Konten dari Pengguna

Investasi Ikut Tren karena Takut Ketinggalan, Apa Risikonya?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chinthya Eliro Ningshi Zebua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar: Ilustrasi Dibuat Oleh Al
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Ilustrasi Dibuat Oleh Al

Pernah melihat seseorang membicarakan keuntungan dari suatu investasi, lalu muncul keinginan untuk ikut mencobanya? Apalagi jika banyak orang di media sosial membagikan pengalaman mereka mendapatkan keuntungan. Rasanya seperti ada kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Situasi seperti ini bisa membuat seseorang tertarik berinvestasi tanpa terlebih dahulu memahami produk yang dipilih. Ada kekhawatiran bahwa jika tidak segera ikut membeli, kesempatan memperoleh keuntungan akan hilang.

Dalam dunia investasi, perasaan takut ketinggalan peluang seperti ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Jika tidak disikapi dengan baik, FOMO dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan investasi.

Padahal, investasi bukan sekadar mengikuti sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Ada risiko yang perlu dipahami, dan pilihan yang terlihat menguntungkan bagi orang lain belum tentu sesuai dengan kondisi keuangan kita.

Ketika Banyak Orang Membeli, Kita Ikut Tertarik

Informasi tentang investasi kini mudah ditemukan melalui media sosial. Ada yang membagikan pengalaman membeli saham, ada yang membicarakan kenaikan harga emas, dan ada pula yang menunjukkan hasil investasinya.

Informasi tersebut memang bisa menambah wawasan. Namun, jika hanya melihat keuntungan yang dibagikan orang lain, kita bisa saja tidak menyadari risiko di balik keputusan mereka.

Misalnya, harga suatu aset sedang naik dan banyak orang mulai membicarakannya. Karena takut kehilangan kesempatan, seseorang langsung membeli aset tersebut tanpa mempelajari alasan kenaikan harga atau kemungkinan penurunannya.

Keputusan seperti ini lebih banyak didorong oleh keinginan untuk mengikuti tren daripada pertimbangan yang matang.

Perilaku mengikuti keputusan orang lain dalam investasi dikenal sebagai herding behavior. Dalam konteks ini, seseorang cenderung mengikuti tindakan mayoritas investor karena menganggap pilihan yang dilakukan banyak orang pasti benar.

Padahal, banyaknya orang yang membeli suatu aset tidak menjamin bahwa aset tersebut akan terus mengalami kenaikan harga.

Karena itu, informasi dari media sosial sebaiknya dijadikan bahan untuk mencari tahu lebih lanjut, bukan satu-satunya alasan untuk membeli suatu investasi.

FOMO Bisa Membuat Keputusan Menjadi Terburu-buru

Salah satu risiko mengikuti tren investasi adalah mengambil keputusan sebelum memahami produk yang dibeli.

Ketika merasa kesempatan akan segera hilang, seseorang mungkin tidak sempat mempertimbangkan tujuan investasi, kondisi keuangan, dan kemungkinan kerugian. Fokusnya hanya pada keinginan untuk mendapatkan keuntungan seperti yang diceritakan orang lain.

Penelitian Pratiwi dan Adams (2025) yang berjudul Bias Perilaku terhadap Keputusan Investasi Investor Pasar Modal Indonesia membahas pengaruh availability bias, herding bias, dan FOMO terhadap keputusan investasi.

Penelitian tersebut melibatkan 200 responden yang aktif berinvestasi di pasar saham. Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut berpengaruh terhadap keputusan investasi dalam sampel yang diteliti. FOMO ditemukan sebagai faktor yang paling dominan di antara ketiganya.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan investasi tidak selalu didasarkan pada analisis keuangan saja. Faktor psikologis dan pengaruh lingkungan juga dapat berperan dalam menentukan pilihan seseorang.

Meskipun demikian, hasil penelitian tersebut tidak berarti setiap investor yang mengikuti tren pasti mengalami kerugian. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah keputusan tersebut dibuat setelah memahami informasi dan risiko yang ada atau hanya karena takut tertinggal.

Keuntungan yang Terlihat Belum Tentu Menggambarkan Risikonya

Ketika seseorang membagikan keberhasilan investasinya, kita mungkin hanya melihat hasil akhirnya. Kita belum tentu mengetahui kapan ia membeli aset tersebut, berapa lama ia menahannya, berapa besar modal yang digunakan, atau seberapa besar risiko yang sanggup ditanggungnya.

Akibatnya, kita bisa menganggap bahwa membeli aset yang sama akan memberikan hasil serupa.

Padahal, hasil investasi dapat berbeda-beda bergantung pada waktu pembelian, harga, kondisi pasar, dan keputusan yang diambil masing-masing investor.

