Konten dari Pengguna

Di Antara Berkas Birokrasi dan Aroma Kopi: Kisah ASN Rintis Bisnis Kuliner

Chairy Pasa

Chairy Pasa

Mahasiswa Komunikasi

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chairy Pasa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Inspirasi Perjalanan Cahya Agung Satria dalam Mengonversi Titik Jenuh Birokrasi Menjadi Inovasi Ekonomi Kreatif

(Foto: Ilustrasi/AI Generated)
zoom-in-whitePerbesar
(Foto: Ilustrasi/AI Generated)

Bagi sebagian besar orang, menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di kementerian atau lembaga pemerintahan pusat adalah simbol dari keamanan karier dan stabilitas finansial. Jalur birokrasi menawarkan kepastian yang diidamkan banyak pekerja. Namun, di balik kepastian tersebut, rutinitas harian yang repetitif di balik meja kerja sering kali menghadirkan tantangan psikologis tersendiri, seperti munculnya rasa jenuh dan terbatasnya ruang untuk mengekspresikan inovasi.

Kondisi inilah yang dirasakan oleh Cahya Agung Satria Nugraha. Namun, alih-alih pasrah pada kejenuhan rutinitas, pria yang akrab disapa Cahya ini memilih langkah berani. Di tengah kesibukannya sebagai seorang ASN, ia sukses membuktikan kemampuan dalam membelah fokus untuk merintis dan mengelola bisnis kuliner Food and Beverage (F&B) di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Sehari-hari di kantor, Cahya mengemban tanggung jawab akademis dan praktis yang cukup berat. Ia bertugas menyusun berbagai analisis strategis yang berujung pada pengerjaan policy brief dan policy paper sebagai bahan pertimbangan keputusan bagi pimpinan lembaga tersebut. Tuntutan konsentrasi tinggi dari pagi hingga sore hari tak memadamkan gairah usahanya. Ia memilih untuk merawat hobi minum kopi yang telah ditekuninya sejak lima belas hingga tujuh belas tahun lalu semasa duduk di bangku kuliah.

"Dari hobi itu, saya sadar hal ini bisa menjadi peluang usaha dan personal branding saya di dunia kopi. Saya mencoba membuka peluang untuk mencari tambahan di bidang yang saya sukai," tutur Cahya. Keputusannya ini menjadi jawaban logis atas tantangan ekonomi modern yang menuntut sumber pendapatan tambahan, sekaligus wadah mengekspresikan kreativitas di luar batasan birokrasi.

Keberanian Mengeksekusi Ide di Kerasnya Persaingan Blok M

Saat memutuskan untuk melangkah ke dunia bisnis F&B, Cahya menetapkan kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sebagai panggung utamanya. Pemilihan lokasi ini didasari oleh analisis geografis dan psikologis yang sangat matang. Secara teknis, kawasan Blok M memiliki tingkat aksesibilitas yang sangat ideal karena hanya berjarak sekitar dua hingga tiga kilometer dari kantornya di Bulungan serta tempat tinggalnya di daerah Barito.

Selain faktor kedekatan jarak, Cahya juga telah mengenal dengan baik karakteristik wilayah tersebut setelah aktif berinteraksi dan 'nongkrong' di sekitar Blok M selama kurang lebih lima hingga enam tahun. Pemahaman mendalam terhadap lanskap sosial dan gaya hidup pengunjung kawasan tersebut memberikannya rasa percaya diri dalam merumuskan konsep usaha.

Melalui bendera kedai kopi 36.homecult dan The Full Yolk, Cahya mulai mengeksekusi konsep kafenya. Menyadari bahwa industri F&B di Jakarta Selatan dipenuhi persaingan yang amat ketat, ia tidak menampik adanya rasa ragu dan takut akan risiko kegagalan bisnis. "Pasti ada rasa takut, ragu apakah laku atau mampu bersaing," tutur Cahya. "Namun, saat semua konsep sudah matang baik branding, produk, dan strategi bisnis ya lakukan saja dulu. Buat apa ada rencana matang tapi tidak dieksekusi, hasilnya nol. Lebih baik eksekusi saja, kalau ada kekurangan kita perbaiki seiring berjalannya waktu," tegasnya.

