CERPEN : Ayam Jangan Bangun Siang, Rejekinya Bisa Dipatok Manusia!

Seorang penyanyi, pekerja kreatif, dan marketing. Lulusan IESP Universitas Jember.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cholis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi ini aku bangun beberapa detik lebih pagi daripada kemarin. Cuaca pagi ini lebih dingin, bulu-buluku juga sudah tidak sehangat dulu. Manusia itu juga, bangunnya sudah tak sepagi dulu. Selama dua tahun terakhir aku dapat rejeki keterlambatan bangunnya mereka. Bayangin, setiap pagi ada seseorang yang tidak berbicara, berjubah putih, wajah datar, tidak ada senyum sama sekali di muka-Nya. Dia selalu hadir di halaman rumah semua orang setiap paginya, membawa serangkul cahaya putih berbentuk seperti telur.
Benar seperti telur, bulat yang tidak sempurna. Saat aku kecil dulu kukira itu adalah telur tempat aku menetas, tapi ibuku bilang "itu adalah berkah kehidupan, anakku, jika kelak kamu diberi berkah itu, kamu harus mengucap syukur terbaik hingga terdengar di seluruh penjuru kota". Aku tidak begitu mengerti saat itu, sekarang sepertinya aku sudah menjadi ahli berkah, apalagi saat manusia itu selalu bangun lebih siang setiap harinya.
Seorang anak kecil terlihat menangis keluar dari rumah pinggiran itu. Dia mungkin seukuran tiga kali tinggiku. Hanya memakai kaos minim dan celana pendek, ia terlihat menangis di pojokan latar halaman rumahnya, tepat disamping kursi malas bapak tua. Iya bapak tua, yang selalu membawa sisa makanan mereka ataupun makanan lunak aneh tapi enak itu.
Anak kecil yang kulihat dari ranting pohon teratas ini, serasa sangat kecil, bahkan mungkin lebih kecil dariku, mungkin karena itu ia cengeng. Ini kali ke 39 aku melihatnya menangis. Sebentarlagi bapak akan keluar dan berteriak, lalu menggendong anak kecil itu masuk ke dalam rumah lagi. Nanti pun, ketika jalanan sudah mulai rame, anak itu akan diantar oleh bapak, dinaikkan becak, dan akan pulang menjelang sore nanti.
Hari ini aku dapat dua telur berkah dari sosok bercahaya itu. Aku membuka mata terlebih dahulu daripada dua saudaraku, satunya perempuan, satunya laki-laki. Si perempuan lebih suka jalan-jalan melihat pejantan sebelah. Si jago ungu, badan tegap, lebih dari 50 kali bangun pagi lebih dariku. Memang bikin iri, tapi aku juga punya sejumput kekaguman padanya. Andai aku petelur, mungkin kita bisa bangun pagi dan menikmati cahaya berkah berdua, bertelur setiap malam, berkeluh kesah bersama, berbagi makanan, dan banyak hal.
Sudahlah, takdir akan tetap sama, dan aku akan bangun lebih pagi daripada manusia di rumah pinggiran itu. Sampai melantur begini, sudah sore, anak kecil akan segera pulang dan menangis lagi. sudah lama di atas pohon, aku akan turun mencari serpihan berkah yang terjatuh dari genggaman-Nya. Dulu ibu juga bilang bahwa "Berkah ini bukan suatu hal yang harus kamu tunggu terus-menerus setiap harinya, kadang kamu perlu belajar pada jejak kebaikannya", sampai sekarang, sekecil apapun jejak itu akan terus kucari di setiap langkah-Nya. Sesekali kuikuti kemana ia berjalan, akan terus makan percikan cahaya itu di tanah, kadang juga ada sisa-sisa makanan yang masih dimakan juga. Sangat menarik, berkah dan makanan di satu jalur.
Anak kecil datang bersama bapak. Sebentarlagi mereka akan masuk ke dalam rumah, dan anak kecil itu akan menangkapku untuk dimasak. "Dasar manusia murka! Kamu tidak boleh memakanku karena kamu bangunnya lebih siang!". Walaupun sudah ratusan kali dikejar dan aku berhasil lolos, tetap saja rasa tertangkap itu menakutkan. Ibuku ditangkap dan disantap malam tahun baru kemarin, rasanya takut, tapi aku akan tetap mencari berkah-Nya di halaman ini, takut tidak kebagian di halaman lain. Saudaraku pun begitu, semuanya memilih untuk menetap di sini, setidaknya bapak baik telah memberi kami makan, pun beberapa waktu setelah makan ibu kami.
Sudahlah, hari sudah larut, aku rasa sudah mengelilingi semua jejaknya. Malam ini aku akan bermalas-malasan hingga besok, harus bangun pagi untuk mencuri berkah dari manusia-manusia itu. Aku akan mencurinya tiap hari, sampai kelak nanti aku dimakan, mereka tau rasanya berkah yang selama ini kukumpulkan. Selamat malam pagi, sampai bertemu lagi malam.
