Konten dari Pengguna

Tinggal di Asrama dan Kesehatan Mental Mahasiswi: Belajar Pluralisme dan Toleran

Chaesa Nahda
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Jember
23 November 2025 16:19 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tinggal di Asrama dan Kesehatan Mental Mahasiswi: Belajar Pluralisme dan Toleran
Hidup di asrama tidak selalu mudah, tapi justru membuat saya lebih dewasa, mandiri, dan merasa diterima sebagai perempuan perantau
Chaesa Nahda
Tulisan dari Chaesa Nahda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Tinggal di asrama sering dianggap penuh aturan dan drama. Namun bagi saya hidup di Asrama Al Aqobah justru memberikan pengalaman berbeda. Di tempat ini saya belajar bahwa keberagaman bukan hanya konsep dalam buku kuliah, tetapi sesuatu yang benar benar tumbuh dari keseharian. Dan tanpa disadari, pengalaman tersebut banyak memengaruhi kondisi mental saya sebagai mahasiswa perantau.
ADVERTISEMENT

Keramaian yang Menghadirkan Rasa Aman

Asrama hampir tidak pernah sepi. Ada saja aktivitas yang terdengar—ada yang berbincang, tertawa, atau sekadar melintas di lorong. Awalnya saya kira suasana seperti ini akan melelahkan, tetapi ternyata keramaian itu justru membawa rasa aman. Rasanya selalu ada seseorang di dekat kita, dan itu membuat hari-hari kuliah yang berat terasa sedikit lebih ringan.
Buat perempuan yang terbiasa bergantung pada keluarga, berada di lingkungan baru dengan banyak orang ternyata memberi rasa terlindungi yang tidak saya kira sebelumnya.
kebahagiaan mahasantri menyambut hari santri nasional

Tidak Pernah Benar-Benar Merasa Sendiri

Hal paling berdampak bagi saya adalah adanya teman untuk berbagi cerita kapan pun dibutuhkan. Entah setelah praktikum melelahkan, saat sedang stres menghadapi tugas, atau hanya ingin bercerita tanpa alasan. Ada teman yang mendengarkan, dan itu sangat membantu menjaga kestabilan emosi. Untuk mahasiswa yang jauh dari rumah, dukungan seperti ini sangat berarti.
ADVERTISEMENT
Keberadaan sesama mahasiswi yang saling memahami beban akademik dan emosional benar-benar membuat saya merasa tidak sendirian.

Pluralisme dalam Kehidupan Nyata

Penghuni Al Aqobah datang dari berbagai daerah, memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda-beda. Di sinilah saya belajar memahami bahwa pluralisme bukan sekadar teori. Setiap orang punya cara sendiri menjalani hari, dan itu tidak harus sama dengan diri kita. Pelan-pelan saya belajar menghargai perbedaan itu—memberi ruang ketika seseorang sedang ingin sendiri, memahami ketika seseorang lelah, dan tidak memaksakan kehendak hanya karena kita berbeda pendapat.
kehangatan yang tercipta dari sebuah perbedaan pendapat

Budaya Berbagi yang Tumbuh Tanpa Dipaksa

Satu hal yang paling terasa di asrama adalah kebiasaan berbagi. Benda sederhana seperti makanan, pengharum ruangan, alat tulis, hingga charger sering dipakai bergantian tanpa membuat suasana canggung. Berbagi bukan sekadar soal memberi, tetapi juga tentang rasa kepedulian dan kebersamaan. Dari hal-hal kecil itulah hubungan antar penghuni menjadi lebih dekat dan hangat.
ADVERTISEMENT

Dampak Positif Terhadap Kesehatan Mental

Semua pengalaman itu memberi pengaruh besar terhadap kesehatan mental saya. Toleransi, empati, dan kebiasaan saling mendukung membuat saya merasa diterima. Tekanan akademik terasa lebih ringan ketika menjalani hari di lingkungan yang menguatkan. Tinggal di asrama mengajarkan saya bahwa keseimbangan mental tidak hanya datang dari diri sendiri, tetapi juga dari lingkungan sosial yang positif.
Sebagai perempuan, saya merasa tumbuh menjadi lebih mandiri, kuat secara emosional, dan tidak takut menghadapi perbedaan.

Penutup

Asrama bukan hanya tempat singgah bagi mahasiswa perantau. Bagi saya, Al Aqobah adalah ruang belajar tentang hidup bersama, memahami perbedaan, dan membangun toleransi. Di balik keramaiannya, asrama menyimpan pelajaran yang perlahan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dan tangguh. Saya belajar bahwa ketika kita berada di lingkungan yang menghargai keberagaman, kesehatan mental pun ikut terjaga.
ADVERTISEMENT
Saya mungkin jauh dari rumah, tapi di lingkungan ini saya belajar menjadi perempuan yang lebih kuat, lebih peka terhadap sekitar, dan lebih berani menghadapi hidup.