Sekolah Ekspor Sebagai Upaya Mencetak Eksportir Muda

Mahasiswi Hubungan Internasional UPN Veteran Jawa Timur yang memiliki ketertarikan pada bidang ekspor impor
Tulisan dari Chesya Laura Huwae tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ekspor Indonesia kini menunjukkan tren pemulihan setelah melewati berbagai gelombang COVID-19. Pemulihan ini tidak terlepas dari adanya peningkatan pada permintaan pasar terutama dari Tiongkok. Ekspor Indonesia pada 2021 menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai angka US$231,61 miliar atau meningkat 41,92 persen. Peningkatan yang terus terjadi pada kinerja ekspor Indonesia kemudian menjadi tantangan bagi generasi mendatang untuk dapat mempertahankan serta terus meningkatkan angka ekspor Indonesia.
Hal ini yang sangat disadari oleh Yayasan Sekolah Ekspor. Yayasan Sekolah Ekspor merupakan sebuah organisasi yang memiliki visi untuk menumbuh kembangkan eksportir baru serta membangun kewirausahaan global khususnya para UKM di kalangan perguruan tinggi dan generasi muda. Visi ini diwujudkan dengan menyediakan sarana pembelajaran untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di pasar lokal dan global yang berorientasi pada pengembangan ekspor. Salah satu langkah untuk merealisasikan misinya adalah dengan menjadi mitra Kampus Merdeka dalam program Magang bersertifikat dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB). Program Studi Independen dari Yayasan Sekolah Ekspor ini direncanakan untuk berlangsung selama 5 bulan dengan mengusung kurikulum “BE A DIGITAL EXPORTER” (SIBADE).

Kurikulum ini terdisi dari 7 modul yaitu Business Reconnaisance yang akan menguraikan knowledge serta attitude untuk mendapat pemahaman mengenai konsep ekspor dan menjadi eksportir yang baik. Modul kedua mengenai Export Business Strategy yang akan menjelaskan mengenai konsep bisnis digital dan menyusun rencana ekspor. Selanjutnya, modul ketiga berbicara tentang Starting Export & Product Development yang mana disini peserta SIBADE akan dituntun untuk memulai ekspor serta mengembangkan produk ekspor yang ramah lingkunga. Setelah mengembangkan produk, peserta SIBADE akan memasuki modul keempat yaitu Digital Marketing yang akan melatih pemasaran produk secara digital mulai dari merncanakan bisnis, mengembangkan konten, pemanfaatan sosial media serta onboarding di marketplace seperti Dagang Ekspor maupun platform lainnya. Modul kelima yaitu Business Matching dimana peserta SIBADE akan melakukan kegiatan komunikasi bisnis yang terdiri dari membuat presentasi bisnis, negosiasi bisnis hingga transaksi e-commerce. Kegiatan ini yang akan berhubungan dengan modul selanjutnya mengenai Export Payment Financing sebagai pengetahuan mengenai pembayaran serta pembiayaan ekspor. Pada modul terakhir, Shipment & Documetation akan dijelaskan seputar logistik dan kepabeanan.
Melalui alur pembelajaran modul-modul tersebut, peserta SIBADE akan dituntun untuk mengembangkan produk siap ekspor mulai dari perencanaan, pembuatan perusahaan hingga transaksi dan proses shipment. Produk siap ekspor yang dikembangkan merupakan produk karya peserta SIBADE maupun produk hasil re-branding produksi UKM .
Sekolah Ekspor hadir bukan saja sebagai tempat menimbah ilmu tetapi menjadi tempat yang mengayomi peserta-pesertanya dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan. Fasilitas tersebut seperti adanya kesempatan untuk mengikuti kelas diluar modul serta event nasional dan internasional yang bertujuan untuk memperdalam ilmu ekspor mahasiswa hingga memperluas koneksi ekspor. Yayasan Sekolah Ekspor dalam perjalanannya juga turut mengadakan beasiswa bagi pesertanya untuk dapat melakukan business matching di Kuala Lumpur. Berbagai usaha ini merupakan upaya program SIBADE untuk mencetak eksportir muda melalui mahasiswa Indonesia dalam rangka mencetak 500 ribu eksportir baru Indonesia pada 2030.