Suasana area luar kafe 36 Garage di Jakarta Selatan. (Foto: Dok. Pribadi)

Bertarung dengan Waktu, Lelah, dan Ekspektasi

Menjalankan peran ganda sebagai birokrat penyusun kebijakan di siang hari dan pengelola kafe di malam hari membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Fase tiga bulan pertama perintisan toko menjadi masa yang paling menguras energi bagi Cahya.

Seusai melunasi kewajiban birokrasi di sore hari, ia bergegas menuju kedai untuk memantau operasional, merumuskan varian produk, serta membenahi persiapan tempat hingga pukul 01.00 atau 02.00 dini hari. Dengan waktu istirahat yang amat terbatas, ia sudah harus terbangun pada pukul 06.00 pagi untuk kembali bersiap menjalankan tugasnya sebagai abdi negara.

Strategi utama yang membuatnya mampu bertahan dari ancaman kelelahan ekstrem adalah manajemen jarak dan efisiensi waktu. Lokasi usaha yang relatif dekat dari kantor memungkinkannya untuk melakukan pemeriksaan rutin di sela-sela jam makan siang atau sesaat setelah jam kerja berakhir. Lebih dari itu, kunci keberlanjutan bisnisnya terletak pada pembentukan tim Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal.

Ia merekrut tenaga-tenaga profesional mumpuni untuk mengisi posisi Store Manager, Head Barista, hingga Head Baker. Dengan mendelegasikan wewenang operasional harian kepada tim yang kompeten, roda bisnis kafe tetap dapat berputar secara profesional dan higienis tanpa harus mengorbankan kewajiban utamanya sebagai abdi negara.

Tim operasional kafe 36 Garage dan The Full Yolk. (Sumber: Dokumen Pribadi)

Buah Manis Kedisiplinan Abdi Negara dan Dampak Sosial

Salah satu poin paling menarik dari perjalanan usaha Cahya adalah bagaimana ia mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan birokrasi ke dalam budaya kerja bisnisnya. Sebagai pegawai di instansi pemerintahan, ia banyak mengamati dan menyerap pola kepemimpinan dari para atasannya mulai dari kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, hingga penekanan pada efisiensi serta efektivitas kerja.

Sisi-sisi positif dari budaya birokrasi tersebut ia adopsi ke dalam Standard Operating Procedure (SOP) di kedua kafenya. Ia berupaya menjadi pimpinan yang bijak, komunikatif, dan terstruktur bagi seluruh karyawannya, menciptakan lingkungan kerja yang teratur namun tetap fleksibel bagi ekspresi anak muda.

Buah dari konsistensi ini tak hanya mendatangkan keuntungan finansial pribadi, melainkan juga memberikan dampak sosial yang nyata bagi lingkungan sekitar. Bisnis yang dirintisnya berhasil tumbuh pesat dan membuka lapangan kerja baru. Saat ini, The Full Yolk mempekerjakan sekitar dua puluh lima orang staf (terdiri dari barista, baker, server, dan tim manajemen), sementara kedai kopi 36.homecult mengoperasikan tim yang terdiri dari delapan orang. Mayoritas dari mereka merupakan talenta muda dari komunitas barista dan jaringan pertemanan yang kini memiliki penghasilan stabil.

"Setiap orang mempunyai passion atau hobi masing-masing. Passion itu hal yang dilakukan berkali-kali seumur hidup tanpa merasa bosan. Dari situ bisa dikembangkan, tidak usah langsung jadi usaha utama, tetapi ditekuni secara konsisten. Insyaallah itu bisa jadi pundi-pundi tambahan."

— Cahya Agung Satria Nugraha.

Perjalanan Cahya Agung Satria Nugraha memberikan wawasan berharga bagi generasi muda dan sesama pekerja kantoran. Kisahnya membuktikan bahwa status pekerjaan resmi dan zona nyaman birokrasi bukanlah penghalang untuk berkarya. Dengan manajemen waktu yang presisi, keberanian mengeksekusi ide, serta komitmen menjaga kedisiplinan, titik jenuh dalam bekerja dapat dikonversi menjadi unit bisnis yang produktif, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Penulis: Chairy Pasa - Mahasiswa Universitas Siber Asia

Bagaimana dengan Anda? Apakah tertarik merintis bisnis sampingan di tengah rutinitas kerja? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!