Konten dari Pengguna

Gelar Saja Tak Cukup: Mengapa Lulusan Akuntansi Kini Merasa Susah Cari Kerja?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Charisya Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI (Sumber: Gemini, diolah oleh penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI (Sumber: Gemini, diolah oleh penulis)

Dulu, ada sebuah anggapan tidak tertulis di dunia perkuliahan: kalau mau cepat dapat kerja setelah lulus, masuklah ke jurusan Akuntansi. Logikanya sederhana, semua perusahaan pasti butuh orang yang mengatur keuangan. Akuntansi adalah jalur aman.

Namun, mari kita lihat realitas di media sosial seperti LinkedIn atau X (Twitter) belakangan ini. Ceritanya sudah jauh berubah.

Kita sering melihat unggahan fresh graduate akuntansi yang mengeluhkan betapa ketatnya persaingan kerja. Lowongan untuk posisi Staff Accounting entry-level baru dibuka beberapa jam, tapi jumlah pelamarnya sudah menyentuh angka ribuan.

Mengapa jurusan yang dulunya dianggap "pasti kerja" ini sekarang terasa begitu kompetitif dan sulit ditembus?

Ketika AI dan Otomasi Mengambil Alih Peran

Faktor terbesar yang mengubah lanskap kerja akuntansi adalah digitalisasi. Hari ini, perusahaan tidak lagi membutuhkan banyak tenaga manusia hanya untuk melakukan input data manual, menjurnal, atau sekadar membuat rekonsiliasi bank.

Kehadiran berbagai software akuntansi modern hingga kecerdasan buatan (AI) telah mengotomatisasi pekerjaan-pekerjaan dasar tersebut dengan lebih cepat dan minim risiko human error. Alhasil, porsi pekerjaan tradisional untuk lulusan baru otomatis menyusut. Industri tidak lagi mencari seorang 'tukang catat', melainkan seorang analis.

Ekspektasi Perusahaan yang 'Gila-gilaan' di Level Entry

"Dibutuhkan Fresh Graduate, Pengalaman Minimal 1–2 Tahun." Syarat lowongan kerja seperti ini pasti sudah tidak asing lagi. Bagi lulusan baru, tuntutan ini sering kali terasa tidak masuk akal.

Mengapa perusahaan menetapkan standar tinggi? Jawabannya karena adanya over-supply atau banjir lulusan akuntansi setiap tahunnya. Karena jumlah pelamar melimpah, perusahaan menaikkan standar kualifikasi untuk menyaring kandidat terbaik.

Mereka yang langsung dilirik biasanya bukan lagi yang sekadar punya IPK tinggi, melainkan yang sudah mahir mengoperasikan software data analisis, paham brevet pajak, atau setidaknya sudah mengantongi sertifikasi kompetensi sejak bangku kuliah.

Adanya Skill Gap Antara Kampus dan Industri

Jujur saja, apa yang diajarkan di ruang kuliah kadang berjalan lebih lambat dibanding pergerakan industri. Kuliah akuntansi sering kali masih sangat fokus pada teori konvensional dan perhitungan manual di kertas.

Sementara itu, begitu lulus dan masuk ke dunia kerja nyata, ekosistemnya sudah berubah total. Industri saat ini mencari talenta yang tidak hanya paham debit-kredit, tapi juga adaptif terhadap teknologi keuangan, mengerti cara membaca data (data analytics), dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menjelaskan angka-angka rumit kepada manajemen.

Menolak Menyerah: Bagaimana Cara Memenangkan Persaingan?

Kabar baiknya, profesi akuntan tidak akan hilang. Peran manusia dalam menjaga integritas laporan keuangan, menganalisis risiko bisnis, dan mengambil keputusan strategis tetap tidak bisa digantikan oleh robot secerdas apa pun. Yang berubah hanyalah kriteria talenta yang dicari.

Bagi mahasiswa atau fresh graduate akuntansi, mengeluh tentu tidak akan mengubah keadaan. Langkah terbaik yang bisa diambil saat ini adalah dengan meningkatkan nilai tawar diri (value-added).

1. Kuasai Teknologi Penunjang: Jangan cuma puas bisa Microsoft Excel. Mulailah akrab dengan software akuntansi yang relevan di industri saat ini atau pelajari dasar-dasar alat analisis data.

2. Kejar Pengalaman Praktis: Manfaatkan program magang (internship) secara maksimal. Pengalaman magang inilah yang nantinya menjadi modal kuat untuk mematahkan syarat "pengalaman 1 tahun" saat melamar kerja formal.

3. Asah Soft Skills: Akuntan masa depan harus bisa bicara. Kemampuan komunikasi, problem-solving, dan pemahaman etika profesi yang kuat adalah benteng utama yang membedakan kamu dengan sistem otomasi.

Pada akhirnya, pasar kerja akuntansi memang tidak lagi sama seperti sepuluh tahun lalu. Tantangannya jauh lebih besar, namun peluangnya tetap terbuka lebar bagi mereka yang mau bergerak lebih cepat dari perubahan zaman.