Sebagai contoh, seseorang membeli saham ketika harganya masih relatif rendah. Setelah harganya naik, ia membagikan pengalamannya di media sosial. Orang lain yang baru mengetahui saham tersebut kemudian ikut membeli ketika harganya sudah meningkat.

Jika harga kemudian turun, pembeli yang masuk belakangan dapat mengalami kerugian.

Contoh tersebut bukan berarti setiap aset yang harganya naik akan segera turun. Intinya, keputusan membeli hanya berdasarkan pengalaman keuntungan orang lain membuat kita berisiko mengabaikan kondisi dan harga saat melakukan pembelian.

Karena itu, sebelum mengikuti tren, penting untuk memahami apa yang dibeli dan alasan investasi tersebut dianggap sesuai dengan tujuan kita.

Jangan Sampai Mengabaikan Kemampuan Keuangan Sendiri

Risiko lain muncul ketika keinginan mengikuti tren membuat seseorang menggunakan dana yang sebenarnya dibutuhkan untuk keperluan lain.

Misalnya, seseorang tertarik membeli aset karena melihat banyak orang memperoleh keuntungan. Ia kemudian menggunakan uang yang seharusnya disiapkan untuk membayar kebutuhan dalam waktu dekat.

Jika nilai investasinya turun ketika uang tersebut dibutuhkan, ia bisa menghadapi kesulitan keuangan.

Situasi seperti ini menunjukkan pentingnya memperhitungkan modal dan kebutuhan sebelum berinvestasi. Dana untuk kebutuhan sehari-hari dan kewajiban keuangan perlu dipertimbangkan terlebih dahulu agar keputusan investasi tidak mengganggu kondisi keuangan.

Selain itu, setiap orang memiliki profil risiko yang berbeda. Ada yang lebih nyaman dengan perubahan nilai investasi yang relatif kecil, sementara yang lain bersedia menghadapi risiko lebih besar.

Karena itu, kita tidak perlu memaksakan diri mengikuti pilihan investasi orang lain. Pilihan yang sesuai bagi mereka belum tentu sesuai dengan kemampuan kita.

Bagaimana agar Tidak Mudah Terbawa Tren?

Menghindari FOMO bukan berarti harus mengabaikan semua informasi investasi yang sedang ramai. Kita tetap bisa mempelajari tren yang muncul, tetapi perlu memberikan waktu untuk menilai apakah informasi tersebut memang relevan.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebelum mengambil keputusan.

Pertama, pahami produk yang ingin dibeli. Cari tahu cara kerjanya, potensi keuntungan, risiko, dan faktor yang dapat memengaruhi nilainya. Jangan membeli hanya karena banyak orang membicarakannya.

Kedua, periksa sumber informasinya. Bedakan informasi yang didukung data dengan pendapat atau promosi yang hanya menonjolkan keuntungan. Jika ada klaim yang meragukan, cari pembanding dari sumber tepercaya.

Ketiga, sesuaikan dengan tujuan investasi. Pertimbangkan apakah aset tersebut sesuai dengan jangka waktu, kebutuhan, dan profil risiko kita. Tidak semua peluang harus diambil.

Keempat, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Jika masih belum memahami suatu produk, tidak ada salahnya menunda pembelian sambil mempelajari informasinya. Melewatkan satu peluang tidak berarti kita kehilangan semua kesempatan untuk berinvestasi.

Langkah-langkah tersebut dapat membantu kita mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang lebih jelas, bukan semata-mata karena takut tertinggal.

Investasi Seharusnya Berdasarkan Pertimbangan, Bukan Sekadar Tren

Sumber Gambar: Ilustrasi Dibuat Oleh Al

Mengikuti perkembangan investasi memang bisa membantu kita menemukan informasi dan mempelajari peluang baru. Namun, keputusan untuk membeli suatu aset tetap perlu didasarkan pada pemahaman terhadap produk, kondisi keuangan, tujuan, dan risiko yang mungkin dihadapi.

FOMO dan perilaku mengikuti keputusan orang lain dapat membuat seseorang terburu-buru dalam mengambil keputusan. Terlebih ketika informasi yang diterima hanya menampilkan keuntungan tanpa menjelaskan risiko yang menyertainya.

Karena itu, sebelum ikut membeli aset yang sedang populer, luangkan waktu untuk memahami apa yang membuatnya menarik dan apakah pilihan tersebut sesuai dengan kebutuhan kita.

Pada akhirnya, tidak semua tren harus diikuti. Investasi yang baik bukan tentang siapa yang paling cepat membeli aset populer, melainkan tentang bagaimana seseorang mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab.