Cerpen: Miaw Miaw Mi Aw Mi Amor

Seorang penyanyi, pekerja kreatif, dan marketing. Lulusan IESP Universitas Jember.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Cholis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada tikus! tapi capek, kenapa tikus itu selalu lari? memang dia pikir bisa lebih cepat dari aku? mau menyaingiku ha?. Sebentar, apa aku ketiduran lagi? tapi sepertinya aku mencium bau makanan. "sudah waktunya makan ta? hallo?" aku berjalan ke sumber bau. Masih pagi, suasana terlalu hangat sekali untuk makan.
Aku meregangkan kakiku sambil sedikit mengantuk, tubuhku tidak bisa berhenti berjalan ke sumber bau itu. Aku lewat kamar temanku yang seperti biasa berantakan. Sangat ceroboh dan kotor. Kenapa dia bisa hidup seperti itu? tapi itu bukan urusanku. Di depan sudah belokan terakhir, aku yakin itu tempat biasa temanku memasak dan makan bersama ibunya.
"Makan ya? aku kok bau makanan? kalian ngapain sih?" mereka seperti bermain api dan sepertinya lagi, mereka bertengkar dengan besi. "aku laperr, tapi ini masih pagi banget, tapi aku mau makan itu, aku nanti mau jalan-jalan soale, kasih aku tenaga, temanku," yap! temanku mendengarnya, ia menghampiriku dengan rambut bondol yang diikat, baju putih dan celana pendek favoritnya.
Dia mulai meracau hal yang tidak aku mengerti, tapi senyumnya manis sekali dan aku merasakan kebaikan di setiap sentuhannya. "kamu temanku kan? kamu bakal ngasih aku makan kan?" kataku sambil mengelus kakinya yang tidak berbulu sepertiku. "aku nanti soale mau ketemu sama mas-mas ganteng di perempatan perumahan deket pos, kasih makan ya".
Ibu berbalik, aku lihat besi itu adalah sumber baunya. "ternyata ibu kalah dan besi yang menang" ujarku. Kami bertiga menuju meja untuk menemaniku makan. Pasti. Tidak salah lagi, mereka adalah temanku. Aku berlari naik ke kursi, tapi dibalikin ke lantai, sampai tiga kalinya aku bingung "loh, kamu mau nemenin aku makan kan? kok ndak boleh naik woy"
Temanku mengambil makanan yang dimenangkan besi itu dan memberikannya di tempat makanku. "ternyata kalian tidak ingin menemaniku makan" belum sempat aku mengucapkan itu, tempat makanku sudah sampai di depanku, yap! aku tak mengucapkannya dan langsung makan enak. Sarapan pagi hari memang nikmat! aku rasa siap mencari suami di luaran sana, aku ingin punya anak lagi!.
Temanku dan ibunya duduk di kursi yang tinggi itu. Entah, apa yang mereka bicarakan. Makananku terlalu enak untuk memikirkan urusan temanku. "nyam nyam kenyang" saatnya membersihkan hati dan diri ini sebelum jalan-jalan ke perempatan perumahan. Beruntung aku punya lidah yang hebat, bisa garuk kalau gatal, bisa rapihin bulu-buluku yang coklat nan cantik ini".
"sudahhhh, aku siap berangkat" ujarku, tapi temanku dan ibunya masih berbicara. Mungkin mereka sedang membicarakan untuk makanan nanti malam. "aku berangkat dulu" kataku sambil sedikit terlalu kenyang. Rasanya ingin bermalas-malasan, tapi perempatan menungguku. Aku harus berjalan bagaimanapun caranya.
Aku berjalan, lewat kamar temanku yang berantakan seperti saat sebelumnya aku lewat. Lalu aku lewat kamar ibu temanku. Rapi, benar-benar rapi, sampai aku ingin rebahan di sana. iya aku ingin. sangat ingin. Aku rebahan, sambil membersihkan kakiku. yap, itu hanya alasan agar aku bisa rebahan sebentar di kasur ibunya temanku yang rapi dan baunya enak. Tidak seperti temanku. Sudah hampir berbulan-bulan lalu, kamarnya selalu berantakan. Tapi ya karena dia temanku, aku akan berkunjung ke kamarnya setiap hari untuk menyapanya.
Sebagai sesama perempuan, walaupun dia tidak berbulu. Dia adalah temanku, dia adalah bagian dari koloniku, aku tidak akan membiarkan kucing lain datang kepadanya. Kalaupun ada, dia harus kukencingi dulu.
Perempatan! aku hampir lupa perempatan! aku jalan lagi meninggalkan kasur yang rapi itu. Melewati pohon pohon kecil dan jalan yang tidak bertuan dan tidak bertanah. Kucing di perumahan ini sangat sedikit, tidak sebanyak di pasar. Lebih tampan juga daripada kucing pasar yang kasar-kasar itu.
