Konten dari Pengguna

Kebiasaan Cat Calling di Kalangan Anak Muda: Candaan atau Pelecehan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arimni Chika Luthfiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Cat Calling Masih Sering Terjadi di Ruang Publik"

Ilustrasi Pelecehan Verbal. Foto : https://www.shutterstock.com/id/image-photo/asian-couple-argued-each-other-leading-1880719414?trackingId=2f7bf44f-5e87-426a-9308-848996b5dbc7&listId=searchResults
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pelecehan Verbal. Foto : https://www.shutterstock.com/id/image-photo/asian-couple-argued-each-other-leading-1880719414?trackingId=2f7bf44f-5e87-426a-9308-848996b5dbc7&listId=searchResults

Cat calling masih menjadi fenomena yang sering ditemui di berbagai ruang publik, mulai dari jalan raya, halte, transportasi umum, hingga lingkungan kampus. Perilaku ini biasanya berupa siulan, panggilan, komentar mengenai penampilan fisik, atau ucapan bernada menggoda kepada orang yang tidak dikenal. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap cat calling sebagai candaan atau bentuk pujian biasa, padahal itu termasuk pelecehan verbal dan tidak semua orang merasa nyaman menerimanya.

Di era media sosial, kesadaran masyarakat terhadap isu cat calling memang mulai meningkat. Banyak korban yang berani menceritakan pengalaman mereka sehingga membuka mata publik bahwa tindakan tersebut bukanlah hal yang sepele. Meski demikian, praktik cat calling masih sering terjadi dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh sebagian orang.

Mengapa Cat Calling Dianggap Normal?

Salah satu alasan cat calling masih sering terjadi adalah karena adanya anggapan bahwa memberikan komentar terhadap penampilan seseorang merupakan hal yang biasa. Tidak sedikit pelaku yang berdalih bahwa mereka hanya bercanda atau sekadar memberikan pujian.

Padahal, perbedaan utama antara pujian dan cat calling terletak pada adanya persetujuan dari orang yang menerima. Ketika komentar diberikan kepada orang asing tanpa diminta dan membuat mereka merasa takut, malu, atau tidak nyaman, maka tindakan tersebut sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai candaan.

Budaya yang telah berlangsung cukup lama juga membuat sebagian masyarakat menganggap cat calling sebagai hal yang lumrah. Akibatnya, korban sering kali memilih diam karena khawatir tidak dipercaya atau justru disalahkan karena tidak merasa aman.

Dampak Cat Calling terhadap Korban

Ilustrasi Korban yang Terdampak Pelecehan Verbal. Foto : https://www.shutterstock.com/id/image-photo/sad-woman-hug-her-knee-cry-678152578?trackingId=6947b1e4-3556-49dd-964e-3bbba0c6691f&listId=searchResults

Meskipun tidak melibatkan kontak fisik, cat calling dapat memberikan dampak psikologis yang cukup besar. Banyak korban mengaku merasa cemas, takut, malu, bahkan kehilangan rasa aman ketika berada di ruang publik.

Tidak sedikit pula yang akhirnya mengubah kebiasaan mereka, seperti memilih rute tertentu, mengenakan pakaian yang dianggap lebih aman, atau menghindari keluar sendirian. Hal ini menunjukkan bahwa cat calling bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga dapat membatasi kebebasan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain itu, pengalaman menjadi korban cat calling juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Perasaan tidak dihargai dan tidak aman dapat terus membekas, terutama jika kejadian tersebut terjadi berulang kali.

"Membangun Kesadaran untuk Menghentikan Cat Calling"

Mengurangi kasus cat calling tidak hanya menjadi tanggung jawab korban, tetapi juga seluruh masyarakat. Edukasi mengenai pentingnya menghormati batasan pribadi perlu diberikan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun kampus.

Anak muda memiliki peran penting dalam menciptakan ruang publik yang lebih aman. Salah satunya dengan tidak menormalisasi cat calling, berani mengingatkan teman yang melakukannya, serta memberikan dukungan kepada korban agar mereka tidak merasa sendirian.

Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan edukasi mengenai bahaya cat calling. Semakin banyak orang memahami dampaknya, semakin besar pula peluang untuk mengurangi perilaku tersebut di lingkungan sekitar.

Penutup

Pada akhirnya, cat calling bukanlah bentuk pujian yang dapat diterima oleh semua orang. Tindakan ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, mengganggu keamanan, bahkan berdampak pada kesehatan mental korban. Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat berhenti menormalisasi cat calling dan mulai membangun budaya saling menghormati di ruang publik. Dengan kesadaran bersama, ruang publik dapat menjadi tempat yang lebih aman, nyaman, dan inklusif bagi siapa pun.

Baca Juga : Mengenal Pelecehan Verbal, Kekerasan Seksual Non Kontak yang Jarang Disadari