Peran Orang Tua dalam Pencapaian Pembelajaran Anak
Tulisan dari Chika Aulia Pratami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan formal yang diberikan orang tua kepada anak adalah bentuk tanggung jawab untuk memenuhi hak-hak anak sepenuhnya. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Pasal 9 yang menyebutkan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadi dan tingkat kecerdasannya sesuai minat dan bakat. Dalam pendidikan formal di sekolah guru mengambil peran besar untuk mengajarkan pembelajaran. Namun, banyak orang tua yang berpikir ketika anak sudah memasuki pembelajaran di sekolah perannya sebagai orang tua sudah tidak relevan, sehingga mereka cenderung lepas tanggung jawab dalam proses pembelajaran anaknya. Memang benar, sekolah memiliki tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan siswa pintar dengan membentuk karakteristik berbudi pekerti.
Namun, apakah sekolah adalah satu-satunya cetakan yang membentuk karakter anak? Rasanya terlalu sempit jika seluruh pembentukan karakter diletakkan di pundak pendidikan formal, sebab keluarga, teman sebaya, dan lingkungan turut menjadi tangan-tangan yang menempa, membentuk, bahkan mewarnai diri anak hingga ia menjadi pribadi yang kita kenal.
Keluarga sebagai Lingkungan Pendidikan Pertama
Sebelum anak mengenal apa itu guru, ruang kelas, buku pembelajaran, dan lingkungan sekolah, keluarga sudah lebih dulu menjadi perantara anak untuk melihat dan belajar mengenal dunia. Di dalam keluarga, anak belajar banyak hal dari perilaku keluarganya, seperti cara berbicara, cara bersikapnya, caranya mematuhi aturan, serta membangun kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan terus dibawa ketika ia berada di lingkungan masyarakat luas. Hal sederhana yang diberikan orang tua sehari-hari dapat menjadi bagian proses pembelajaran pendidikan kepada anak. Kebiasaan orang tua yang selalu membiasakan anaknya untuk membaca buku, mengikutsertakan anak dalam pengambilan keputusan lewat berdiskusi, mengajarkan tanggung jawab, dan mengajarkan cara untuk menghargai orang lain. Dengan hal sederhana yang diajarkan orang tua terhadap anaknya, secara tidak langsung dapat membentuk cara berpikir, bertindak, dan membentuk karakteristik yang kompeten bagi anak. Selain itu, anak juga belajar lewat apa yang mereka lihat dan mereka rasakan sehari-hari.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Pierre Bourdieu tentang modal budaya. Menurut Bourdieu, institusi keluarga menjadi modal budaya pertama bagi anak, seperti pengetahuan, kebiasaan, serta pengalaman yang dapat dibawa anak ke lingkungan pendidikan. Artinya, apa yang diperoleh anak di rumah tidak berhenti sebagai pengalaman saja, tetapi juga ikut serta untuk memengaruhi cara anak beradaptasi dan menjalani proses pembelajaran di sekolah. Bukan tetapi orang tua harus mengambil peran penuh untuk menjadi guru. Sekolah berfungsi untuk mengajarkan pengetahuan kepada siswa. Peran orang tua di sini ada di lingkup yang berbeda, yaitu untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan memperkuat modal pengetahuan anak di sekolah dapat terus berkembang di rumah. Sekolah memang menjadi ruang tempat anak memperoleh pendidikan formal, tetapi keluarga tetap menjadi tanah tempat berbagai kebiasaan, nilai, dan cara berpikir anak terus tumbuh.
Pierre Bourdieu dan Modal Budaya dalam Pendidikan
Ketika kita melihat pendidikan dari kacamata sosiologis, ternyata proses pembelajaran anak tidak hanya dipengaruhi dengan apa yang diberikan guru di dalam kelas. Anak datang ke sekolah dengan membawa kebiasaan yang ada di lingkungan keluarganya, dan cara berpikir yang terbentuk sebelumnya hasil dari cara orang tua berperilaku, mengajarkan, serta cara ia mendidik anaknya. Ini selaras dengan pemikiran Pierre Bourdieu tentang modal budaya.
Bourdieu menjelaskan bahwa modal tidak hanya berbentuk uang atau kekayaan. Dalam kehidupan sosial, seseorang juga memiliki modal budaya, yaitu pengetahuan, keterampilan, cara berpikir, cara berbicara, serta pengalaman yang diperoleh oleh lingkungan sosialnya. Dalam konteks pendidikan keluarga adalah objek penting untuk proses pembentukkan modal budaya tersebut. Modal budaya ini kemudian dapat memengaruhi bagaimana anak menjalani proses pembelajaran. Misalnya, ketika guru membuka diskusi di kelas, anak yang terbiasa berdiskusi di rumah mungkin sudah memiliki pengalaman untuk menyampaikan pendapat dan merespons pendapat orang lain. Artinya, pengalaman yang diperoleh anak sebelum dan di luar sekolah dapat ikut terbawa ke dalam ruang kelas.
