Ibu, Superhero di Kehidupan Nyata

Seseorang yang suka menuangkan pikirannya melalui tulisan
Tulisan dari Rahmi Chairi Vina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aku bukanlah anak yang bisa dengan gamblang mengatakan "Aku sayang ibu" secara langsung. Sebab itulah aku hanya bisa menuangkannya melalui sebuah tulisan. Aku harap pesan ini bisa sampai padanya dan ia tahu betapa berharganya dia dalam hidupku.
Ibu, seorang wanita tangguh, hero without a cape, yang juga menjadi penyelamat hidupku. Di kala aku sedang dalam keadaan terpuruk, dia lah yang menarik tanganku untuk bangkit, dan merangkul bahuku untuk berdiri tegak.
Ibu bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata manis untuk menenangkan anaknya, tetapi semua sikap yang selama ini ia tunjukkan padaku selalu menunjukkan betapa besar rasa sayangnya dan rasa pedulinya padaku.
Terkadang ucapannya sedikit keras, mengatakan bahwa aku harus kuat, padahal aku hanyalah anak yang lemah. Dia mengatakan, jika aku tidak kuat, aku tidak akan bisa bertahan. Mungkin untuk orang lain, kata-kata seperti itu terdengar sedikit memaksa, tapi bagiku kata-kata itu adalah tamparan keras untukku, untuk menyadarkan diriku betapa kejamnya dunia ini, yang dimana jika aku lemah bisa membawaku tenggelam ke dalam lautan kesengsaraan.
Setiap kala pulang dari suatu acara, selalu ia mengeluarkan beberapa makanan yang ia dapatkan dari sana dan memberikannya untukku. Padahal makanan itu seharusnya untuk dirinya, tetapi yang ia pikirkan hanyalah aku. "Ibu sudah puas makan enak sewaktu muda." adalah kalimat klise yang selalu diucapkannya padaku sebagai alasan agar aku bisa makan dengan tenang.
Ibu, tempat dimana aku bisa mencurahkan segala isi hatiku, menceritakan segala hal yang terjadi di keseharianku, menumpahkan semua kegelisahanku, dan kau selalu tuntun diriku agar tetap menjadi anak yang baik dan anak yang kuat.
Ibu, aku selalu berharap akan kesehatanmu, akan panjang umurmu, sehingga masih sempat aku untuk membuatmu bangga memiliki diriku, sehingga masih sempat aku untuk membahagiakanmu. Padahal aku belum jadi apa-apa, belum bisa memberikan apapun, tetapi kau selalu mengatakan bahwa aku terbaik bagimu. Aku ingin kata-kata itu tidak hanya sekedar ucapan penghiburan, aku benar-benar ingin merealisasikannya.
Maka, sehat-sehatlah engkau, pantau aku terus dalam baktiku padamu, dalam melangkah menuju sukses dan menuju bahagia untukmu. Aku bersyukur memiliki ibu seperti dirimu, sebuah anugerah yang terindah yang pernah aku dapatkan. Ibu, engkau panutanku. Aku sayang padamu, Ibuku, pahlawan hidupku.
