Apakah Dunia Roleplayer Hanya Tempat Lari dari Realita Anak Muda

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Chika Amalia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah hiruk-pikuk media sosial, pernahkah kamu melihat akun yang memposting foto idola K-Pop, karakter anime, atau tokoh publik tertentu dan berinteraksi layaknya mereka itu orang aslinya? Fenomena ini disebut Roleplayer atau RP sebuah dunia bermain peran yang menggunakan teks sebagai dasar interaksi. Di sini, seseorang memilih untuk memerankan tokoh nyata atau karakter fiksi untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain yang juga sedang bermain peran. Bagi orang-orang yang tidak memahami, fenomena RP sering diabaikan atau dianggap lucu. Pertanyaan yang sering diajukan adalah: mengapa remaja mau menghabiskan banyak waktu berjam-jam hanya untuk menjadi seseorang yang berbeda di dunia maya?

Tidak bisa dipungkiri, salah satu alasan utama mengapa dunia RP semakin berkembang adalah karena fungsi sebagai tempat untuk melarikan diri. Tekanan dari belajar, harapan orang tua, serta rasa gugup saat berinteraksi di lingkungan nyata sering membuat remaja mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan mengembangkan identitas mereka di dunia maya, mereka bisa sementara lupa dengan tekanan hidup dan berubah menjadi sosok yang lebih berani, terkenal, atau dicintai. Namun, menganggap dunia RP hanya sebagai cara pelarian yang merusak tentu belum sepenuhnya benar. Bagi sebagian anak muda, menggunakan identitas anonim justru memberi mereka ruang yang aman, yang biasanya sulit mereka temukan di lingkungan nyata. Di balik layar, mereka bisa berekspresi secara bebas, menyampaikan perasaan, kegelisahan, dan pikiran tanpa takut dihakimi karena rupa fisik, kemasyarakatan, atau latar belakang mereka.
Jika dilihat lebih jauh, aktivitas bermain peran sebenarnya membutuhkan kreativitas yang sangat tinggi. Para pelaku RP diharapkan membuat cerita yang menarik, mengembangkan karakter yang hidup, serta menggunakan kata-kata yang menarik saat berinteraksi dengan orang lain. Dunia RP secara tidak langsung menjadi tempat latihan kecil bagi anak muda untuk mengasah kemampuan menulis, berimajinasi, dan memahami perasaan manusia. Selain itu, komunitas RP juga memberikan kesempatan berharga untuk memperkuat hubungan sosial. Banyak remaja menemukan teman dekat, teman yang bisa berdiskusi dengan selaras, hingga kelompok dukungan yang hangat melalui interaksi bermain peran. Seperti dua sisi koin, dunia RP memiliki keuntungan positif dan bahaya tertentu. Fenomena ini jadi masalah ketika batas antara kehidupan nyata dan imajinasi mulai memudar saat seseorang merasa sangat tergantung secara emosional, mengabaikan tugas-tugas di dunia nyata, atau terlibat dalam cyberbullying dan penipuan identitas. Akhirnya, fenomena roleplayer di kalangan anak muda bukan hanya tentang cara menghindar atau mengekspresikan diri sendiri, tapi gabungan dari keduanya. Roleplay bisa menjadi cara untuk mengungkapkan diri secara sehat dan melepaskan perasaan, asalkan orang yang melakukan roleplay memiliki pengetahuan yang cukup agar tetap berada di dunia nyata.
