MMD UB Luncurkan Model Gerakan Pengelolaan Sampah dari Bawah di Desa Srigading

mahasiswa universitas Brawijaya 2023 program studi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Choirun Nisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Srigading, Lawang – Dalam rangka membangun kesadaran lingkungan yang menyeluruh serta mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan desa, Tim Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya 2025 kelompok 8 menggelar serangkaian kegiatan dengan mengusung tema besar “Model Gerakan Pengelolaan Sampah dari Bawah: Sinergi Edukasi, Aksi dan Inovasi untuk Ketahanan Pangan dan Keberlanjutan Desa” di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang pada tanggal 1 Juli-1 Agustus 2025.
Program ini diketuai oleh Dr. Rizka Amalia, S.K.Pm., M.Si., bersama tim dosen pembimbing lapangan Alia Fibrianingtyas, S.P., M.P.; Imaniar Ilmi Pariasa, S.P., M.P.; dan Mahfudlotul ‘Ula, S.E., M.Si. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya kolaboratif antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menciptakan gerakan pengelolaan sampah yang berbasis edukasi, aksi nyata, dan inovasi berkelanjutan.
Program ini diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat mengenai dampak negatif pembakaran dan pembuangan sampah di sungai. Melalui kegiatan ini, warga diedukasi tentang bahaya kesehatan yang timbul akibat asap pembakaran, seperti gangguan pernapasan dan risiko kanker, serta dampak lingkungan seperti pencemaran udara, perubahan iklim, dan banjir akibat sampah yang menyumbat aliran sungai. Warga juga diperkenalkan dengan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah, sebagai langkah sederhana namun krusial dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Sebagai solusi pengelolaan limbah organik, mahasiswa UB memberikan pelatihan pembuatan eco-enzyme dan kompos dari sisa dapur rumah tangga. Keduanya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian di pekarangan. Warga juga diperkenalkan dengan budidaya maggot, yakni larva lalat tentara hitam, sebagai alternatif ramah lingkungan dalam mengurai limbah organik sekaligus menjadi pakan ternak yang bergizi tinggi dan ekonomis.
Sementara itu, dalam rangka menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, Tim MMD UB juga menyelenggarakan pelatihan kerajinan dari limbah anorganik bagi seluruh siswa SMP Negeri 5 Lawang Satu Atap. Para siswa dilatih mengolah plastik dan kertas bekas menjadi karya pot tanaman. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan partisipatif, kegiatan ini mendapat respon yang baik dari kepala sekolah dan para guru, serta keaktifan siswa dalam meningkatkan kreativitas.
Selain itu, metode photovoice turut diterapkan sebagai sarana partisipatif yang memungkinkan warga untuk mengidentifikasi dan menyampaikan persoalan lingkungan melalui media foto dan narasi. Dengan cara ini, masyarakat diberi ruang untuk menyuarakan perspektif mereka dalam mengidentifikasi dan mengungkap masalah sampah melalui foto dan narasi. Kegiatan ini memberi ruang bagi warga untuk menyuarakan realitas lingkungan mereka dengan cara yang kreatif dan reflektif.
Agar program tidak berhenti di tahap edukasi, dilakukan pula pendampingan lanjutan dalam pengembangan kebun rumah tangga berbasis pertanian ramah lingkungan, budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan akhir sampah organik dan pakan ternak berprotein tinggi, serta program ternak lele yang berhasil mendapatkan izin kerjasama dengan BUMDES Desa Srigading. Dengan prinsip keberlanjutan, semua program yang telah terealisasikan memanfaatkan hasil olahan sampah rumah tangga seperti pot dari galon bekas, kompos dan eco-enzym sebagai sumber pendukung.
Program ini secara langsung mendukung poin SDGs Desa dalam penerapannya, antara lain SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan), SDG 6 (Akses Air Bersih dan Sanitasi), SDG 11 (Kawasan Permukiman Aman dan Nyaman), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Sadar Lingkungan), SDG 13 (Tanggap Perubahan Iklim), dan SDG 15 (Peduli Lingkungan Darat).
Dengan sinergi antara mahasiswa, dosen, perangkat desa, dan masyarakat, kegiatan ini menjadi model awal gerakan pengelolaan sampah yang tumbuh dari bawah. Tak hanya menjawab persoalan lingkungan, program ini juga membuka jalan bagi praktik berkelanjutan yang berdampak langsung pada kualitas hidup warga dan masa depan desa. Desa Srigading kini tengah melangkah menuju transformasi: dari desa penghasil limbah, menjadi desa pengolah limbah yang tangguh, inovatif, dan berdaya lingkungan.
