Konten dari Pengguna

Patriot Bohemian Itu Bernama Chairil Anwar

Chairil Anwar

Chairil Anwar

"Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang..."

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chairil Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Quote Chairil Anwar (Foto: Canva)
zoom-in-whitePerbesar
Quote Chairil Anwar (Foto: Canva)

Usianya tak panjang. Hanya sampai 27 tahun ia hidup sebelum akhirnya berpulang. Tapi kisah tentangnya mengabadi sepanjang hayat. Segenap puisinya menjadi rujukan bagi mereka para pujangga pemula atau pujangga pemalu. Semua tahu siapa dia: Chairil Anwar.

Chairil bukan pahlawan yang ikut mengokang senjata di medan perang. Bahkan ia lebih dikenal sebagai seorang bohemian yang saban hari sibuk memikirkan rayuan untuk menggaet perempuan. Namun, demikian, jika ada penyair Indonesia yang mula-mula memiliki kesadaran patriotik dalam bersyair, Chairil adalah pelopornya.

Oleh kritikus H.B. Jassin, Chairil dinobatkan sebagai Pelopor Angkatan 45: Sebuah periodisasi sastra(wan) Indonesia yang dinamai dengan angka keramat tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Dan yang terpenting, sejumlah puisi Chairil memang jelas-jelas mengumandangkan spirit perjuangan bangsa.

Sebut saja: Aku, Merdeka, Diponegoro, Cerita buat Dien Tamaela, Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, Catetan Tahun 1946, dan Prajurit Jaga Malam.

Spirit kebangsaan tersebut membuat Chairil cenderung dinilai sebagai sosok penyair yang, lebih daripada penyair Indonesia lainnya di sepanjang sejarah, paling representatif membawa pijar semangat patriotisme.

Dalam esai "Chairil Anwar Kita", Profesor Sapardi Djoko Damono menulis: "Bagaimanapun, Chairil Anwar tampil lebih menonjol sebagai sosok yang penuh semangat hidup dan sikap kepahlawanan. Bahkan sebenarnya, salah seorang penyair kita yang memperhatikan kepentingan sosial dan politik bangsa."

Mendiang Dami N. Toda tegas menyatakan: "Sehubungan dengan kelibatan sosial yang bermakna patriotisme, Chairil Anwar sepenuhnya menginsafi getar denyut dan tuntutan bangsanya. Seluruh perjuangan estetik dengan seluruh peralatan analis rasional yang tajam diabdikan kepada bangsa."

Chairil memang mati muda. Tapi warisannya tak akan menua. Tak mungkin sia-sia.

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(Prajurit Jaga Malam)

Sang pujangga, Chairil Anwar. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Sang pujangga, Chairil Anwar. (Foto: Wikimedia Commons)