Konten dari Pengguna

Oh Jakartaku, Aku Rindu Menghirup Udara Bersih

Cheryl

Cheryl

Alumni Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cheryl tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemandangan Ibu kota Jakarta yang diambil di daerah Kebayoran, pada 23 Agustus 2023, pukul 06.16 WIB. Foto: dok. pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan Ibu kota Jakarta yang diambil di daerah Kebayoran, pada 23 Agustus 2023, pukul 06.16 WIB. Foto: dok. pribadi

Polusi udara Jakarta. Sudah satu minggu saya mengalami batuk pilek yang tak kunjung sembuh, tak jarang juga saya mengalami sesak. Sementara di saat bersamaan, kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) di sejumlah rumah sakit di Jakarta dilaporkan melonjak.

Beberapa waktu belakangan, langit Jakarta memang terlihat gelap. Rindu rasanya melihat gunung di kejauhan yang biasanya bisa dilihat saat langit ibu kota biru dan udara bersih yang sudah sulit ditemukan di sudut kota manapun.

Rupanya, kondisi udara Jakarta memang kian memburuk sejak Mei 2023. Berdasarkan data dari IQAir, Jakarta menduduki peringkat sepuluh besar berturut-turut sebagai kota paling berpolusi di dunia.

Banyak faktor yang mempengaruhi buruknya kualitas udara di Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya. Sebut saja limbah industri, asap PLTU, asap kendaraan bermotor, serta kemarau yang berkepanjangan.

Koalisi warga sipil telah melakukan aksi dan menyampaikan aspirasi terkait dengan udara bersih. Tidak sedikit warga dan artis tanah air berbondong-bondong menyampaikan kekecewaan dan kemarahan atas "kelalaian" pemerintah dalam mengatasi buruknya kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya saat ini.

Belum lagi dengan melonjaknya kasus ISPA yang dikabarkan di sejumlah rumah sakit di Jakarta. Dinas Kesehatan Jakarta mencatat besaran angka penderita ISPA yang menginjak angka 100.000 per bulan sejak Januari 2023.

Ilustrasi bahaya polusi udara terhadap anak. Foto: Thannaree Deepul/Shutterstock

Solusi yang ditawarkan pemerintah pun tidak menyelesaikan masalah. Kemacetan, udara kotor tetap saja tidak berkurang. Mulai dari pemberlakuan WFH (working from home) 50 persen ASN Kementerian/Lembaga sampai dengan mendorong penggunaan kendaraan listrik bagi ASN dan warga Jabodetabek.

Mengutip data Kementerian ESDM (Mei 2023), bauran energi listrik di Indonesia masih didominasi oleh batu bara sebesar 67,21 persen (tahun 2022). Sehingga penggunaan kendaraan listrik menimbulkan polemik di kalangan masyarakat.

PM2,5 atau yang diketahui sebagai polusi partikel halus merupakan polutan paling berbahaya. WHO telah merilis global air quality guidelines pada tahun 2021, dalam panduan tersebut, batas cemaran PM2,5 tahunan diturunkan dari 10 mikrogram per meter kubik menjadi 5 mikrogram per meter kubik.

Jakarta, lebih tepatnya di permukiman saya tinggal, berdasarkan data dari Nafasid, besaran PM2,5 telah mencapai angka 63 dan AQI 154. Angka tersebut sudah termasuk kategori TIDAK SEHAT.

Polusi udara yang marak di Jakarta dapat menyebabkan berbagai penyakit baik jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ISPA, peningkatan risiko hipertensi, jantung sampai ke kanker paru-paru.

Menurut hemat saya, sebagai warga Jakarta, solusi yang dapat ditawarkan di antaranya adalah sebagai berikut.

Polusi udara yang pekat menyelimuti Jakarta, Selasa (15/8/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
  1. Mengakui bahwa saat ini kualitas udara memang sedang tidak baik-baik saja, tidak berdalih dan membuat pembenaran di luar nalar. Kabut asap kerap menjadi pemandangan sehari-hari.

  2. Temukan akar permasalahannya, apakah betul emisi kendaraan bermotor pemegang peringkat pertama sebagai penyumbang polusi terbesar saat ini? Karena seringkali udara memburuk di malam hari dan titik lokasi dengan kualitas udara terburuk terdapat di Tangerang Selatan, Bogor, dan tentu saja di Jakarta.

  3. Libatkan ahli dan pakar dalam masing-masing bidang.

  4. WFH dan pembelajaran daring tetap bisa ditawarkan, dengan catatan hal tersebut harus dibarengi dengan perbaikan moda transportasi umum. Menurut pengamat Tata Kota Universitas Trisakti menyampaikan bahwa Jakarta termasuk kota yang tidak ramah bagi pejalan kaki. Oleh karena itu, perbaikan trotoar juga diperlukan.

  5. Dorong warga dan para pejabat, ASN untuk beralih ke transportasi umum.

  6. Pembangunan ruang terbuka hijau dianggap kurang cocok untuk mengatasi polutan partikel halus (PM2,5) karena pohon dianggap tidak bisa menyerap partikel halus tersebut, beda dengan karbondioksida yang dapat diserap dan diubah menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Namun, pohon tetaplah memegang peranan penting dalam ekosistem dan peningkatan kualitas udara.

  7. Modifikasi cuaca. Kemarau berkepanjangan tentu termasuk ke dalam faktor perburukan kualitas udara di Jabodetabek. Saya mengapresiasi upaya Pemerintah melalui BNPB, BMKG, dan pihak terkait lainnya untuk melakukan rekayasa cuaca dengan menurunkan hujan. Namun perlu diperhatikan apakah ini cukup aman, mengingat hujan tersebut bisa menjadi hujan asam dan memunculkan efek buruk lainnya.

  8. Memperhatikan AMDAL dan menertibkan industri yang tidak sesuai dan patuh aturan.

  9. Beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan untuk menghilangkan ketergantungan terhadap batu bara.

  10. Membatasi jumlah populasi. Permintaan terjadi lebih banyak, sumber energi yang dibutuhkan lebih sedikit dari yang tersedia, sehingga menyebabkan pembangunan yang terus menerus dan bersifat merusak alam.

Masyarakat berolahraga di kawasan Car Free Day Jalan Sudirman Jakarta, Minggu (20/8/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Namun, untuk mengatasi permasalahan polusi udara Jakarta ini tentunya memerlukan perhatian dan peran semua elemen, baik itu dari pemerintah maupun warga Jakarta dan sekitarnya.

Demikian keluh-kesah yang dapat saya sampaikan, sebagai warga Jakarta yang merindukan menghirup udara bersih dan terbebas dari penyakit pernapasan.

Mari kita lihat, apakah pemerintah masih akan tetap teguh dengan solusi yang mereka tawarkan atau memilih untuk berdamai, mendengarkan pendapat ahli dan aspirasi warganya.