Konten dari Pengguna

LLM Lokal GoTo Bisa Bahasa Jawa dan Batak, Apa Dampaknya?

Chaudry Ahmad Rizaldy

Chaudry Ahmad Rizaldy

Mahasiswa Unpam

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chaudry Ahmad Rizaldy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

blob:https://claude.ai/efe60bd3-4422-43fe-92a8-f45394fdb592
zoom-in-whitePerbesar
blob:https://claude.ai/efe60bd3-4422-43fe-92a8-f45394fdb592

Coba bayangkan neneknya teman Anda di Yogyakarta bertanya soal cara mengurus bantuan sosial, lalu dijawab asisten AI dengan bahasa Jawa yang luwes. Atau seorang mahasiswa di Medan membuat aplikasi belajar dalam bahasa Batak. Dua hal itu terdengar sepele, tapi selama ini sulit diwujudkan karena kebanyakan AI populer dilatih dengan data berbahasa Inggris.

Pekan ini, gambaran tadi terasa sedikit lebih dekat. Dalam Bali Tech Week di Sanur, Senin (19/10/2026), GoTo memperkenalkan model bahasa besar (large language model/LLM) berukuran 27 miliar parameter yang dibuka untuk umum. Keesokan harinya, kabar lain muncul dari panggung yang sama: pemerintah mengaku sedang merampungkan aturan main untuk AI.

Dua kabar ini saling berkaitan, dan sebaiknya dibaca bersamaan.

Apa yang sebenarnya diluncurkan GoTo?

Menurut laporan Bisnis.com, model tersebut dirancang untuk memahami bahasa Indonesia sekaligus beberapa bahasa daerah, yakni Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. Sifatnya open source, jadi akademisi, startup, pelaku usaha, hingga instansi pemerintah boleh memakainya tanpa biaya.

CEO GoTo, Hans Patuwo, menjelaskan alasannya cukup lugas. Teknologi buatan luar negeri memang dipakai luas di sini, tetapi sering kali tidak dioptimalkan untuk data lokal dan bahasa sehari-hari masyarakat. Karena itu, pihaknya ingin menyediakan titik awal yang berakar pada konteks Indonesia bagi siapa pun yang hendak membangun AI.

Beberapa detail teknis juga menarik:

  • Model dikembangkan tim insinyur internal GoTo, melanjutkan riset model terbuka yang sudah berjalan sejak 2024.

  • Data latih berasal dari kemitraan dengan media, situs sektor publik, dan kolaborasi khusus. Untuk bahasa Batak, GoTo menggandeng Universitas Sumatera Utara.

  • Ukurannya tergolong menengah. Artinya, model ini diklaim cukup mampu menangani tugas bahasa yang rumit, tetapi masih bisa dijalankan di server internal kampus, startup, atau lembaga pemerintah tanpa pusat data raksasa.

  • Mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi, termasuk Universitas Udayana, dilibatkan lewat program magang untuk mengolah data dan menguji sistem.

Mengapa bahasa daerah jadi isu besar?

Indonesia punya ratusan bahasa daerah, dan sebagian penuturnya makin berkurang dari generasi ke generasi. Teknologi yang hanya fasih berbahasa Inggris atau Indonesia baku, pelan-pelan, ikut mempersempit ruang pakai bahasa-bahasa itu di dunia digital.

Model yang akrab dengan bahasa daerah membuka peluang praktis: layanan pelanggan yang lebih ramah di daerah, materi belajar yang lebih mudah dipahami anak-anak, sampai dokumentasi bahasa yang nyaris punah. Tentu saja, kualitas sebenarnya baru terbukti ketika model ini dicoba banyak orang. Klaim di atas kertas belum tentu sama dengan pengalaman di lapangan.

Aturan mainnya: dua rancangan Perpres

Di acara yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pemerintah tengah menyiapkan dua rancangan Peraturan Presiden. Yang pertama mengenai etika AI, yang kedua tentang peta jalan AI nasional.

Prinsip yang disebut-sebut antara lain perlindungan data pribadi, transparansi, pencegahan diskriminasi, dan kendali manusia atas keputusan penting. Peta jalannya diarahkan ke bidang yang dekat dengan kehidupan warga, yaitu ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, dan reformasi birokrasi.

Menarik juga bahwa Meutya menekankan aturan itu tidak akan dibuat sedemikian ketat hingga menghambat inovasi. Menteri Pembangunan Digital dan Informasi Singapura, Josephine Teo, yang hadir di forum yang sama, menyebut negaranya memilih pendekatan yang menyesuaikan diri dengan perkembangan risiko, bukan aturan sekali jadi.

Isi lengkap kedua rancangan itu belum dipublikasikan, jadi masih terlalu dini untuk menilai seberapa efektif dampaknya.

Dari pengguna menjadi pencipta

Pesan yang menghubungkan semua kabar ini sebenarnya sederhana: jangan berhenti jadi konsumen. Ketua Umum Aptiknas, Soegiharto Santoso, sempat mengingatkan pada Agustus lalu bahwa Indonesia jangan sampai hanya menjadi tempat teknologi dipakai, sementara nilai tambah dan kepemilikannya berkembang di negara lain.

Dari sisi dunia usaha, nadanya mirip. Dalam forum Danantara Technology Innovation Investment Forum pada 8 Oktober, Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Veranita Yosephine, menyebut AI global sudah memasuki fase penerapan nyata. Ia juga menegaskan bahwa yang perlu dibangun bukan sekadar teknologinya, melainkan ekosistem: infrastruktur digital, data, talenta, dan kolaborasi antarpihak.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Bagi pembaca awam, ada beberapa hal praktis yang bisa dicermati:

  1. Pantau perkembangan modelnya. Kalau Anda pelaku UMKM, pengajar, atau pengembang, akses gratis ini layak dicoba untuk kebutuhan kecil dulu.

  2. Tetap kritis terhadap hasil AI. Sebagus apa pun modelnya, jawaban perlu dicek ulang, terutama untuk urusan hukum, kesehatan, atau keuangan.

  3. Ikuti pembahasan aturannya. Ketika rancangan Perpres dibuka untuk publik, masukan dari masyarakat akan sangat berarti.

Pada akhirnya, AI buatan lokal bukan jaminan hidup jadi lebih mudah dalam semalam. Namun, kehadirannya memberi pilihan baru, dan itu kabar baik bagi ekosistem teknologi yang selama ini lebih sering menjadi penonton.