CERPEN : Aku Anjing Tapi Kenapa Laki-laki Itu Menggonggong?

Seorang penyanyi, pekerja kreatif, dan marketing. Lulusan IESP Universitas Jember.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Cholis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa ia mengonggong? seorang laki-laki remaja mengambilku. Aku ingat waktu itu ia membawa ikan saat melihatku, akupun yang begitu lapar serasa ingin memakan ikan dan tangan laki-laki itu. Aku sudah tidak mempercayai apa yang aku lihat. Dulu seorang pria dan wanita yang baunya aneh itu pergi dan ternyata belum kembali sampai saat ini.
Pria itu entah namanya siapa, ia memberiku makan setiap pagi. Makanannya bukan sekedar makanan kering dan gurih itu. Sesekali ia memberiku daging yang baunya lezat sekali. Serasa aku ingin memakannya setiap saat, setiap hari, setiap sebelum tidur.
Pria itu memanggilku Dolli. Awalnya aku bingung, tapi sesekali tangannya melambai, kelihatan bahagia juga ketika ia mengucapkan itu. Walaupun kadang dengan nada yang aneh di pagi hari. Baju dan celana seadanya, duduk di teras rumah sambil minum kopi yang baunya agak aneh. Aku rebahan agak jauh karena bau itu, sambil sesekali melihat kupu-kupu yang terbang. Andai aku bisa terbang juga.
Pernah satu hari, pria itu terlihat murung. Apa makananku sudah habis dan ia tidak bisa membelikanku daging yang lezat itu? apa ia sedang memikirkan orang lain? apa lagi yang ia pikir? aku tidak bisa benar-benar tahu. Aku cuma bisa tidur di pangkuannya, mengajaknya main lempar bola, ya sedikit cuddle lah. Setelahnya ia mulai meracau, entah tentang apa, aku cuma dengar bagaimana nada-nadanya terdengar sangat menyedihkan. Ketika ia murung, aku rasa sangat menyanyanginya. Ingin menawarkan makanan yang lezat itu, tapi aku tidak punya dan tidak tahu harus ambil dimana.
Pria itu terlihat rapi di suatu pagi. Dia membawa koper dan kopi. Tetap dengan bau yang aneh itu, semakin hari sepertinya aku akan semakin membenci bau itu. Lalu ada bau aneh seorang wanita dengan parfum yang aneh juga. Bagaimana bisa ada bau melati di badan wanita itu? aneh. Wanita itu sedikit lari dan memeluk si pria. Entah, di kedua orang aneh ini, matanya berair. Apa mereka iritasi debu juga sepertiku? aneh. Pria itu jongkok menghampiriku dengan matanya yang iritasi itu sambil sedikit berteriak. Entah kenapa aku menyukai saat pria itu mengajakku bicara dengan bahasa yang aku tak mengerti. Lalu ia melambaikan tangan seperti beberapa hari lalu saat ia mungkin sedang membeli makananku. Aku memberikan salam kepadanya "Bawa makanan yang enak yaa nanti!". Wanita itu mengikutinya dan mereka tidak pernah kembali sampai aku merasa kelaparan untuk kesekian kalinya, mungkin 14 kali.
Saat akan merasa lapar yang ke 15 kalinya, ada seseorang datang sambil terlihat seperti mencari sesuatu. "Pergi woyy, ngapain woyy!" lalu mereka pergi. Aku harus menjaga rumah ini sampai si pria dan wanita berbau aneh itu kembali. Sudah merasa lapar yang ke 20 kali. Seseorang datang lagi "Pergi woy!" tapi nadaku sedikit lemas, aku gak bisa berteriak sekencang dulu, rasanya terlalu lemas. "Gak bawa makanan woy?" seorang pria berkacamata yang baunya agak lebih baik lah daripada kopi. Dia menghampiriku dan sepertinya ingin berteman denganku. Tinggal aku tunggu aja sampai dia memberiku makanan yang lebih enak dan lezat. Pria berkacamata itu lalu pergi tanpa pamit. Aneh, aneh, aneh, kenapa ada orang kayak gitu. Selama tidak ada yang masuk rumah, semuanya aman.
Rasa lapar yang ke 36 kalinya. Aku mencari sisa sisa makanan di halaman, aku tidak menemukannya. Rumput rumput yang baunya juga tidak enak itu aku coba makan, ya lumayan lah. Setidaknya aku harus bertahan sampai pria dan wanita yang bau aneh itu kembali.
Entah sudah lapar yang keberapa kalinya. Aku merasa rindu ibuku yang sudah meninggal, aku rindu si pria itu, dan tiba-tiba saja aku rindu bau kopi yang aneh di pagi hari itu. Tapi badanku terlalu lemas untuk bergerak. Mungkin aku sudah terlalu lama hidup di halaman ini.
Datanglah laki-laki berbaju kotak dan lebih muda daripada pria itu. Aku menyuruhnya pergi "Pegi woy!" tapi sekali lagi, kelaparan kali ini tiada tangingannya, apa udah bener aku ngomong barusan. Beda seperti lapar yang lalu. Kali ini aku mencium bau ikan, aku pernah makan ini sebelumnya, benar ini ikan. Laki-laki itu membawa ikan itu kepadaku, tapi aku takut itu beracun. Aku masih ingin hidup di halaman ini yang rumputnya sudah terlalu tinggi. Tapi aku rasa laki-laki itu tulus, tidak ada bau mencurigakan. Aku akan memakannya karena aku lapar, aku ingin hidup di halaman ini. Aku menghampiri tangannya yang sedang memegang ikan sambil memastikan berkali-kali tidak ada bau mencurigakan di ikan itu. Laki-laki terus memaksaku memakannya, aku tidak bisa dipaksa, aku makan ikan itu dengan lahap lalu ia berteriak sambil memelukku. Kenapa laki-laki itu menggonggong?
