AI Menjadi Solusi bagi Generasi Z, Bukan Masalah
Tulisan dari Chelsea Talia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hasil survei Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, mengatakan bahwa sebesar 43,7% kalangan generasi Z memanfaatkan AI dan menjadi urutan teratas. Sedangkan generasi Milenial hanya sebesar 22,3%. Angka tersebut menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dalam diri generasi muda di Indonesia. Di era digital saat ini, penggunaan AI sangat berkembang pesat, terutama dikalangan Generasi Z dan AI sudah menjadi salah satu teknologi yang dimanfaatkan oleh Generasi Z untuk proses belajar. Dari persentase penggunaan AI menurut hasil survey, dapat dikatakan bahwa penggunaan AI pada Gen Z termasuk tinggi. Meskipun demikian, AI banyak digunakan untuk hal-hal yang positif. AI dapat membantu kehidupan para Gen Z dalam pendidikan maupun dunia kerja. AI dapat memberikan banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Namun, dalam menggunakan AI haruslah bijak dan bertanggung jawab. Menurut Pew Research Center yang dikatakan oleh Michael Dimock, Generasi Z adalah kelompok yang lahir antara tahun 1997-2012, yang di mana perkembangan teknologi informasi dan internet sedang bergerak dengan cepat. Dalam kehidupan Gen Z, teknologi sudah mulai berkembang dan terus berkembang hingga saat ini, salah satunya dalam menggunakan teknologi AI. Kalangan ini dianggap sebagai pengguna AI terbanyak. Menurut seorang ilmuwan komputer bernama John McCarthy, AI merupakan ilmu dan teknologi yang memodelkan suatu proses berpikir manusia dan mendesain suatu mesin agar menjadi selayaknya manusia. AI sudah membantu para Gen Z dalam menghadapi permasalahan yang dialami. Pertama, AI sangat membantu para Gen Z dalam dunia pendidikan. Sudah hampir seluruh siswa maupun mahasiswa yang menggunakan AI untuk belajar, brainstorming, dan bahkan untuk membantu mengerjakan tugas. Melalui AI, mereka dapat memperoleh banyak informasi, memahami materi pelajaran, mencari ide dalam AI. Dengan adanya AI, proses belajar bisa menjadi lebih efisien dan mudah. Kedua, AI juga bisa sangat membantu dalam dunia perkantoran. AI bisa membantu dalam mengolah data, mencari ide, menerjemahkan dokumen, dan masih banyak lagi. Selain membantu dalam pendidikan dan perkantoran, AI juga bisa dijadikan “teman curhat” bagi Gen Z. Dalam penelitian yang terdapat di jurnal Acta Psychologica pada 2026, menunjukkan bahwa banyak anak muda yang menggunakan AI sebagai digital companion atau teman digital untuk berbagi cerita, terutama saat merasa kesepian, overthinking, atau mengalami kecemasan. Beberapa orang bercerita kepada AI mengenai masalah yang dihadapinya dan menganggap AI sebagai teman curhat di hidupnya. Namun, hal itu dapat memicu hal-hal yang tidak baik, seperti ketergantungan emosional dan menurunkan kemampuan dalam bersosialisasi. Dari hasil penelitian, persentase angka Generasi Z dalam menggunakan AI cukup tinggi. AI dapat membantu para Generasi Z dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, meskipun begitu, AI masih ada dampak negatif yang dapat dirasakan dan dapat menimbulkan masalah jika tidak digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, masalah yang sebenarnya bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan bagaimana cara kita manusia menggunakannya. Jika dimanfaatkan secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab, AI dapat menjadi solusi bagi Generasi Z, bukan menjadi masalah.

