Pentingnya Membangun Kembali Budaya Maritim Indonesia

Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Jember
Tulisan dari Chatarina Intan Ekasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki 17.504 pulau . Dengan adanya pulau-pulau yang tersebar di wilayah Indonesia, menjadikan hal tersebut sebagai salah satu upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dengan cara membangun kembali budaya maritim Indonesia.
Upaya membangun kembali budaya maritim bertujuan agar masyarakat Indonesia memiliki landasan budaya dan nilai bahari yang kuat sebagai dasar pembangunan negara maritim. Membangun kembali budaya maritim ini perlu dilakukan karena kehidupan maritim sangat berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, seperti hubungan dalam aspek, pelayaran, perkapalan, perikanan maupun perdagangan.
Kehidupan maritim Indonesia dalam perspektif sejarah menjadi kajian yang perlu untuk diulas karena perkembangan masyarakat kita banyak berhubungan dengan laut. Laut pulalah yang membawa berbagai pengaruh peradaban besar ke kawasan Indonesia, sehingga mempengaruhi corak kehidupan masyarakat sampai saat ini.
Pentingnya kemaritiman dalam kajian sejarah pernah diungkapkan oleh AB Lapian (1992:3) dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar. Ia mengungkapkan bahwa laut adalah pembuka sejarah bangsa Indonesia. Aktivitas kehidupan masyarakat sejak awal penyebarannya bahkan terjadi di laut (Utomo, 2014:4). Oleh karena itu, memperkuat budaya maritim tidak dapat dipisahkan dari kajian sejarah maritim yang ada di Indonesia.
Kajian kemaritiman dalam perspektif sejarah memiliki arti strategis dalam membangun budaya bahari Indonesia. Singgih Tri Sulistiyono dkk. (2005:2-3) mencatat ada beberapa arti penting kajian atas sejarah maritim.
Pertama, didukung dengan kondisi geografis sebagai negara kepulauan terbesar, terdapat berbagai kelompok etnik yang selama berabad-abad telah menggunakan laut sebagai wahana untuk saling berkomunikasi. Sejarah maritim menjadi wahana untuk membangkitkan kesadaran sebagai sebuah bangsa.
Kedua, aspek maritim yang telah melekat di masyarakat Indonesia selama ribuan tahun. Dengan demikian, telah terbentuk seperangkat nilai yang mampu menjaga eksistensi dan kontinuitas masyarakat. Dengan demikian, sejarah maritim berperan sebagai media sosialisasi dan enkulturasi nilai-nilai budaya bahari bagi masyarakat. Berbagai nilai tersebut sangat berperan dalam menumbuhkan kearifan masyarakat terhadap pengelolaan bahari.
Ketiga, masyarakat maritim yang bekembang di kepulauan Indonesia telah menjalin hubungan selama berabad-abad. Di sini, sejarah maritim mampu memberikan contoh nyata tentang komunikasi lintas budaya (cross-cultural communication) antara satu komunitas dengan komunitas yang lain sebagai dasar integrasi di kalangan masyarakat.
