Konten dari Pengguna

Mengenal Dampak Parasocial Relationship: Apakah Baik atau Berbahaya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chessa Bonita Angelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menonton idola melalui platform digital. (Sumber: pexels/Cottonbro)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menonton idola melalui platform digital. (Sumber: pexels/Cottonbro)

Pernahkah kamu ikut menangis tersedu-sedu saat karakter fiksi favoritmu terluka parah? Atau bahkan mendadak bad mood karena idola favoritmu dihujat di media sosial? Jika begitu, mungkin kamu sedang mengalami Parasocial Relationship!

Di era yang serba digital ini, mengidolakan tokoh fiksi maupun non-fiksi semakin umum terjadi. Kehadiran platform hiburan digital memberikan kita akses mudah untuk mengetahui secara detail kehidupan dan kepribadian sang idola secara terus-menerus. Mulai dari makanan kesukaannya, tempat mereka berlibur, bahkan sisi paling personal mereka.

Kemudahan akses ini lah yang membuat Parasocial Relationship dapat berkembang secara intens pada masa kini. Dengan memiliki akses langsung terhadap kehidupan idola, para penggemar bisa meningkatkan rasa kedekatan emosionalnya dengan idola. Namun, terkadang beberapa penggemar merasakan kedekatan yang terlalu nyata dalam hubungan ini. Maka dari itu, artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai Parasocial Relationship dan dampaknya pada kesehatan mental penggemar.

Apa itu Parasocial Relationship?

Menurut Wong et. al (2025), Parasocial Relationship atau hubungan parasosial adalah hubungan emosional satu arah yang dikembangkan individu dengan figur media, seperti selebriti, influencer, maupun karakter fiksi. Dalam hubungan ini, seseorang bisa saja mencurahkan waktu, energi, dan perhatiannya hanya kepada sang idola. Padahal nyatanya, sang idola mungkin tidak mengetahui keberadaannya.

Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Horton dan Wohl pada tahun 1956. Keduanya menjelaskan bahwa audiens dapat merasa dekat dengan figur media karena cara berkomunikasi di media yang terasa personal dan intim. Dan seiring berjalannya waktu, hubungan ini menumpuk dalam ingatan audiens hingga memicu rasa paham dan kenal layaknya mengenal teman sendiri, meskipun sang idola sama sekali tidak mengenali mereka secara personal (Ravi dan Patki, 2025).

Bagaimana Fenomena Ini Bisa Terjadi?

Dilansir dari verywellmind.com, otak manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan unik untuk membentuk koneksi sosial dengan orang lain. Sejak dahulu, manusia membutuhkan koneksi dengan sesamanya untuk bertahan hidup, mencari rasa aman, dan menjadi bagian dari kelompok. Dalam prosesnya, manusia menjadi sangat peka terhadap wajah, suara, ekspresi, dan interaksi sosial. Oleh karena itu, individu secara alami akan memberi perhatian lebih pada suara seseorang, kontak matanya, cara berbicaranya, hingga ekspresi emosinya.

Namun, media dan teknologi berkembang jauh lebih cepat dibanding evolusi otak manusia. Sejak munculnya radio, televisi, internet, hingga media sosial, manusia mulai terus-menerus terpapar wajah dan suara dari orang-orang yang sebenarnya tidak pernah hadir dalam kehidupan nyata mereka. Manusia belum benar-benar mampu membedakan mana interaksi sosial yang nyata dan mana yang hanya terjadi melalui media. Oleh karena itu, ketika seseorang terus melihat seorang figur media berbicara di kamera atau melihat sisi personal kehidupannya, otak manusia akan memproses pengalaman itu mirip seperti hubungan sosial biasa. Akibatnya, muncul lah rasa akrab, nyaman, dan dekat dalam diri audiens, meskipun hubungan tersebut sebenarnya hanya berjalan satu arah.

Hal inilah yang membuat seseorang bisa merasa sedih ketika idolanya terkena masalah atau bahkan merasa kehilangan ketika series favoritnya selesai. Secara logika, ia tahu bahwa mereka bukan teman atau orang dekatnya. Namun secara emosional, otak tetap merespons hubungan tersebut seolah-olah nyata. Oleh karena itu, para peneliti saat ini menganggap parasocial relationship sebagai sesuatu yang normal dialami manusia, terutama di era serba digital seperti saat ini.

Dampaknya Bagi Kesehatan Mental

Ravi dan Patki (2025) menjelaskan bahwa fenomena parasocial relationship dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesehatan mental, baik dalam bentuk positif maupun negatif.

