Investasi Sudah Berjalan, Lalu Apa yang Perlu Dilakukan agar Tetap Sesuai Tujuan

Saya adalah mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) jurusan Manajemen Keuangan. Saya memiliki hobi streaming dan tertarik untuk terus belajar serta mengembangkan diri.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Chinthya Eliro Ningshi Zebua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memulai investasi sering dianggap sebagai langkah paling penting untuk mengembangkan uang. Setelah memilih produk dan menempatkan dana, sebagian orang mungkin merasa tinggal menunggu hasilnya. Padahal, investasi tidak selalu berjalan sesuai harapan. Nilai aset bisa berubah, kondisi pasar bergerak, dan kebutuhan keuangan seseorang pun dapat berganti seiring waktu.
Karena itu, memiliki investasi saja belum cukup. Kita juga perlu memahami bagaimana mengelolanya agar tetap sesuai dengan tujuan awal.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan setelah investasi berjalan? Apakah kita perlu terus memantau harga, mengganti produk investasi, atau membiarkannya saja?
Jawabannya bergantung pada tujuan, kondisi keuangan, dan jenis investasi yang dimiliki. Namun, ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan agar keputusan investasi tidak hanya mengikuti perubahan pasar.
Jangan Hanya Berinvestasi, Perhatikan Juga Perkembangannya
Ketika sudah memiliki investasi, kita perlu mengetahui bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu. Bukan berarti harus memeriksa harga setiap saat, tetapi memahami apakah investasi tersebut masih sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Misalnya, seseorang berinvestasi untuk memenuhi kebutuhan beberapa tahun mendatang. Seiring berjalannya waktu, nilai investasinya mungkin meningkat atau justru menurun. Dalam kondisi seperti ini, ia perlu melihat kembali tujuan awal, jangka waktu yang tersisa, dan risiko yang sanggup ditanggung.
Memantau investasi bukan berarti setiap kali harga turun kita harus langsung menjualnya. Begitu pula ketika harga naik, kita tidak harus buru-buru membeli lebih banyak.
Hal yang lebih penting adalah memahami alasan di balik perubahan tersebut dan mempertimbangkan dampaknya terhadap rencana keuangan.
Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak hanya didasarkan pada rasa takut kehilangan uang atau keinginan memperoleh keuntungan lebih besar.
Perlukah Portofolio Dievaluasi Secara Berkala?
Portofolio merupakan kumpulan aset atau instrumen investasi yang dimiliki seseorang, seperti saham, obligasi, dan reksa dana.
Setiap instrumen memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Ketika nilai masing-masing aset berubah, komposisi portofolio juga dapat mengalami perubahan.
Sebagai contoh, seseorang awalnya membagi investasinya ke dalam beberapa instrumen dengan proporsi tertentu. Setelah beberapa waktu, kenaikan nilai salah satu aset membuat porsinya menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Jika perubahan tersebut menyebabkan portofolio tidak lagi sesuai dengan tujuan atau profil risikonya, investor dapat mempertimbangkan untuk menyesuaikan kembali komposisinya.
Proses ini dikenal sebagai rebalancing atau penyeimbangan kembali portofolio.
Penelitian Prawatiningsih (2021) berjudul Efektivitas Rebalancing Portofolio Saham Sektoral di Bursa Efek Indonesia membahas pentingnya penyesuaian alokasi aset dalam pengelolaan portofolio. Penelitian tersebut menemukan bahwa strategi rebalancing yang diuji dapat menurunkan risiko investasi dibandingkan portofolio tanpa rebalancing, meskipun tidak menunjukkan peningkatan rata-rata imbal hasil yang signifikan.
Temuan ini menunjukkan bahwa penyesuaian portofolio tidak selalu bertujuan meningkatkan keuntungan. Dalam kondisi tertentu, langkah tersebut juga dapat digunakan untuk membantu mengendalikan risiko.
Namun, rebalancing tidak harus dilakukan setiap kali harga berubah. Investor perlu mempertimbangkan tujuan, biaya transaksi, dan kondisi portofolionya sebelum mengambil keputusan.
Sumber jurnal: Prawatiningsih (2021), Efektivitas Rebalancing Portofolio Saham Sektoral di Bursa Efek Indonesia.
Baca jurnalnya di sini: https://share.google/V20ADh4CelPwyUdbn
Ketika Investasi Turun, Jangan Langsung Panik
Melihat nilai investasi menurun tentu bisa membuat khawatir, terutama jika dana yang ditempatkan cukup besar. Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk menjual atau mempertahankan investasi sebaiknya tidak diambil hanya berdasarkan kepanikan.
Pertama, pahami penyebab penurunannya. Apakah perubahan tersebut berkaitan dengan kondisi pasar secara keseluruhan atau masalah pada aset yang dimiliki?
Kedua, periksa kembali tujuan investasi. Jika tujuan dan kondisi keuangan masih sama, investor dapat mempertimbangkan apakah strategi yang digunakan masih sesuai. Namun, jika ada perubahan mendasar yang memengaruhi prospek investasi atau kemampuan menanggung risiko, keputusan mungkin perlu ditinjau kembali.
Ketiga, pertimbangkan kemampuan menghadapi kerugian. Jangan sampai keinginan mempertahankan investasi justru membuat kebutuhan keuangan yang lebih mendesak terabaikan.