Sesampainya di perempatan, bau kucing itu tidak tercium. Kucing itu, kucing oren yang selalu menyapaku, bulunya lebat, badannya gagah, dia bilang dia ingin menjadi bapak dari anak-anakku nanti. Aku luluh, benar-benar luluh. Aku sudah lama tak mengandung, terakhir saat itu terjadi, anak-anakku dibuang oleh temanku, ke temannya, pernah juga ke teman ibunya. Entah bagaimana anakku hidup disana, semoga tidak tidur di kamar yang lebih berantakan. Sedangkan bapaknya pun sudah babak belur di gang belakang perumahan, dikeroyok kucing kampung karena mengganggu teman mereka. Semua itu membuatku trauma dengan calon bapak anak-anakku. Apa yang dipikirkan kucing laki-laki? Dia tidak bisa meninggalkanku begitu saja. Dia tidak bisa memaksaku terus mengandung anaknya. Anak yang aku jaga sendiri dengan temanku dan ibunya, akan selalu dibuang, dan aku tidak bisa marah. Sampai dimana kucing laki-laki di perempatan ini? terlalu mengantuk aku menunggunya di sini. Sepertinya aku akan pulang saja, melihat temanku dan ibunya "apa mereka masak yang enak lagi ya?"
"Ndak masak ta? kok gak ada bau enak? biasanya masak siang-siang gini" tapi tidak ada jawaban apapun dari mereka. Aku lewat pintu kamar temanku yang berantakan itu, ia tertidur di kamarnya yang sepertinya lebih berantakan daripada tadi pagi. Mungkin temanku butuh waktu sendiri. Aku pergi lewat pintu kamar ibu temanku, tapi tidak ada orang. Aku akan menunggu di dekat tempat makanku saja, mungkin ibu sedang pergi.
"loh! aku ketiduran! apa ndak ada yang masak ini?" tapi aku mendadak mencium bau banyak makanan di depan. Saat aku ingin ke depan, ternyata banyak teman dari temanku, dan mungkin teman dari ibu temanku. Sepertinya mereka membawa banyak makanan "mana makanane? minta woy", yap benar sekali. Banyak tas-tas berisi makanan di depan, aku akan berada di dekatnya, biar orang-orang tidak melupakan keberadaan perutku yang mungil ini.
Semakin waktu berlalu, kenapa semakin banyak orang datang ke rumah membawa makanan? apa temanku akan menikah? aku hanya bisa lihat orang berlalu-lalang di dalam rumah. Ada yang masuk bawa makanan, ada yang keluar juga bawa makanan. Beberapa orang membawa beras dan gula. Lalu orang orang duduk rapi berjajar seperti rerumputan di lapangan perumahan. Aku juga di sana, aku lihat orang-orang duduk melingkar dan ada kain putih di tengah yang baunya agak aneh. Temanku yang awalnya cuma duduk dan tidak melihatku, lalu menangis. Mungkin temanku habis makan makanan yang pedas, yang pernah aku makan waktu itu, bikin nangis aja.
Tiba-tiba orang-orang berdiri dan berteriak, aku lari ke belakang, takut semua ini adalah salahku, apa aku terlalu banyak makan tadi pagi? seorang anak kecil dengan kupu-kupu di rambutnya datang padaku dan memberi semangkok besar tulang ikan. Tidak terlalu spesial, tapi aku akan tetap memakannya karena aku lapar, dan akan selalu lapar.
Aku makan dengan lahap, sampai tulang yang renyah itu habis di mangkok. Eh, tapi tumben, aku dikasih makan di tempat makan yang aneh ini. Mangkok ini kan milik ibunya temanku. Apa ia tidak takut dimarahi ibu. Ibu ini kalau marah biasanya melempariku dengan baju temanku yang kotor, sangat menjijikkan, aku akan menghindar sekuat tenaga. Sehabis makan, aku keluar ke halaman, melewati orang-orang yang ramai itu, aku jongkok di pasir untuk membuang keikhlasan temanku dan ibunya itu padaku, toh aku juga pernah melihat mereka jongkok juga untuk membuangnya, walaupun tidak di pasir sepertiku.
Langit mulai gelap, sedang aku hanya rebahan di halaman sambil melihat temanku menangis entah karena apa. Orang-orang bukannya tambah sedikit, malah semakin banyak berdatangan membawa makanan. Baju mereka rapi, rambut mereka ditutup barang aneh seperti botol minuman. Putih-putih tadi yang ada di tengah kerumunan pun mulai dibawa pergi. Baunya aneh, aku akan pergi ke dalam lagi untuk mencari kupu-kupu itu. Temanku mengikuti putih itu, aku gak mau ikut walaupun diajak, baunya aneh, mending makan aja.
Si kupu-kupu itu tidak ada, sudah aku cari dari baunya, dia udah pergi. Di keramaian yang sedikit berkurang itu, aku rebahan di kamar ibu sambil melihat-lihat semuanya tertata rapi. Aku rasa aku mencintainya, seperti cinta kucing perempatan itu padaku, aku mulai merasakannya. Lemarinya tertutup, tidak ada barang di atasnya, semua barang masuk di dalam kardus, tidak ada yang berserakan. Sambil sedikit mengantuk, aku lihat meja jahitnya juga tidak kotor. Tapi "kok ada tikus?!"
