Konten dari Pengguna

Zaman Sekarang Masih Ada Anak yang Ambis?

Chelsea Theresia Wang

Chelsea Theresia Wang

Mahasiswa Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chelsea Theresia Wang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.canva.com/design/DAFV1RGzj34/Xf9Ih6awCKEfWwVWnhxVLQ/view?utm_content=DAFV1RGzj34&utm_campaign=designshare&utm_medium=link&utm_source=publishsharelink
zoom-in-whitePerbesar
https://www.canva.com/design/DAFV1RGzj34/Xf9Ih6awCKEfWwVWnhxVLQ/view?utm_content=DAFV1RGzj34&utm_campaign=designshare&utm_medium=link&utm_source=publishsharelink

Pada zaman sekarang, hal yang melekat bagi kebanyakan orang, yaitu dalam dunia pendidikan. Jika dalam dunia pendidikan, tidak adanya batasan dalam segi usia sehingga usia berapa pun masih diperbolehkan untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Walaupun begitu, ada hal yang sangat disayangkan karena kebanyakan orang yang sedang menimba ilmu tetapi tidak memberikan usaha mereka yang terbaik sehingga tidak mendapatkan nilai yang bagus bahkan adapun yang bermalas-malasan dalam menimba ilmu. Memang banyak alasan yang menyebabkan mereka melakukan hal seperti itu, entah dikarenakan sibuk dengan smartphone hingga lupa dengan waktu, tidak berminat dengan apa yang dipelajari, dan alasan lainnya.

Walaupun ada saja orang yang begitu, tetapi masih ada beberapa orang yang memiliki rasa ambis saat menimba ilmu. Ambis atau disebut dengan ambisi adalah disposisi pribadi yang stabil yang dapat didefinisikan sebagai “perjuangan yang gigih dan umum untuk sukses dan pencapaian” (Afifah et al., 2021). Adapun penyebab yang bisa membuat seseorang menjadi ambis, yaitu adanya faktor yang timbul dari dalam diri seseorang dan adanya faktor dari luar, seperti orang terdekat, keluarga, maupun karena keadaan (Dado, 2020). Selain itu, adapun alasan spesifik seseorang menjadi ambis, seperti untuk membuktikan ke diri sendiri bahwa mereka mampu, ingin mendapatkan pujian dari orang lain, membanggakan orang tua, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Rasa ambis pada anak-anak yang sedang menimba ilmu dalam pendidikan dapat muncul dari adanya pujian dari orang tua. Pujian bisa berupa perkataan maupun hadiah berupa barang yang disukai.

Terdapat salah satu tokoh pada teori behaviorisme, yaitu B.F. Skinner. B.F. Skinner menyampaikan teori tentang operant conditioning. Operant conditioning merupakan metode pembelajaran dengan menggunakan reinforcement dan punishment sebagai konsekuensi dari sebuah perilaku. Reinforcement dan punishment memiliki dua bagian, yaitu adanya reinforcement positif dan negatif serta adanya punishment positif dan negative (Feist et al., 2021).

Jika berdasarkan teori B.F. Skinner mengenai operant conditioning bahwa faktor seseorang bisa ambis atau memiliki ambisi dikarenakan adanya pemberian reinforcement positif dan punishment negatif. Reinforcement positif adalah setiap konsekuensi positif yang, ketika ditambahkan ke situasi, meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku tertentu akan terjadi. Sedangkan, punishment negatif adalah segala hal yang dilakukan untuk menghilangkan pemicu perilaku negatif dengan menghilangkan stimulus (Feist et al., 2021). Pemberian reinforcement positif dapat memunculkan rasa ambis, seperti fenomena yang terjadi pada anak-anak yang dimana ketika mereka bisa memberikan hasil nilai yang bagus yang terjadi berulang kali, maka mereka bisa mendapatkan pujian yang bisa berupa perkataan ataupun hadiah dari orang tua. Pemberian pujian inilah yang dapat membantu seseorang untuk termotivasi dalam melakukan hal positif secara berulang kali.