Pemikiran Bourdieu tidak hanya sebatas itu. Bourdieu bilang bahwa setiap anak tidak tumbuh dalam kondisi sosial yang sama. Ada anak yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan dampingan dari orang tua. Namun, di sisi lain ada anak yang memiliki keterbatasan dalam memperoleh kesempatan pengalaman tersebut. Artinya, proses pembelajaran tidak hanya dilihat dari kemampuan anak dan kualitas guru yang memberikan pembelajaran, tetapi juga perlu dilihat latar belakang sosial dan lingkungan anak tumbuh. Peran orang tua penting bagi proses pembelajaran anak, orang tua tidak perlu pendidikan tinggi atau membangun fasilitas untuk membangun modal budaya anak. Hal-hal sederhana seperti membiasakan anak untuk membaca buku, mengajaknya berbicara tentang hal yang dilakukan di sekolah, mendengarkan pendapat, mengajarkan tanggung jawab, dan memberikan kesempatan untuk bertanya dapat menjadi sebuah pengalaman budaya yang dibangun oleh orang tua kepada anak. Dengan demikian, konsep modal budaya Bourdieu memperlihatkan bahwa pendidikan anak sebenarnya tidak dimulai dan berakhir di ruang kelas. Apa yang anak dapatkan dari rumah dapat menjadi bekal ketika ia memasuki sekolah.
Ketika Orang Tua Menyerahkan Pendidikan Sepenuhnya kepada Sekolah
Lalu, apa yang akan terjadi ketika orang tua melepaskan peran sepenuhnya kepada sekolah dan guru?
Seperti kenyataan yang ada, orang tua di Indonesia ternyata masih menganggap bahwa tanggung jawab pendidikan telah berpindah kepada guru. Dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Imran (2020), pada siswa kelas IV SDN Gugus III Kecamatan Sandubaya menunjukkan adanya hubungan positif antara dukungan orang tua dan prestasi belajar siswa. Dari 60 sampel, ada sekitar 28,62% dukungan orang tua yang berkontribusi terhadap prestasi belajar siswa, serta 71,38% lainnya berkaitan dengan faktor lain. Artinya temuan ini menunjukkan peran orang tua berpengaruh dalam proses pencapaian prestasi belajar anak, meskipun prestasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan belajar.
Karena itu, ketika langkah anak meninggalkan halaman sekolah dan kembali ke rumah, pendidikan tidak lantas ikut berhenti di balik gerbang. Buku memang dapat ditutup, papan tulis dapat ditinggalkan, dan ruang kelas dapat dikosongkan, tetapi benih-benih pembelajaran tetap tumbuh melalui percakapan, kebiasaan, pengalaman, dan interaksi yang ditemuinya setiap hari. Di sinilah orang tua menjadi salah satu tangan yang ikut merawat pertumbuhan itu, memastikan apa yang telah dipelajari anak di sekolah tidak sekadar menjadi pengetahuan yang tersimpan di dalam kepala, tetapi menjelma menjadi kebiasaan, sikap, dan pengalaman yang hidup dalam kesehariannya.
Bentuk Nyata Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Anak
Pertanyaan bagi pembaca, menurut anda, apa bentuk nyata peran orang tua dalam pembelajaran anak?
Jika, anda menjawab peran orang tua yaitu harus selalu mendampingi anak setiap kali mengerjakan tugas. Anda benar, tetapi ada kekeliruan pada jawaban anda. Peran orang tua adalah untuk menciptakan suasana rumah yang mendukung anak untuk proses pembelajaran. Hal-hal sederhana yang sudah saya jelaskan, jika dilakukan berulang kali perlahan akan menjadi bagian dari cara anak berperilaku di masyarakat luas.
Dengan begitu, orang tua tidak harus mengambil alih posisi guru dalam proses pembelajaran. Guru tetap memiliki peran utama dalam memberikan pendidikan formal di sekolah, sedangkan orang tua menciptakan lingkungan yang membantu anak membawa pembelajaran tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan akhirnya tidak berlangsung ketika anak ada di kelas, tetapi juga ketika ia bersama keluarganya.
Jadi, ketika sekolah menanamkan benih pengetahuan, sudah siapkah kita menjadi orang tua yang ikut menyirami dan merawatnya hingga tumbuh menjadi bekal kehidupan?

