(Seri 2) Sungai Brantas: Penghubung, Bukan Pemisah

ASN Kota Kediri
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Chevy N Suyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada peradaban besar tanpa sungai. Di Jawa Timur, sungai itu bernama Brantas. Sungai yang mengalir dari hulu di Malang, membelah Blitar dan Kediri, hingga bermuara di Surabaya.
Bagi masyarakat Jawa, Sungai Brantas bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi peradaban dan spiritualitas. Ia menyatukan masa lalu dengan masa sekarang, tanah dengan manusia, dan kekuasaan dengan kebijaksanaan.
Namun ironisnya, dalam imajinasi populer, Brantas sering digambarkan sebagai "pemisah" dua kerajaan, Panjalu (Kadiri) dan Jenggala. Pandangan ini berbeda bila dilihat dari kacamata sejarah dan naskah kuno seperti Negarakertagama dan temuan arkeologi yang dijelaskan oleh Drs. Boechari.
Karena sejatinya, Brantas bukanlah batas. Ia adalah penghubung peradaban yang membentuk karakter Kediri hingga hari ini.
Brantas dalam Catatan Sejarah Kuno
Menurut arkeolog Drs. Boechari, Sungai Brantas merupakan poros utama aktivitas ekonomi dan pelayaran, yang mendukung pertumbuhan dan peradaban kerajaan di Jawa Timur. Di tepi sungai inilah Raja Airlangga (1019-1042) membangun Kahuripan, cikal bakal Panjalu dan Jenggala.
Boechari menulis bahwa Airlangga menata sistem irigasi dan perdagangan berbasis sungai untuk menghubungkan wilayah pedalaman dan pesisir. Menjadikan Sungai Brantas sebagai infrastruktur alami pemerintahan dan ekonomi.
Ketika Airlangga memutuskan membagi kerajaannya demi menghindari perebutan tahta, Brantas tidak dijadikan garis pemisah, melainkan jalur penghubung. Panjalu di barat (berpusat di Dahanapura, Kediri) dan Jenggala di timur (sekitar sidoarjo) tetap bergantung pada aliran Sungai Brantas untuk bertukar hasil bumi dan budaya.
Banyak orang mengira Sungai Brantas menjadi batas antara kekuasaan di masa lalu. Padahal, tidak ada prasasti yang menyebut sungai ini sebagai garis pemisah politik. Justru dalam Prasasti Wurare (1289 M), raja Kertanegara dari Singhasari memuliakan Airlangga sebagi raja besar. Airlangga pernah menyatukan kembali wilayah di sekitar Brantas setelah masa keruntuhan kerajaan sebelumnya.
Airlangga digambarkan bukan sekadar penguasa, tetapi penjaga keseimbangan antara alam dan manusia. Ia membangun bendungan, irigasi, dan pelabuhan di sepanjang Brantas untuk kemakmuran rakyat. Dari sinilah, makna Sungai Brantas lebih tepat dipahami sebagai poros harmoni dan persatuan peradaban, bukan simbol perpecahan.
Brantas dalam Negarakertagama dan Pararaton
Kehadiran Sungai Brantas juga disebut dalam karya besar Mpu Prapanca, Kakawin Negarakertagama (1365), yang menggambarkan perjalanan suci Raja Hayam Wuruk melintasi wilayah Kediri dan sepanjang Sungai Brantas. Salah satu bait dalam pupuh XXXIII, Mpu Prapanca menulis:
"Sang raja berangkat menyusuri sungai yang mengalir dari timur ke barat, menyeberangi air jernih yang memberikan ketenangan hati."
Kutipan ini memperlihatkan bagaimana sungai bukan sekadar ruang geografis, melainkan juga ruang spiritual. Perjalanan di sepanjang Brantas dipandang sebagai ziarah batin, menghubungkan manusia dengan alam dan leluhur.
Dalam Negarakertagama, Sungai Brantas menjadi jalur penting Majapahit yang menghubungkan pusat kerajaan di Trowulan dengan wilayah bawahan di barat seperti Kadiri dan Daha. Memiliki peran utama sebagai jalur perdagangan dan transportasi.
Sementara dalam Pararaton yang ditulis pada abad ke-15, menyebut Brantas sebagai faktor penting dalam perkembangan dan kemakmuran Majapahit, menjadikannya pusat peradaban terkemuka. Sungai Brantas bukan sekadar jalur air biasa, melainkan fondasi utama yang menyatukan wilayah-wilayah penting kerajaan Majapahit secara geografis dan ekonomi.
Dengan demikian, baik dalam teks suci kerajaan maupun catatan sejarah, Sungai Brantas selalu dimaknai sebagai tali penghubung kosmik antara pusat dan pinggiran, antara kekuasaan dan kebijaksanaan.
Sungai yang Mengalirkan Peradaban (dari Panjalu ke Kediri)
Kerajaan Kadiri (Panjalu) yang berdiri di tepian Sungai Brantas menjadi bukti bahwa air bukan sekadar elemen alam, melainkan sumber tatanan sosial dan spriritual. Air Brantas menyuburkan sawah, menjadi jalur dagang, sekaligus menjadi inspirasi bagi para pujangga. Dari tepian sungai inilah lahir karya sastra monumental Kakawin Bharatayuddha (1157 M), alegori tentang pertarungan kebenaran dan keseimbangan.
