Konten dari Pengguna

Putus Siklus Narkoba Digital, Rebut Kembali Masa Depan Melalui Qiyamul Lail

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Chadziq Mujtaba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang pemuda yang istiqomah qiyamul lail sebagai bentuk detoks dari narkoba digital di pagi hari. (Ilustrasi dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang pemuda yang istiqomah qiyamul lail sebagai bentuk detoks dari narkoba digital di pagi hari. (Ilustrasi dibuat oleh AI)

Mata belum sepenuhnya terbuka, kesadaran juga baru terkumpul separuh, tapi tangan sudah refleks meraba-raba kasur mencari ponsel. Begitu layar menyala, ritual pagi yang sebenarnya merusak itu langsung dimulai. Niat awalnya cuma mau lihat jam atau matikan alarm, tapi jempol keburu otomatis membuka aplikasi media sosial. Dari satu video pendek ke video lainnya, sepuluh detik pertama masih terasa biasa saja, detik kedua puluh mulai asyik, dan tanpa sadar tiga puluh menit sudah lewat begitu saja. Sadar atau tidak, kita baru saja mengonsumsi apa yang belakangan disebut narkoba digital candu tak kasatmata yang berhasil membajak waktu paling sakral dalam sehari, sebelum fajar bahkan sempat menyingsing.

Bajak Pagi, Bajak Dopamin

Kebiasaan ini disamakan dengan narkoba karena cara kerjanya memang mirip dari memanipulasi dopamin, hormon yang mengatur rasa senang, penghargaan, sampai motivasi instan di otak kita. Padahal, secara ideal, saat baru terbangun di keheningan pagi, otak manusia justru berada dalam kondisi paling tenang dan jernih waktu terbaik untuk berpikir jernih, merencanakan hari, atau membayangkan masa depan yang ingin dituju. Tapi begitu kita langsung menyuguhkan konten digital sesaat setelah membuka mata, otak dihujani stimulus instan bertubi-tubi. Satu video lucu menaikkan dopamin, satu berita viral membuatnya melonjak lagi, dan dalam hitungan detik otak dipaksa bekerja keras mencerna informasi tanpa jeda. Dopamine hit gratisan yang terlalu tinggi ini pada akhirnya membuat kita kecanduan, menuntut kepuasan serupa setiap hari, sampai perlahan menggerus motivasi alami untuk beraktivitas.

Dampak Nyata bagi Generasi yang Kehilangan Fokus dan Visi

Dampak dari menu pembuka hari ini tidak main-main. Perlahan tapi pasti, ia membajak visi masa depan dan mengaburkan fokus generasi muda. Otak yang sudah terbiasa mendapat kesenangan instan di detik-detik pertama bangun tidur akan langsung merasa malas dan lemas begitu dihadapkan pada realitas hidup yang butuh proses panjang. Alih-alih bangun dengan target hidup yang jelas, kita justru memulai hari dengan ketergantungan pada algoritma dan tren yang sedang ramai di luar sana. Ruang kepala yang seharusnya diisi ketenangan batin malah dikotori pencapaian orang lain yang memicu kecemasan, atau berita negatif yang memicu stres sejak dini hari. Kita membiarkan diri diperbudak layar, sementara waktu terbaik yang penuh keberkahan menguap begitu saja menjadi durasi rebahan yang sia-sia di atas kasur.

Solusi Spiritualnya Tinggalkan Gadget, Jemput Qiyamul Lail dan laksankan sholat Subuh

Kecanduan ini tidak akan hilang begitu saja tanpa keberanian mengambil kendali dan mengalihkan orientasi hidup ke hal yang jauh lebih mulia. Alih-alih membiarkan jempol terjebak dalam pusaran scrolling tanpa ujung, langkah terbaik memutus siklus narkoba digital ini adalah menjemput ketenangan sejati lewat ibadah di sepertiga malam terakhir. Momen berharga saat mata pertama kali terbuka semestinya dipakai untuk segera bangkit dari tempat tidur, meninggalkan jauh-jauh perangkat digital, lalu mengambil air wudu dan mendirikan salat malam atau qiyamul lail. Di saat dunia masih terlelap dalam sepi, sujud dalam qiyamul lail memberi kekuatan mental dan spiritual yang tidak akan pernah bisa ditandingi kesenangan semu dari aplikasi mana pun.

Lewat qiyamul lail yang dilanjutkan salat subuh secara khusyuk, kita sebenarnya sedang menata ulang isi kepala dan menyucikan jiwa dari polusi dopamin digital yang merusak. Setelah bersujud dan menyerahkan segala urusan kepada Sang Pencipta, pakai waktu fajar yang masih murni itu untuk duduk tenang tanpa menyentuh layar sama sekali menghirup udara pagi, membiarkan pikiran mengembara memikirkan target harian dan mimpi besar yang ingin dicapai. Keheningan setelah qiyamul lail dan salat subuh adalah modal terbaik untuk membangun fokus tajam sebelum dunia luar jadi bising oleh kesibukan. Pada akhirnya, meninggalkan narkoba digital demi bersujud di waktu subuh adalah cara paling elegan untuk merebut kembali kendali atas waktu, pikiran, dan masa depan yang sepenuhnya ada di tangan kita sendiri.