Aku Bukanlah Seorang Pencuri

Chelsea Theresia Wang
Mahasiswa Psikologi Universitas Pembangunan Jaya
Konten dari Pengguna
11 Juni 2023 17:35 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Chelsea Theresia Wang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Pencuri. Foto : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pencuri. Foto : Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada zaman ini banyak terjadi kasus kriminal yang banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat. Salah satu kasus kriminal yang banyak dijumpai, yaitu kasus pencurian. Tak sedikit dari kita sering menjumpai orang-orang yang bisa dicurigai sebagai pelaku pencurian bahkan orang-orang tersebut sampai ada yang tertangkap tangan ketika mereka melakukan aksinya. Walaupun sudah tertangkap tangan ketika melakukan aksinya, mereka tetap melakukan perilaku tersebut kembali. Lalu, mengapa mereka masih melakukan perilaku itu secara berulang? Apakah hal tersebut termasuk dalam gangguan psikologis? Memang benar bahwa perilaku tersebut merupakan gangguan psikologi yang disebut dengan kleptomania. Oleh karena itu, maka kenali lebih dalam tentang kleptomania (Psikogenesis, 2021).
ADVERTISEMENT
Mengenal Lebih Dalam Mengenai Kleptomania
Kleptomania merupakan gangguan psikologis yang berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu kleptest yang berarti pencuri dan mania atau kegilaan (Pamardisiwi, 2021). Kleptomania adalah gangguan psikologis yang ditandai dengan karakteristik adanya sebuah dorongan untuk melakukan sebuah tindakan mencuri yang tidak bisa ditahan dan bisa terjadi berulang kali (Oktania & Mansoer, 2020). Kleptomania bisa termasuk dalam gangguan psikologis dikarenakan adanya impulse-control disorder yang dapat menyebabkan seseorang melakukan sebuah tindakan pencurian kompulsif secara berulang (Pamardisiwi, 2021).
Biasanya orang-orang yang mengalami gangguan psikologis ini, mereka melakukan pencurian bukan terhadap objek yang berharga atau memiliki nilai ekonomi yang tinggi melainkan mereka melakukan pencurian atas dasar adanya dorongan yang meningkat dan dengan mencuri ini yang dapat membuat si pelaku mendapatkan kepuasaan sesaat (Pamardisiwi, 2021). Objek yang biasanya dicuri oleh pelaku biasanya akan dibuang, diberikan kepada orang lain, atau dikembalikan secara diam-diam. Kleptomania dengan tindakan pencurian biasa merupakan hal yang berbeda dikarenakan pada kleptomania, pencurian tidak direncanakan sebelumnya dan mencuri pada akses yang mudah serta memiliki target yang acak. Sedangkan, pencurian biasa, mereka akan membuat strategi terlebih dahulu untuk mengambil barang yang berharga (Levani et al., 2019).
Ilustrasi Mencuri. Foto : Shutterstock
Faktor Dan Kriteria Seorang Kleptomania
ADVERTISEMENT
Setelah mengetahui apa yang dimaksud kleptomania, adapun faktor yang bisa menjelaskan kenapa seseorang menjadi kleptomania tanpa orang tersebut menyadari. Ada seorang psikolog yang bernama Margaretha yang menjelaskan bahwa ada beberapa faktor, yaitu adanya faktor biologis yang bisa berasal dari orang yang rentan mengalami stres karena di dalam tubuhnya mengalami kekurangan zat neurotransmitter, hormon serotonin, dan zat lainnya. Faktor lainnya, berasal psikologis dikarenakan orang yang menjadi kleptomania umumnya memiliki gangguan psikologis lain atau komorbid yang bisa berupa gangguan kepribadian, penyalahgunaan zat, serta gangguan mood, seperti depresi maupun bipolar (Kurnia & Azizah, 2022).
Selain adanya faktor yang bisa membuat seseorang menjadi kleptomania. Adapun kriteria yang bisa meng-diagnostik bahwa seseorang itu kleptomania menurut DSM V, yaitu adanya kegagalan yang terjadi secara berulang dalam menahan hasrat untuk mencuri objek, adanya dorongan yang meningkat sesaat sebelum melakukan tindakan pencurian, adanya perasaan puas dan senang karena sudah terpenuhi hasratnya ketika melakukan tindakan, dan tindakan pencurian yang dilakukan oleh seorang kleptomania bukanlah berdasarkan ekspresi dari kemarahan atau balas dendam serta bukan sebagai respon dari delusi maupun halusinasi (Oktania & Mansoer, 2020).
ADVERTISEMENT
Memangnya Ada Pengobatan Untuk Seorang Kleptomania?
Ada beberapa pengobatan yang bisa dijalankan yang berupa sebuah terapi dan antidepresan, yaitu terapi farmakologi dan psikoterapi. Pada terapi farmakologi dibagi menjadi dua, yaitu selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) yang merupakan antidepresan yang dapat bekerja dengan meningkatkan tingkatan level serotonin di otak. Obat dengan golongan SRRI yang pernah digunakan untuk seorang kleptomania adalah fluoxetine, fluvoxamine dan paroxetine. Selain itu, adanya naltrexon yang merupakan sebuah terapi medikasi terhadap adiksi alkohol yang telah disetujui oleh badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat (FDA). Pemberian terapi dan obat pada naltrexon ini dapat mengurangi untuk mengkonsumsi alkohol dan hal ini bisa digunakan pada penderita kleptomania dikarenakan seorang kleptomania memiliki kesamaan dengan gejala adiksi alkohol (Levani et al., 2019).
ADVERTISEMENT
Psikoterapi yang biasanya digunakan untuk seorang kleptomania adalah cognitive behavioral therapy (CBT), psikoterapi kognitif, desensitisasi sistematik, dan penggunaan terapi aversi. Dari penggunaan psikoterapi ini memiliki tujuan untuk mengubah persepsi dari seorang kleptomania terhadap tindakan pencurian dengan mengalihkan perbuatan itu menjadi ke hal yang lain, seperti hobi atau hal yang disenangi lainnya (Levani et al., 2019).
Berdasarkan dari penyampaian informasi di atas, maka kalian sebagai masyarakat janganlah langsung menghakimi seseorang pencuri karena kita bisa lihat bahwa tidak semua pencuri merupakan pencuri yang melakukan dengan penuh kesadaran, bisa saja ada pencuri yang melakukan tindakan mencuri karena mereka memiliki gangguan psikologis.