Selain itu, punishment negatif juga bisa memunculkan rasa ambis pada seseorang. Berdasarkan fenomena yang dibahas bahwa banyak faktor yang dapat membuat orang lebih memilih bermalas-malasan saja dibandingkan memunculkan rasa ambis. Salah satu contoh faktor yang dapat membuat seseorang malas, yaitu adanya penggunaan smartphone hingga lupa akan waktu. Penggunaan smartphone yang terlalu lama hingga lupa waktu ini yang bisa memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap anak-anak, yaitu membuat anak tidak belajar sehingga mendapatkan nilai yang tidak bagus. Dengan nilai yang tidak bagus, bisa saja orang tuanya akan memberikan konsekuensi dengan menyimpan atau menyita smartphone agar anaknya bisa konsentrasi dengan materi sekolahnya sehingga kedepannya bisa mendapatkan nilai yang bagus. Adanya penyitaan atau penyimpanan smartphone milik anak dapat membuat anak bisa memunculkan rasa ambis tersebut agar smartphonenya tidak disita.

Dari yang sudah dibahas, bahwa ambis bisa terjadi karena adanya perlakuan reinforcement dan punishment yang diberikan tetapi sebelum adanya perlakuan tersebut, adanya motivasi yang muncul dalam diri anak-anak. Motivasi merupakan suatu perubahan yang ada di dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan motivasi dengan motif yang menjadi aktif atau berfungsi tanpa adanya rangsangan dari luar. Hal ini dikarenakan di setiap diri manusia memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan, motivasi ekstrinsik merupakan motivasi dengan keinginan untuk mengerjakan suatu tujuan yang diakibatkan oleh adanya imbalan yang bersifat eksternal, seperti uang maupun popularitas (Triwahyuni et al., 2019). Dalam fenomena ambis pada anak-anak bisa terjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik serta motivasi bukan hanya sekedar terjadi di awal sebelum adanya perlakuan reinforcement dan punishment yang diberikan, tetapi motivasi juga bisa berlanjut setelah adanya perlakuan reinforcement dan punishment yang diberikan oleh orang tuanya.

Dengan begitu bisa disimpulkan bahwa di zaman sekarang masih adanya anak-anak yang masih memiliki rasa ambis dikarenakan adanya motivasi dalam dirinya serta adanya pemberian perlakuan reinforcement dan punishment. Pemberian perlakuan inilah yang merupakan faktor terbesar dalam diri anak-anak dikarenakan apa yang dilakukan oleh mereka bisa menghasilkan sesuatu yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan. Pemberian perlakuan yang menghasilkan sesuatu yang menyenangkan akan membuat anak-anak terus termotivasi untuk terus mendapatkan sesuatu yang menyenangkan tersebut. Jika pemberian perlakuan yang menghasilkan sesuatu yang kurang menyenangkan maka anak-anak akan termotivasi untuk tidak mendapatkan sesuatu yang kurang menyenangkan tersebut.

Daftar Pustaka

Afifah, N., Anjani, V., Ks, H. J., & Ap, F. (2021). Karyawan yang ambisius : mengapa dan kapan ambisi berhubungan dengan kinerja dan komitmen organisasi. Proceeding Seminar Nasional & Call For Papers.

Dado, P. (2020). Ekspresi ambisi dalam novel A Stranger In The Mirror karya Sidney Sheldon [Skripsi]. Universitas Sam Ratulangi.

Feist, G. J., Roberts, T.-A., & Feist, J. (2021). Theories of personality (Tenth Edition). McGraw-Hill Education.

Triwahyuni, E., Lolongan, R., Riswan, R., & Suli, S. (2019). Peranan konssep teori behavioristik B.F. Skinner terhadap motivasi dalam menghadiri persekutuan ibadah.