Konten dari Pengguna

Menghunus Pena, Menjaga Lisan, Analogi Kesatria dalam Adab Mengkritik Guru

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Chadziq Mujtaba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang mahasiswa berjubah kesatria menghunus pena di hadapan seorang guru, melambangkan keberanian berpikir kritis yang tetap dijaga dengan adab. (Ilustrasi dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang mahasiswa berjubah kesatria menghunus pena di hadapan seorang guru, melambangkan keberanian berpikir kritis yang tetap dijaga dengan adab. (Ilustrasi dibuat oleh AI)

Seorang kesatria sejati tidak pernah diukur hanya dari seberapa tajam pedang yang ia miliki, melainkan dari kebijaksanaannya dalam menentukan kapan dan bagaimana pedang itu harus dihunus. Di era digital dan keterbukaan informasi saat ini, “pedang” bagi para pencari ilmu, khususnya mahasiswa, adalah pena, gagasan, dan kelantangan suara kritis. Namun belakangan ini kita sering disuguhi fenomena di mana ketajaman argumen mengorbankan satu hal yang amat sakral, yaitu adab terhadap guru atau pendidik.

Ketika kritik disampaikan dengan cara yang menyerang pribadi, merendahkan, atau lewat diksi yang sinis, di sanalah kesatria tersebut telah kehilangan kehormatannya. Mempertanyakan kebijakan atau meluruskan sebuah kekeliruan akademis adalah hak, bahkan kewajiban kaum intelektual. Namun menanggalkan sopan santun di hadapan orang yang telah mentransfer ilmu adalah sebuah kemunduran moral.

Menjadi kritis bukan berarti menjadi pembangkang tanpa arah. Kesatria yang menghunus penanya harus berbasis pada data, objektivitas, dan niat untuk memperbaiki situasi atau ishlah, bukan demi panggung popularitas atau kepuasan ego sesaat. Ketika berhadapan dengan guru atau otoritas kampus, kritik seharusnya mewujud dalam bentuk dialog yang sehat, bukan konfrontasi yang menjatuhkan wibawa.

Dalam tradisi keilmuan yang panjang, para ulama dan pemikir besar zaman dahulu pun sering berbeda pendapat dengan guru-guru mereka. Namun mereka mencontohkan bagaimana perdebatan ilmiah tetap dibalut dengan rasa takzim yang luar biasa. Mereka mengkritik argumennya, bukan menyerang personanya.

Hal ini juga berlaku dalam konteks yang lebih luas, seperti saat mahasiswa menyuarakan aspirasi atau mengkritik kebijakan pemerintah. Pemerintah maupun pihak birokrasi kampus adalah struktur otoritas yang dalam penyampaian evaluasinya memerlukan seni berkomunikasi. Ketika kelantangan suara tidak dibarengi dengan kebersihan lisan, substansi kritik yang awalnya baik justru akan kabur dan tertutup oleh cara penyampaian yang buruk.

Masyarakat tidak akan melihat apa yang diperjuangkan, melainkan bagaimana cara perjuangan itu dilakukan. Kritik yang beradab justru memperlihatkan kelas intelektual si pengkritik, sekaligus membuat pihak yang dikritik merasa dihormati secara manusiawi, sehingga pesan perbaikan lebih mudah diterima.

Pada akhirnya, ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kecerdasan yang angkuh. Menghunus pena untuk melawan ketidakadilan atau kekeliruan adalah sebuah keberanian yang mulia, tetapi menjaga lisan agar tetap berada dalam koridor penghormatan adalah benteng moralnya. Mari kembali menjadi kesatria akademis yang disegani karena ketajaman berpikirnya, sekaligus dicintai karena keindahan adabnya.