A. Sisi Negatif

  1. Menimbulkan ketergantungan emosional: Ketika hubungan parasosial menjadi terlalu intens, seseorang bisa mulai bergantung secara emosional pada figur media tertentu. Sang idola menjadi sumber utama kebahagiaan dan kenyamanan, sehingga ketika figur tersebut menghilang, terkena masalah, atau berubah, penggemar dapat merasa sangat kehilangan.

  2. Memicu obsesi dan celebrity worship: Dalam kondisi ekstrim, parasocial relationship dapat berkembang menjadi obsesi berlebihan terhadap figur media. Seseorang bisa terlalu terlibat dalam kehidupan idolanya, sulit menerima kritik terhadap idol tersebut, hingga menghabiskan waktu dan energi secara berlebihan hanya untuk mengikuti kehidupannya.

  3. Duka Parasosial yang Ekstrem (Parasocial Grief): Parasocial relationship yang terlalu intens juga dapat meningkatnya kecemasan, kesepian, depresi, hingga rasa kehilangan yang mendalam (parasocial grief). Seseorang dapat merasa sangat terikat secara emosional dengan figur media atau karakter fiksi tertentu. Hal ini terjadi ketika batas antara fiksi dan realitas mulai hilang. Misalnya, ketika selebriti atau karakter animasi favoritnya mengalami kematian di dalam cerita, seseorang dapat mengalami depresi berat hingga memicu ide bunuh diri yang akut.

B.Sisi Positif

  1. Memberikan rasa nyaman dan ditemani: Parasocial relationship dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian, terutama ketika sedang mengalami masa sulit. Kehadiran sang idola atau karakter favorit sering kali memberi rasa nyaman secara emosional pada penggemar karena merasa memiliki “teman” yang selalu ada melalui konten-konten yang mereka konsumsi.

  2. Menjadi sumber motivasi dan inspirasi: Banyak orang menjadikan figur media sebagai motivasi dalam hidupnya. Mereka dapat merasa terinspirasi oleh perjuangan, pola pikir, atau keberhasilan idolanya sehingga lebih semangat untuk berkembang, mengejar mimpi, atau memperbaiki diri.

  3. Membantu memperbaiki suasana hati: Menonton konten dari sang idola dapat memberikan efek emosional yang positif, seperti mengurangi rasa sedih, cemas, atau stres. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa memikirkan figur parasosial favorit dapat memberikan rasa nyaman yang mirip dengan dukungan dari hubungan sosial nyata.

Jadi, Haruskah Kita Berhenti Mengidolakan Seseorang?

Tentu tidak. Mengagumi selebriti, influencer, atau bahkan karakter fiksi merupakan hal yang wajar dan sangat manusiawi. Bahkan mungkin hampir semua orang pernah merasa terinspirasi, terhibur, atau memiliki kedekatan emosional dengan figur yang mereka sukai.

Kita boleh saja merasa senang ketika sang idola mengunggah konten baru, merasa termotivasi oleh perjalanan hidup mereka, atau menjadikan mereka sebagai sumber hiburan dan inspirasi. Namun, hal yang perlu diingat adalah memahami batas yang sehat dalam hubungan tersebut. Figur media sebaiknya tetap ditempatkan sebagai sumber hiburan, inspirasi, atau motivasi, bukan sebagai pengganti seluruh hubungan sosial di kehidupan nyata. Karena pada akhirnya, hubungan yang benar-benar sehat tetap membutuhkan interaksi dua arah, komunikasi nyata, dan kedekatan yang saling timbal balik.

Maka dari itu, penting untuk tetap bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku menikmati mereka secara sehat… atau justru mulai kehilangan diriku sendiri di dalam hubungan itu?”

________________________________________________

Penulis: Chessa Bonita Angelia, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.

Referensi

Khairi, N. A. S. A., Norazman, N. D. A., Hassannudin, M. I. A., Khalip, N. F. A., & Yusuf, S. (2024). Bonding Beyond the Screen: Investigating the Effects of Parasocial Relationship Between Fans and Society. International Journal of Research and Innovation in Social Science (IJRISS), 8(8), 37–52. https://doi.org/10.47772/IJRISS.2024.808004

Stever, G. S. (2011). Fan behavior and lifespan development theory: Explaining parasocial and social attachment to celebrities. Journal of Adult Development, 18(1), 1–7. https://doi.org/10.1007/s10804-010-9100-0

Wong, D., Shabgahi, S., Park, P., Lee, D., & Wang, J. (2025). When Fantasy Feels Too Real: The Psychological Toll of Media Attachment. Cureus, 17(8), e90249. https://doi.org/10.7759/cureus.90249

Verywell Mind. (2023). What Is a Parasocial Relationship? Diakses pada 19 Mei 2026, dari https://www.verywellmind.com/what-is-a-parasocial-relationship-5210770