Tidak ada keputusan yang otomatis benar untuk semua situasi. Menjual ketika harga turun belum tentu selalu salah, begitu pula mempertahankan investasi tidak selalu menjadi pilihan terbaik.
Yang penting adalah memahami situasi dan mempertimbangkan alasan sebelum bertindak.
Tujuan Investasi Bisa Berubah, Strateginya Juga Perlu Ditinjau
Saat pertama kali berinvestasi, seseorang mungkin memiliki tujuan untuk mengumpulkan dana dalam jangka panjang. Namun, beberapa tahun kemudian, ia bisa saja membutuhkan uang untuk pendidikan, membeli rumah, atau keperluan lainnya.
Perubahan seperti ini perlu diperhitungkan karena strategi yang sebelumnya sesuai belum tentu tetap cocok dengan kebutuhan terbaru.
Misalnya, seseorang yang semakin dekat dengan waktu penggunaan dananya mungkin perlu meninjau kembali tingkat risiko investasinya. Ia perlu mempertimbangkan apakah komposisi portofolionya masih sesuai dengan jangka waktu dan kebutuhan tersebut.
Artinya, evaluasi investasi bukan hanya dilakukan karena harga naik atau turun. Perubahan tujuan, kondisi keuangan, dan kemampuan menghadapi risiko juga menjadi alasan untuk meninjau kembali strategi yang digunakan.
Hal ini sejalan dengan konsep portofolio investor individu, yaitu bahwa pemilihan instrumen dan pengelolaan investasi perlu mempertimbangkan tujuan serta profil risiko masing-masing investor.
Karena kondisi setiap orang berbeda, tidak semua investor harus memiliki komposisi investasi yang sama.
Diversifikasi Tetap Penting, tetapi Bukan Jaminan Keuntungan
Salah satu hal yang dapat ditinjau saat mengevaluasi portofolio adalah diversifikasi.
Diversifikasi berarti membagi dana ke beberapa aset atau instrumen investasi yang memiliki karakteristik berbeda. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan pada satu investasi saja.
Penelitian Liestyowati, Possumah, Yadasang, dan Ramadhani (2023) mengenai diversifikasi portofolio pada investor individu di Jakarta menemukan adanya hubungan antara diversifikasi dan penurunan sejumlah indikator risiko investasi. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan positif yang signifikan secara statistik antara diversifikasi dan kinerja investasi pada sampel yang diteliti.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak berarti semua portofolio yang terdiversifikasi pasti menghasilkan keuntungan. Risiko pasar tetap dapat memengaruhi berbagai instrumen investasi.
Karena itu, diversifikasi sebaiknya dipahami sebagai salah satu strategi pengelolaan risiko, bukan sebagai jaminan bahwa investasi akan selalu menguntungkan.
Saat mengevaluasi portofolio, investor perlu melihat apakah pembagian asetnya masih sesuai dengan tujuan, modal, dan profil risiko. Menambah jenis investasi tanpa memahami karakteristiknya belum tentu membuat portofolio menjadi lebih baik.
Sumber jurnal: Liestyowati, L. M. Possumah, R. M. Yadasang, dan H. Ramadhani (2023), Pengaruh Diversifikasi Portofolio terhadap Pengelolaan Risiko dan Kinerja Investasi: Analisis pada Investor Individu.
Baca jurnalnya di sini: https://share.google/KMI9mLf2jqFvLIwHr
Tidak Harus Selalu Mengubah Investasi
Evaluasi portofolio bukan berarti kita harus sering membeli dan menjual aset. Terlalu sering mengubah investasi tanpa pertimbangan yang jelas justru dapat menambah biaya transaksi dan membuat keputusan semakin sulit dikendalikan.
Ada kalanya portofolio masih sesuai dengan tujuan sehingga tidak membutuhkan perubahan besar. Dalam kondisi lain, penyesuaian mungkin diperlukan karena tujuan, kebutuhan dana, atau profil risiko sudah berubah.
Karena itu, evaluasi sebaiknya dilakukan dengan alasan yang jelas, bukan semata-mata karena mengikuti tren atau melihat keputusan investor lain.
Investor juga perlu memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Sebelum melakukan perubahan, pertimbangkan manfaat yang diharapkan, risiko yang mungkin muncul, dan biaya yang harus dikeluarkan.
Dengan cara ini, evaluasi dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan, bukan sekadar reaksi terhadap pergerakan harga.
Investasi Perlu Dikelola, Bukan Sekadar Ditinggalkan
Investasi yang sudah berjalan tetap membutuhkan perhatian. Kita perlu memahami perkembangannya, mengevaluasi kesesuaiannya dengan tujuan, serta mempertimbangkan perubahan kondisi keuangan dan risiko.
Namun, mengelola investasi bukan berarti harus terus-menerus memeriksa harga atau mengubah portofolio setiap kali pasar bergerak.
Yang lebih penting adalah memiliki tujuan yang jelas, memahami instrumen yang dimiliki, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang masuk akal.
Pada akhirnya, keberhasilan mengelola investasi bukan hanya tentang mengejar keuntungan, tetapi juga tentang memastikan bahwa keputusan yang diambil tetap sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan diri.
Sebab, tujuan berinvestasi bukan sekadar memiliki aset, melainkan mengelolanya dengan bijak agar tetap sejalan dengan rencana keuangan yang ingin dicapai.
