Konten dari Pengguna

Ibu Single Fighter: Ketika Menjadi Pejuang Sendiri dalam Pernikahan

Chiqui Thaniaa

Chiqui Thaniaa

Mahasiswa UNIVERSITAS PAMULANG Ilmu Komunikasi

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chiqui Thaniaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi AI seorang ibu single fighter menggunakan ChatGPT.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI seorang ibu single fighter menggunakan ChatGPT.

Tidak sedikit ibu single fighter yang masih berstatus menikah, tetapi harus menjalani peran rumah tangga hampir seorang diri. Ada yang secara hukum masih berada dalam ikatan pernikahan, tetapi dalam kesehariannya menjalani hidup seperti seorang pejuang tunggal. Ia bangun lebih pagi dari semua orang di rumah, memastikan kebutuhan anak-anak terpenuhi, mengurus rumah tangga, menenangkan suasana, bahkan terkadang ikut menopang ekonomi keluarga. Semua dijalani nyaris tanpa jeda, seolah lelah tidak diberi ruang untuk singgah. Dari luar, hidupnya tampak baik-baik saja. Namun, di balik itu, ada sunyi yang dipikul sendirian.

Fenomena seperti ini mungkin lebih dekat dengan kehidupan banyak orang daripada yang kita kira. Di banyak keluarga, ibu menjadi pusat dari hampir seluruh bagian rumah tangga. Ia bukan hanya sosok yang melahirkan dan merawat, tetapi juga menjadi penghubung emosi dalam keluarga, penjaga kestabilan rumah, sekaligus orang pertama yang memastikan semuanya tetap berjalan. Ibu sering menjadi tempat pulang bagi anak-anaknya, tempat berkeluh kesah, tempat merasa aman, bahkan ketika dirinya sendiri belum tentu memiliki tempat yang sama untuk beristirahat.

Persoalannya, tidak semua ibu menjalani peran itu dengan dukungan yang utuh dari adanya pasangan. Ada ibu yang tetap harus kuat meski tidak benar-benar ditemani. Ada yang memiliki suami secara status, tetapi tidak memiliki kehadiran yang cukup untuk berbagi beban. Kehadiran yang dimaksud tentu bukan semata soal ada atau tidak ada secara fisik, melainkan juga tentang keterlibatan, empati, tanggung jawab, dan kesediaan untuk berjalan bersama. Ketika semua itu tidak hadir, pernikahan bisa berubah menjadi ruang yang terasa sepi, meski dua orang masih berada di dalamnya.

Dalam situasi seperti ini, ibu sering kali menjalani peran ganda, bahkan berlapis. Ia mengurus anak, menyelesaikan seluruh pekerjaan, menjaga kebutuhan keluarga, dan pada saat yang sama menahan emosinya sendiri agar rumah tetap terasa tenang. Ia belajar menunda lelah, menyimpan kecewa, dan tetap tersenyum di depan anak-anaknya. Tidak sedikit ibu yang harus terlihat baik-baik saja, bukan karena semuanya benar-benar baik, tetapi karena merasa tidak punya pilihan selain bertahan. Kekuatan itu akhirnya tumbuh bukan dari hidup yang ringan, melainkan dari keadaan yang menuntutnya terus berjalan.

Kondisi ini dapat dipahami melalui pemikiran sosiolog Arlie Russel Hochschild tentang second shift. Hochschild menjelaskan bahwa banyak perempuan, terutama yang telah menikah, tidak hanya menjalani pekerjaan dia ruang publik, tetapi juga menghadapi "shift kedua" di rumah berupa pekerjaan domestik, pengasuhan anak, dan pengelolaan kebutuhan keluarga. Gagasan ini menunjukkan bahwa beban perempuan dalam rumah tangga sering kali tidak berhenti pada kerja fisik, tetapi juga meluas pada kerja emosional seperti, menjaga suasana tetap hangat, menenangkan konflik, dan memastikan semuanya baik-baik saja. Dalam konteks ibu yang harus berjuang hampir sendirian di dalam pernikahan, beban itu menjadi lebih berat karena yang ditanggung bukan hanya pekerjaan, melainkan juga kesepian.

Barangkali, di titik inilah kita perlu mengubah cara pandang. Ketika melihat seorang ibu yang tampak kuat, kita sering lupa bahwa kekuatan itu tidak selalu lahir dari pilihan. Kadang, ia kuat karena keadaan tidak memberinya kesempatan untuk runtuh. Kadang, ia bertahan karena ada anak-anak yang harus tetap merasa aman, meski hatinya sendiri sedang tidak baik-baik saja. Ia tetap menyiapkan makan, tetap menanyakan kabar, tetap mendengarkan cerita-cerita kecil, tetap menjadi rumah bagi anak-anaknya, sambil diam-diam menata dirinya sendiri agar tidak hancur.

Maka menyebut ibu sebagai wanita terkuat bukanlah pujian yang berlebihan. Itu adalah pengakuan atas perjuangan yang kerap tidak terlihat. Ibu yang menjadi single fighter dalam status pernikahan sedang menghadapi dua hal sekaligus, kerasnya hidup dan sunyi di dalam relasi yang semestinya menjadi tempat berbagi. Ia tetap memberi cinta meski dirinya kekurangan dukungan, tetap menghadirkan rasa tenang meski pikirannya penuh beban, dan tetap menjadi sandaran bagi banyak orang meski dirinya sendiri belum tentu punya tempat bersandar.

Namun, ada satu hal yang juga perlu diingat, bahwa ketangguhan seorang ibu tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkannya menanggung semuanya sendiri. Sebab sekuat apa pun seorang ibu, ia tetap manusia yang bisa lelah, bisa kecewa, dan bisa merasa runtuh. Ia tidak seharusnya dipuji hanya karena mampu bertahan dalam kesepian, melainkan juga didukung agar tidak perlu selalu bertahan sendirian. Sebab pada akhirnya, pernikahan tidak seharusnya membuat seseorang merasa menjadi pejuang tunggal di dalam rumah yang dibangun bersama.

Ibu memang wanita terkuat. Tetapi mungkin, bentuk penghargaan terbaik bagi kekuatan itu bukan sekadar mengaguminya, melainkan memastikan bahwa ia tidak terus-menerus dipaksa kuat oleh keadaan.