai keluarga dan perawatan kulit, sementara Somethinc memperlihatkan masalah kulit sebelum mengenalkan produknya. Variasi ini menunjukkan bahwa setiap merek memiliki pendekatan unik dalam membangun wacana iklan.
Realitas Keseharian
Dalam promosi Azarine, pesan dijalin melalui kondisi cuaca. Salah satu kalimat terkenal yang muncul adalah "Siapkan payung sebelum hujan". Kalimat ini kemudian dihubungkan dengan produk dari Azarine. Iklan ini juga menekankan bahwa produknya memiliki tekstur yang ringan, tidak lengket, dan berfungsi untuk melindungi kulit dari sinar UV A dan UV B.
Penggunaan frasa "siapkan payung" membuat pesan iklan terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat sudah menyadari bahwa payung disiapkan untuk menghadapi hujan. Dalam iklan itu, konsep tentang persiapan dan perlindungan diarahkan pada pentingnya merawat kulit. Dengan pendekatan ini, Azarine tidak langsung memperkenalkan produknya di awal, tetapi membangun konteks yang mudah dimengerti sebelum mengungkapkan pesan promosi.
Dari perspektif wacana, pendekatan ini menunjukkan adanya hubungan antara konteks dialog dan tujuan iklan. Ungkapan yang dikenal luas digunakan untuk membawa audiens pada produk yang dipromosikan. Strategi ini menjadi salah satu bentuk persuasi karena pesan promosi disampaikan melalui situasi yang familiar bagi pendengar.
Dinamika Skincare
Berbeda dengan Azarine, iklan NPURE cenderung lebih fokus pada obrolan mengenai keluarga, umur, penampilan, dan kesehatan kulit. Salah satu ungkapan dalam transkripnya berbunyi, “Penampilan dan kulit harus dirawat dengan baik. ” Ada juga pernyataan, “Merawat kulit memerlukan perhatian yang sama seperti merawat keluarga. ”
Kedua ungkapan ini menunjukkan bahwa NPURE menyampaikan pesan melalui pengalaman yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Diskusi tentang keluarga dan perubahan kulit membuat iklan terasa seperti percakapan sehari-hari. Ide tentang perawatan kulit tidak hanya disampaikan melalui deskripsi produk, tetapi juga melalui perbincangan mengenai perhatian terhadap diri sendiri.
Perbandingan antara merawat kulit dan merawat keluarga menjadi aspek menarik dalam iklan ini. Rasa cinta yang biasanya terhubung dengan hubungan keluarga dipakai untuk menggambarkan pentingnya perawatan kulit. Dengan demikian, pesan iklan dibangun berdasarkan keterikatan emosional dan pengalaman sosial. Metode penyampaian yang demikian menunjukkan bahwa bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan suasana akrab sekaligus menarik perhatian audiens terhadap pesan yang ingin disampaikan.
Di sisi lain, Somethinc menerapkan pendekatan berbeda dalam penyampaian. Iklan mereka dimulai dengan sebuah pertanyaan, “Ada yang bisa saya bantu? ” Lalu, muncul permintaan, “Tolongin kulitku dong,” yang diikuti dengan permintaan serupa dari karakter lainnya. Selanjutnya, produk Somethinc diperkenalkan dan iklan menjelaskan tentang formulasi yang telah melalui uji klinis.
Jika diamati, narasi iklan ini bergerak dari masalah menuju tawaran solusi. Penonton diajak untuk melihat situasi di mana beberapa individu memerlukan bantuan untuk masalah kulit mereka. Produk kemudian muncul sebagai salah satu jawaban atas tantangan tersebut. Pendekatan ini membuat pengenalan produk terasa terintegrasi dalam dialog yang sedang berlangsung.
Somethinc juga memakai ungkapan “Skin salabim pakai Somethinc”. Ungkapan ini menarik untuk dianalisis sebagai permainan kata karena menggunakan frasa kreatif yang memperkuat penyampaian pesan iklan. Selain itu, terdapat juga frasa “Let me think” di tengah percakapan dalam bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Inggris tersebut bisa dipandang sebagai alih kode jika dilihat dalam konteks percakapan secara keseluruhan.
Namun demikian, klaim dalam iklan tentang produk sebagai solusi sebaiknya dipahami dalam kerangka strategi pemasaran. Transkrip iklan itu sendiri belum cukup untuk mengonfirmasi bahwa produk tersebut efektif atau sesuai untuk semua konsumen.
Merayu Lewat Kata
Dalam perbandingan ketiga merek, tampak jelas bahwa setiap merek memiliki pendekatan persuasi yang unik. Azarine mengaitkan situasi harian dengan kebutuhan perlindungan kulit. NPURE mengedepankan percakapan mengenai keluarga, usia, serta perawatan untuk mendekatkan diri dengan audiens. Sementara itu, Somethinc menyoroti masalah kulit yang diidentifikasi sebagai hal yang bisa diselesaikan dengan produk mereka.
Perbedaan tersebut juga dapat dilihat pada pilihan kata yang digunakan oleh masing-masing merek. Azarine mengedepankan istilah seperti “ringan”, “tidak lengket”, dan “pelindung”. NPURE memilih kata-kata seperti “mulus”, “cantik”, dan “kulit sehat”. Di sisi lain, Somethinc menggunakan istilah seperti “teruji klinis” dan “solusi”. Pilihan kata tersebut berkontribusi pada pengembangan pesan yang ingin disampaikan oleh tiap merek.
Pada akhirnya, iklan perawatan kulit tidak hanya berfokus pada produk yang ditawarkan, tetapi juga pada cara bahasa digunakan untuk menyampaikan informasi. Melalui analisis ini, kita bisa mengerti bahwa dialog, pilihan kata, dan kreativitas dalam berbahasa menjadi aspek penting dalam strategi pemasaran. Namun, perbedaan dalam metode beriklan tidak menunjukkan bahwa satu merek lebih berhasil daripada yang lain. Ini memerlukan penelitian lebih lanjut tentang reaksi konsumen.
Dengan menyadari bagaimana bahasa berfungsi dalam iklan, publik dapat menjadi lebih kritis saat menerima pesan promosi. Konsumen tidak hanya perlu memperhatikan bahasa yang menarik, tetapi juga harus menganalisis informasi serta klaim produk dengan teliti sebelum membuat keputusan. Dari sini, bahasa dapat dilihat sebagai elemen krusial dalam menciptakan daya tarik iklan serta membentuk cara masyarakat menerima informasi dalam kehidupan sehari-hari.