Pusat pemerintahan Kadiri terletak di Daha (Kediri) tepat di jalur utama Brantas. Kawasan ini menjadi simpul ekonomi dan spiritual. Menghubungkan para brahmana, pedagang, dan penyair hidup berdampingan di tepi sungai yang sama. Candi Tegowangi dan Surawana yang dibangun pada akhir abad ke-13, berdiri tidak jauh dari aliran Sungai Brantas, menjadi simbol harmonisasi antara kekuasaan, agama, dan kesenian. Sementara Goa Selomangleng, tempat pertapaan legenda Dewi Kilisuci, menghadap langsung ke arah sungai, seolah menegaskan hubungan sakral antara manusia dan air.
Dari sini jelas bahwa Sungai Brantas adalah poros orientasi hidup. Segala bentuk aktivitas, seperti pertanian, sastra, dan spiritualitas, berputar di sekelilingnya.
Tanpa Brantas, Kediri hanyalah nama di peta, tapi dengan Brantas, ia menjadi peradaban air yang terus mengalir.
Kediri Dulu dan Sekarang, Dua Sisi Sungai, Satu Napas Kehidupan
Menariknya, filosofi keterhubungan yang pernah hidup di masa Panjalu kini menemukan bentuk barunya dalam wajah Kota Kediri modern. Sungai Brantas tetap menjadi garis tengah kehidupan. Bukan sebagai batas, tetapi sebagai penyeimbang dua kutub peradaban.
Di sebelah timur Brantas, berdiri pusat pemerintahan dan perdagangan. Kawasan Balaikota Kediri, alun-alun, pendopo Bupati, pasar tradisional hingga pusat bisnis modern tumbuh di sepanjang tepian sungai. Aktivitas ekonomi di sisi timur menjadi penerus fungsi Brantas sebagai jalur sirkulasi dagang sejak masa Airlangga dan Jayabaya.
Sementara di sebelah barat Brantas, berkembang pusat pendidikan dan spiritualitas. Pondok Pesantren Lirboyo (salah satu ponpes tertua dan terbesar di Nusantara) berdiri megah, menandai kesinambungan tradisi ilmu dan kebijaksanaan. Di kawasan yang sama, berdiri pula kampus Universitas Brawijaya Kediri, Universitas Nusantara PGRI, Universitas Dian Nuswantoro, Polinema, dan lembaga pendidikan tinggi lainnya. Aktivitas keilmuan di kawasan ini melanjutkan semangat literasi dan refleksi intelektual yang dahulu tumbuh di tanah Kadiri kuno.
Keseimbangan antara timur dan barat Brantas mencerminkan prinsip rwa bhineda dalam filosofi Jawa. Dua hal yang tampak berbeda, namun sejatinya saling melengkapi. Pemerintahan dan perdagangan di satu sisi, pendidikan dan spiritualitas di sisi lain. Keduanya bernafas dalam satu irama yang sama, Brantas sebagai penghubung, bukan pemisah.
Brantas: Cermin dari Kota yang Terus Berevolusi
Kediri hari ini sedang menapaki babak baru, menjadi kota modern yang berakar pada peradaban tua. Sungai Brantas kini dihiasi jembatan-jembatan megah seperti Jembatan Brawijaya, yang bukan hanya penghubung fisik, tetapi juga simbol keterbukaan zaman. Di tepiannya, masyarakat beraktivitas dengan berolahraga, berdagang, dan berkumpul, seolah mengulang jejak ribuan tahun lalu ketika sungai ini menjadi pusat kehidupan sosial.
Sungai yang dahulu menjadi jalur perdagangan kini menjadi koridor budaya dan koridor ekologi. Pemerintah kota menata kawasan bantaran Brantas sebagai ruang publik, tempat aktivitas sosial, seni, sejarah, dan identitas kota sebagai koridor budaya. Dan sebagai koridor ekologi dibuat jalur hijau, jalur alami yang menjaga keseimbangan lingkungan, seperti aliran air, vegetasi, keanekaragaman hayati, dan sistem drainase alami.
Dengan kata lain, penataan bantaran Sungai Brantas tidak hanya untuk keindahan atau pariwisata, tetapi juga agar sungai tetap berfungsi ekologis.
Kediri modern, dengan segala kemajuannya, sejatinya sedang menulis bab lanjutan dari kisah lama. Bagaimana sebuah sungai membentuk peradaban, dan bagaimana manusia menjaga arusnya agar tetap mengalirkan kehidupan.
Dalam konteks mitos "Kediri kota lengser"' Brantas memberi tafsir baru. Pemimpin sejati seperti sungai, mengalir memberi manfaat tanpa menimbun, menenangkan tanpa menenggelamkan.
Sungai tak kehilangan jati diri meski mengalir ke laut. Begitu pula kepemimpinan sejati, kekuasaan hanyalah arus sementara, makna sejati adalah keberlanjutan. Dengan begitu, Kediri bukan kota yang menjatuhkan, melainkan kota yang menyadarkan.
Brantas, Cermin dari Waktu
Sungai Brantas telah menyaksikan Airlangga membagi kerajaan, Jayabaya menulis kebijaksanaan, hingga Majapahit menyeberanginya dalam perjalanan suci. Namun satu hal tak pernah berubah, Brantas tetap mengalir.
Selama Brantas mengalir, Kediri akan terus menjadi jantung peradaban Jawa Timur. Menjadi tempat di masa lalu, spritualitas, dan masa depan bertemu dalam satu arus kehidupan.
Kediri bukan kota lengser, melainkan kota yang terus mengalir, membawa kebijaksanaan dari masa silam menuju masa depan.
------------------
Catatan:
Tulisan ini merupakan bagian dari seri edukatif "Menelusuri Kediri, Menyulam Peradaban". Upaya untuk meluruskan mitos dan menegaskan identitas budaya Kota Kediri sebagai kota yang menghubungkan sejarah, spiritualitas, dan masa depan.
